Foto : Khaalish Azzah Luthfiyyah (Dok pribadi)
Oleh : Khaalish Azzah Luthfiyyah
Klikwarta.com - Di salah satu sudut kantin kampus, dua mahasiswa tampak adu suara karena rebutan tempat duduk. Salah satunya bahkan melontarkan kata kasar. Teman mereka hanya diam, seperti menganggap itu hal biasa. Di dunia perkuliahan yang katanya tempat mendewasakan diri, pemandangan seperti ini sudah sering terjadi.
Di kelas, ada mahasiswa yang main HP saat dosen bicara. Di perpustakaan, ada yang duduk sambil meninggalkan sampah makanan. Di jalanan kampus, suara motor digeber-geber tanpa peduli orang sekitar. Semua itu bukan soal nilai akademik, tapi soal budi pekerti.
Budi pekerti bukan sekadar sopan santun, tapi tentang bagaimana memperlakukan orang lain, menghormati aturan, dan menjaga sikap. Sayangnya, banyak mahasiswa yang mungkin menganggap itu bukan hal penting. Yang penting lulus tepat waktu, IPK tinggi, dan aktif organisasi.
Di beberapa kampus, memang sudah ada program pendidikan karakter. Tapi pelaksanaannya sering dianggap formalitas. Misalnya, seminar tentang etika yang dihadiri hanya karena wajib, atau mata kuliah yang dinilai kurang relevan. Padahal masalahnya bukan di materinya, tapi di penerapan sehari-hari.
Seorang petugas kebersihan kampus pernah bercerita, ia sering mendapati mahasiswa buang sampah sembarangan, bahkan saat tempat sampah ada di dekatnya. “Kadang saya lagi ngepel, mereka malah jalan cepat-cepat dan bikin lantai kotor lagi,” katanya. Ia tidak marah, tapi merasa sedih.
Dosen pun kadang mengalami hal serupa. Ada mahasiswa yang jarang mengucap salam, memanggil nama begitu saja tanpa embel-embel “Pak” atau “Bu,” atau mengirim pesan dengan kalimat yang tidak sopan. Semua itu terjadi di lingkungan pendidikan tinggi.
Padahal, kampus bukan cuma tempat cari ilmu, tapi juga tempat belajar hidup. Kalau di masa kuliah tidak terbiasa bersikap baik, bagaimana saat sudah masuk dunia kerja nanti? Dunia kerja butuh orang yang bisa kerja sama, tahu etika, dan punya rasa empati.
Beberapa kampus sudah mulai mencoba menanamkan nilai-nilai ini lewat kegiatan non-akademik. Ada pelatihan kepemimpinan yang mengangkat soal etika, mentoring dari kakak tingkat, sampai pengabdian masyarakat yang mengajarkan nilai empati. Tapi lagi-lagi, semua tergantung kesadaran masing-masing mahasiswa.
Mahasiswa bernama Diki, misalnya, mengaku baru merasa pentingnya budi pekerti setelah ikut kegiatan KKN. “Pas di desa, saya harus nahan emosi, belajar ngomong sopan ke warga. Ternyata gak gampang, tapi bikin saya sadar kampus gak ngajarin itu secara langsung,” katanya.
Budi pekerti mungkin gak ada di soal ujian atau nilai di transkrip, tapi terasa di setiap interaksi. Di tempat duduk kelas yang dibagi rata, di antrean panjang di koperasi, di obrolan santai dengan teman sekelas. Semua itu bagian dari pendidikan juga.
Kalau ditanya apa yang membedakan mahasiswa dengan sekadar pencari gelar, jawabannya mungkin ada di budi pekerti. Karena ilmu tinggi tanpa sikap baik cuma bikin pintar, tapi gak bikin benar.








