Foto : Ilustrasi
Oleh : Camilla Luthfiah Putri
Klikwarta.com - Betapa syukurnya aku dipertemukan dengan seseorang sepertimu. Bukan karena kita lahir dari rahim yang sama, atau memiliki nama belakang yang serupa. Tapi karena kamu hadir, menetap, dan menjadi bagian penting dari hidupku. Kamu bukan saudara sedarah, tapi kamu adalah keluarga, pilihan terbaik yang semesta berikan.
Awalnya, kita hanya dua orang asing yang duduk di bangku kelas yang sama. Aku yang terlalu pendiam, dan bertemu dengan kamu yang terlalu ramai. Tapi waktu mengajari kita bahwa perbedaan bisa menjelma jadi kehangatan. Kamu datang bukan dengan janji, tapi dengan tindakan. Menemaniku saat aku terpuruk, menertawakanku saat aku ceroboh, dan menenangkan aku saat dunia terlalu gaduh.
Aku bukan pribadi yang mudah terbuka. Terutama dalam ruang-ruang baru, tempat segala hal terasa asing dan membingungkan. Saat duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Kejuruan, aku masih merasa menjadi bagian yang terpisah. Tahun sebelumnya, kami menjalani pembelajaran jarak jauh karena pandemi, tak ada interaksi nyata, tak ada perkenalan yang sesungguhnya.
Lalu hadir ia Arsi Loviana, atau yang akrab dipanggil Acii, panggilan kesayangan yang membuatnya berseri setiap kali disebut.
Aku tak pernah menyangka bahwa pertemuan acak di ruang kelas bisa menghadirkan ikatan sedalam ini. Awalnya, kita hanya duduk bersebelahan. Tidak ada percakapan yang berarti, hanya sapaan seadanya. Namun, waktu mempertemukan kami dalam banyak hal. Dari obrolan ringan seputar tugas, hingga pembicaraan panjang tentang hidup dan luka masa lalu.
Yang membuatku terkejut adalah bagaimana ia begitu tulus membuka diri. Ia sosok yang ramah, periang, dan penuh semangat. Di balik gurauannya yang sering kali ringan, ia menyelipkan perhatian yang hangat. Tanpa ia sadari, kehadirannya mulai menjadi pelipur dalam sunyiku.
Satu peristiwa yang hingga kini membekas dalam ingatan adalah saat hari ulang tahunku tiba. Tidak ada yang mengucapkan, tidak ada yang mengingat. Aku telah terbiasa akan hal itu. Namun tiba-tiba, ia berdiri dari bangkunya, memanggil namaku, lalu memberikan sesuatu yang ia bawa dalam sebuah kantong kecil yaitu sebuah kue sederhana tapi berkesan. Tatapannya jenaka, tetapi tulus. "Selamat ulang tahun, Milla" katanya pelan, nyaris berbisik, tetapi menggetarkan.
Aku terdiam. Bukan karena kue yang ia bawa, melainkan karena rasanya rasanya diingat, dihargai, disayangi. Ia bukan siapa-siapa bagiku, tetapi ia memilih untuk menjadi seseorang yang peduli. Sejak hari itu, aku tahu ia berbeda dari teman lainnya.
Hari-hari bersamanya dipenuhi dengan kehangatan yang sederhana. Ia tak pernah membiarkanku kelaparan saat aku tengah berhemat, selalu menyelipkan makanan. Ketika aku lelah, ia meminjamkan telinga, bukan untuk menasihati, melainkan untuk mendengar.
Kami tertawa bersama, menangis diam-diam, dan saling menopang ketika dunia terlalu sunyi. Ia bukan hanya sahabat dalam senyum, tetapi juga penguat dalam luka. Kami memang tidak selalu sependapat. Ada kalanya kesalahpahaman merenggangkan jarak. Namun, ia selalu lebih dahulu mengulurkan tangan. Ia percaya bahwa pertemanan bukan tentang siapa yang benar, tetapi siapa yang tidak menyerah untuk saling memahami. Dan di situlah aku belajar tentang kedewasaan.
Kini, kami tidak lagi duduk di bangku yang sama. Ia melanjutkan kehidupannya, aku pun demikian. Namun, ada hal yang tetap tinggal, rasa saling memiliki yang tidak dibatasi ruang dan waktu.
Meski kesibukan datang, kami tetap saling mencari. Ketika ia menerima gajinya, ia mengajakku makan bersama. Bukan karena ia berkewajiban, melainkan karena ia ingin berbagi bahagia. Dan di sanalah, aku merasa seperti keluarga bukan karena hubungan darah, melainkan karena perhatian yang tidak pernah putus.
Ia bukan sekadar teman. Ia adalah rumah. Tempat aku bisa pulang tanpa harus menjadi apa-apa. Di hadapannya, aku bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng, tanpa pura-pura kuat. Ia tahu saat aku hanya diam, itu bukan berarti tidak peduli, melainkan terlalu penuh untuk diucapkan. Dan ia mengerti, tanpa perlu dijelaskan.
Dalam perjalanan hidup, perjuangan terbesar adalah membuka hati untuk orang lain dan bertahan dalam kesunyian hingga datang seseorang yang mengubah segalanya.
Kini, ketika aku menengok kembali perjalanan kami, aku merasa bersyukur. Tuhan menghadirkan seseorang sepertinya dalam hidupku dengan cara yang paling sederhana, namun memberi dampak yang luar biasa. Jika boleh menyampaikan satu hal kepadanya, aku ingin berkata Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah hadir, menetap, dan memilih untuk tetap tinggal. Kita memang tidak sedarah, tetapi kamu adalah keluarga.








