Ilustrasi Perkemahan (Pexels.com/@rrinna)
Oleh: Sri Latifah Nasution
Sore itu dengan tergopoh-gopoh aku melempar ranselku ke tumpukan ransel di dekat sekelompok orang yang mengenakan seragam pramuka dan sudah mulai membuat barisan.
Aku segera membantu merapikan barisan tersebut. Memberi aba-aba mulai dari lencang depan hingga berhitung untuk mengetahui jumlah pasti anggota kelompokku.
Setelahnya, aku kembali ke posisiku di kanan barisan karena aku diamanatkan untuk menjadi pemimpin regu. Aku tidak sabar menunggu acara dimulai.
Acara ini sudah aku tunggu-tunggu sejak lama, yaitu Persami (Perkemahan Sabtu Minggu). Memang Sekolahku sudah beberapa kali mengadakan Persami, namun, kali ini terasa berbeda karena diadakan di sekolah lain dan bersama anggota pramuka sekolah lain juga.
Dua orang laki-laki dan seorang perempuan yang sudah mulai berumur datang ke depan barisan kami. Mereka juga mengenakan seragam pramuka. Tiga orang berbeda usia itu adalah kakak pembina kami.
Mereka datang untuk memberi pengarahan tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Ransel-ransel yang bertumpuk tadi sudah kami pindahkan ke ruangan kelas yang akan menjadi tempat kami tidur malam ini.
Meja-meja dan kursi yang ada di kelas kami geser dan tumpuk di salah satu sisi kelas agar kami bisa meletakkan barang-barang dan beristirahat sebentar.
Selepas Asar, upacara pembukaan persami dimulai. Karena pembina sedang ada urusan, maka beberapa kali dilakukan geladi lebih dulu.
Setelah upacara selesai dilanjutkan dengan pertunjukan yel-yel dari setiap kelompok kemudian bersiap untuk ibadah salat Maghrib.
Salah satu tugas yang diberikan pada kami adalah mengisi Syarat Kecakapan Umum (SKU). Buku SKU itu harus ditanda tangani oleh kakak pramuka yang bersangkutan.
Aku memimpin kelompokku untuk mencari kakak-kakak pramuka yang menangani setiap persyaratan di buku SKU pramuka tersebut. Terkadang ada kakak pramuka yang usil menyuruh kami untuk bernyanyi dan menari lebih dulu sebelum menguji kami sesuai petunjuk yang ada di buku.
Waktu untuk mencari tanda tangan selesai. Selanjutnya kami disuruh untuk duduk bersama di lapangan. Seorang kakak pramuka dengan baju yang dipenuhi berbagai emblem berdiri di depan sambil memegang mikrofon. Aku kagum melihat banyaknya emblem di bajunya.
Setelahnya dia kemudian bercerita tentang sejarah awal adanya kepramukaan serta arti dari setiap simbol yang ada di seragamnya tersebut.
Tengah malam diadakan renungan malam. Tujuannya adalah untuk mengintropeksi diri masing-masing. Kami membuat barisan melingkar mengelilingi pionering tiang bendera yang dibuat oleh kakak-kakak pramuka tingkat penegak.
Sebelum acara renungan malam dimulai, diadakan pengucapan Dasa Darma Pramuka terlebih dahulu dan aku terpilih sebagai pemimpinnya. Kami semua saling berpegangan tangan.
Suasana begitu hening, yang terdengar hanya helaan nafas dan suara jangkrik. Setelah dikomandoi untuk memulai, dengan lantang aku mulai mengucapkan isi Dasa Darma Pramuka.
Baru beberapa poin yang aku ucapkan, tiba-tiba teman di sampingku terjatuh. Matanya membelalak menilik ke sana ke mari dan sedikit memerah. Aku mencoba membantunya untuk berdiri, namun, kakak pembina segera menghentikan tindakanku. Dia menyuruh kami untuk menjauh sebentar.
Aku baru paham kalau temanku yang jatuh tadi kesurupan setelah dijelaskan oleh kakak pramuka penegak yang berbaris di samping kelompokku. Suasana kembali kondusif. Temanku yang kesurupan tadi sudah dibawa ke ruangan kelas untuk ditangani.
Kami kembali membentuk barisan. Aku pun mengulangi lagi pengucapan Dasa Darma Pramuka yang tertunda tadi. Namun, belum beberapa poin yang terucap, beberapa anggota lain kembali berjatuhan. Ada yang menangis tiba-tiba, ada pula yang mendadak senyum-senyum sendiri.
Suasana seketika riuh. Anggota pramuka yang masih berdiri tak berhenti merapal doa. Karena takut saling menularkan satu sama lain, kakak pembina menghentikan acara. Dia menyuruh kami untuk segera masuk ke ruangan tempat istirahat masing-masing, sementara mereka mengurus anggota yang kesurupan tersebut.
Semalaman aku tidak bisa tertidur. Aku takut kalau teman-temanku yang berada satu ruangan denganku juga mengalami hal serupa seperti tadi. (SN)








