Ilustrasi. AI
*Ledakan beruntun guncang ibu kota Iran, target militer strategis disasar
Klikwarta.com, TEHERAN - Serangan udara intensif yang dilancarkan koalisi Israel dan United States menghantam ibu kota Iran, Teheran, pada Senin (9/3). Gelombang serangan ini disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.
Warga di berbagai wilayah Teheran melaporkan mendengar puluhan ledakan dalam waktu singkat. Asap tebal terlihat membumbung di beberapa titik, sementara sirene darurat berbunyi di tengah kota.
Menurut sumber militer, serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis, termasuk pusat komando militer, instalasi pertahanan udara, serta fasilitas yang diduga terkait dengan program rudal Iran. Operasi ini disebut sebagai bagian dari upaya untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran secara menyeluruh.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa sistem pertahanan udara telah diaktifkan untuk menghadapi serangan tersebut, meskipun sejumlah target dilaporkan mengalami kerusakan signifikan. Otoritas setempat juga mengonfirmasi adanya korban jiwa, namun jumlah pasti masih dalam proses verifikasi.
Serangan terhadap Teheran menandai peningkatan eskalasi konflik yang signifikan, dengan fokus operasi kini langsung menyasar pusat pemerintahan dan militer Iran. Para analis menilai langkah ini menunjukkan intensitas perang yang semakin tinggi dan berisiko memperluas konflik.
Di sisi lain, Iran kembali meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Israel. Sirene peringatan terdengar di beberapa kota, sementara sistem pertahanan udara Israel diaktifkan untuk mencegat proyektil yang masuk.
Eskalasi ini semakin meningkatkan kekhawatiran internasional, terutama terkait potensi meluasnya konflik ke kawasan yang lebih luas di Timur Tengah. Jalur energi global di sekitar Strait of Hormuz juga menjadi perhatian utama karena risiko gangguan distribusi minyak dunia.
Hingga Senin malam, serangan udara dilaporkan masih berlangsung secara sporadis, sementara situasi keamanan di Teheran tetap tegang. Komunitas internasional kembali menyerukan penghentian kekerasan dan mendesak dimulainya dialog diplomatik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. (*)








