Dampak Masa Pandemi terhadap Gangguan Kesehatan Mental

Selasa, 12/07/2022 - 19:02
Foto : Tirto Id

Foto : Tirto Id

Penulis : Fini Nola Rachmawati

Di antara jutaan milenial di dunia ini, tidak mungkin tanpa masalah bukan? Seperti masalah ekonomi, sosial budaya, politik, agama, pendidikan dan kesehatan. Salah satunya adalah gangguan kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan mental adalah kondisi serius yang memengaruhi pemikiran, emosi, dan perilaku seseorang. 

Di masa pandemi ini, banyak milenial yang merasa resah dan bosan karena harus #dirumahaja akibat pembatasan sosial yang diberlakukan oleh kebijakan pemerintah. Hampir 97% generasi millennial menderita penyakit mental. Berikut beberapa faktor yang menyebabkan kaum milenial mengalami gangguan kesehatan mental:

1. Mengalami diskrminasi dan bullying yang terjadi di dunia maya dan dunia nyata.

2. Stres berat dalam waktu yang lama.

3. Terisolasi dari kehidupan sosial. Salah satu contoh, terpapar Covid-19 sehingga harus   mengasingkan diri dari orang-orang

4. Mengalami kehilangan atau kematian seseorang yang sangat dekat .

5. Pengaruh narkoba dan minuman keras yang dapat merusak otak.

Ciri-ciri orang yang terkena gangguan kesehatan mental ini  adalah, suka mengonsumsi obat hanya untuk kesenangan sendiri, memiliki emosi yang berubah-ubah,  pola makan dan pola tidur berubah, merasa sedih, stres, dan depresi secara terus menerus dalam jangka waktu lama, munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup,dan menarik diri dari lingkungan sosial. 

Menurut Pieper dan Uden (2006) mengatakan bahwa kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang realistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan dan kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

Selain itu, World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

Tingkat kesehatan mental juga dapat mempengaruhi peran para Milenial dalam menghadapi bonus demografi. Bonus demografi sendiri adalah, masa dimana suatu Negara memiliki penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) yang lebih banyak dari pada penduduk usia non produktif (dibawah 15 dandiatas 64 tahun). Periode bonus demografi di Indonesia dimulai dari tahun 2020-2035. Momentum ini dapat menjadi peluang bagi negara kita, dan juga dapat menjadi boomerang bagi negara kita. Hal penting yang harus dipersiapkan adalah Sumber Daya Manusia, khususnya mengenai kesehatan mental SDM. jika tidak disiapkan dengan baik, kemungkinan besar bukan peluang yang akan kita dapatkan melainkan bencana.

Kesehatan mental anak-anak selama COVID-19

Tak dapat dipungkiri, pandemi telah berdampak sangat besar. Menurut temuan awal dari survei internasional terhadap anak-anak dan orang dewasa di 21 negara yang dilaksanakan oleh UNICEF dan Gallup – hasilnya disajikan sekilas di dalam laporan The State of the World’s Children 2021 – terdapat median 1 dari 5 anak muda usia 15-24 tahun yang di dalam survei yang menyatakan mereka sering merasa depresi atau rendah minatnya untuk berkegiatan.

Memasuki tahun ketiga pandemi COVID-19, dampak pandemi terhadap kesehatan dan kesejahteraan mental anak-anak dan orang muda terus memburuk. Data terkini dilansir dari  UNICEF menunjukkan bahwa, secara global, setidaknya 1 dari 7 anak mengalami dampak langsung karantina, sementara 1,6 miliar anak terdampak oleh terhentinya proses belajar mengajar. Gangguan terhadap rutinitas, pendidikan, rekreasi, serta kecemasan seputar keuangan keluarga dan kesehatan membuat banyak anak muda merasa takut, marah, sekaligus khawatir akan masa depan mereka. 

Dampak terhadap masyarakat

Diagnosis gangguan mental, seperti ADHD, kecemasan, autisme, bipolar, gangguan perilaku, depresi, gangguan makan, disabilitas intelektual, dan skizofrenia dapat menimbulkan kerugian signifikan terhadap kesehatan, pendidikan, masa depan, dan kemampuan meraih pendapatan dari anak-anak dan orang muda.

Faktor positif

Laporan di atas juga menyebutkan serangkaian faktor, seperti genetika, pengalaman hidup, dan lingkungan sejak dini, termasuk pola asuh, pendidikan, kualitas hubungan interpersonal, paparan terhadap kekerasan atau penganiayaan, diskriminasi, kemiskinan, krisis kemanusiaan, dan kondisi darurat kesehatan seperti pandemi COVID-19, yang turut membentuk dan memengaruhi kesehatan mental anak untuk sepanjang hidupnya.

Sementara itu, ada pula faktor-faktor yang berpengaruh positif seperti lingkungan pengasuhan yang penuh kasih sayang, sekolah yang aman, dan interaksi positif dengan teman sebaya. Semua ini dapat menurunkan risiko terjadinya gangguan mental, akan tetapi laporan juga memeringatkan tentang beberapa hambatan penting, termasuk stigma dan kurangnya pendanaan, yang membuat anak-anak tidak mengalami kesehatan mental yang positif ataupun mengakses dukungan yang dibutuhkan.

Tips membantu menjaga kesehatan mental remaja selama pandemi

Sebenarnya, dampak mental remaja selama pandemi ini bisa diminimalisir dengan berbagai upaya yang juga dilakukan oleh orangtua. Untungnya, ada banyak hal yang bisa Anda lakukan sebagai orangtua untuk mendukung kesehatan mental anak berusia remaja.

Berikut ini beberapa tips yang mungkin membantu Anda dalam menjaga kesehatan mental remaja menurut WHO :

• mempertahankan rutinitas harian atau membuat aktivitas baru

• berdiskusi soal COVID-19 dengan anak secara jujur dan bahasa yang dimengerti

• mendukung remaja belajar di rumah dan menyediakan waktu untuk bermain

• membantu anak mencari cara positif mengungkapkan perasaan, seperti menggambar

• membantu remaja tetap bersosialisasi dengan teman dan anggota keluarga via daring

• memastikan anak tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bermain gadget

• mengajak remaja mencari hobi yang kreatif, seperti bernyanyi, memasak, atau menulis

Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi.

Dampak pandemi terhadap kesehatan mental memang cukup besar, termasuk bagi remaja. Maka itu, peran orangtua sangat penting untuk tetap memperhatikan anak. Walaupun mereka terlihat baik-baik saja, tidak ada salahnya untuk rutin bertanya kabar anak berusia remaja. (*)

Berita Terkait