Dukungan Sarmuji Maju Pilgub Jatim Mengalir, Kader Senior Ingatkan Golkar Tak Salah Pilih

Senin, 25/07/2022 - 23:33
Kader Senior Partai Golkar Jatim, Freddy Poernomo

Kader Senior Partai Golkar Jatim, Freddy Poernomo

Klikwarta.com, Jatim - Mengalirnya dukungan ketua DPD Partai Golkar Jatim, Sarmuji untuk maju Pilgub 2024, bukan satu-satunya pilihan terbaik. Mengingat beredar isu duet Khofifah Indar Parawansa - Sarmuji dalam Pilgub Jatim pada tahun 2024 mendatang.

Kader senior DPD Golkar Jawa Timur Freddy Purnomo mengingatkan agar partainya tidak salah pilih mengusung kadernya maju di Pilgub. Mengingat masih banyak kadet atau sosok yang berkompeten untuk dapat dicalonkan maju Pilgub Jatim pada 2024. Bahkan secara tegas, sosok yang diusung tak harus pimpinan partai.
 
Freddy Poernomo menegaskan, masih banyak kader Partai Golkar yang berkompeten dan lebih layak daripada Sarmuji untuk maju mendampingi Khofifah dalam Pilgub Jatim 2022.

Freddy lantas mencontohkan Wakil Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo. Tak hanya itu saja, tokoh transisi di Indonesia juga ada banyak dan layak digandengkan dengan Khofifah. Namun baginya, yang pasti tokoh tersebut mampu menjaga keberagaman

"Siapapun boleh diajukan dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Intinya itu keberagaman tetap harus dijaga. Tokoh dari (latar belakang) akademisi juga ada, banyak stok. Banyak kader pilihan, Partai Golkar masih banyak stok," katanya, Senin 24 Juli 2022, di Surabaya.

Freddy membeberkan syarat sosok yang digadang maju dalam Pilgub Jatim mendampingi Khofifah itu memiliki nilai ketokohan. Kedua, sosok tersebut juga mampu mendongkrak elektabilitas Partai Golkar.

"Saya kira pertama punya nilai ketokohan, kedua bisa mendongkrak elektabilitas. Tapi kalau saran saya pribadi, lebih mengutamakan Pileg dan Pilpres dulu. Nanti setelah Pileg-Pilpres jelas, baru kita running untuk persiapan Pilkada," tuturnya.

Di Jatim sendiri, kata Freddy, tak sedikit kader Partai Golkar yang layak untuk diduetkan dengan Khofifah dalam Pilgub tahun 2024. Seperti di antaranya, Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko.

"Jadi memang kalau saya mau jujur akhir-akhir ini Golkar kehilangan tokoh. Saya justru menyarankan untuk Pilkada itu model konvensi yang pernah dilakukan Akbar Tanjung," pintanya.

Dia mengatakan, walaupun saat itu Akbar Tanjung merupakan Ketua Umum Golkar, namun semua potensi yang dimiliki partai dimunculkan. Makanya melalui konvensi yang digagas saat itu, muncul nama-nama tokoh yang berkompeten untuk diusung.

"Saat itu muncul nama Surya Paloh, Yusuf Kalla, Prabowo Subianto dan akhirnya Pak Wiranto yang terpilih. Akhirnya kan elektabilitas partai juga terdongkrak menang. Karena yang kita utamakan partai dulu," papar dia.

Freddy pun berkaca pada kontestasi demokrasi di negara maju seperti Amerika Serikat. Ia menyebut, meski Hillary Clinton dan Barack Obama bukan pimpinan partai, namun keduanya dapat diusung dalam kontestasi pemilihan presiden.

"Hillary Clinton dan Barack Obama bukan seorang pemimpin partai. Dia bertarung sehat, akhirnya yang terpilih saat itu Obama. Seharusnya yang dipakai begitu," kata dia mencontohkan.

Oleh sebabnya, Freddy kembali menegaskan, bahwa untuk memanage sebuah partai itu tidak perlu terlalu statis. Menurut dia, hal tersebut berkaca dari masa kepemimpinan Ketua Umum Golkar, Akbar Tanjung.

"Kita belajar dari kepemimpinan Akbar Tanjung. Kita tidak memaksa pimpinan partai untuk maju. Tokoh yang di dalam itu didorong untuk keluar supaya tampil membesarkan partai," pungkasnya. 

(Pewarta: Supra)

Berita Terkait