Kebakaran lahan perkebunan dan lahan kosong Desa Gunung Sari, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Jumat (30/10)
Klikwarta.com, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (3/11), melaporkan jumlah kejadian bencana di Indonesia mencapai 2.285 kejadian. Angka tersebut bertambah tujuh kejadian dibandingkan data sebelumnya (2/11). Penambahan peristiwa yang terjadi, di antaranya banjir di Kabupaten Deli Serdang, Lumajang, Malang, dan Pidie Jaya, dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong dan Klaten serta satu kejadian cuaca ekstrem di Kabupaten Dairi.
Memasuki November 2026, sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan. Perubahan kondisi cuaca pada masa peralihan musim perlu menjadi perhatian karena hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan angin kencang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia dilaporkan mengalami kejadian bencana yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menjadi salah satu wilayah yang mengalami beberapa jenis bencana akibat hujan dengan intensitas sedang hingga deras sejak 1 November 2026. Kondisi tersebut memicu luapan sungai, tanggul jebol, tanah longsor, dan pohon tumbang yang tersebar di 13 desa pada tujuh kecamatan. Berdasarkan perkiraan sementara, sebanyak 1.567 kepala keluarga (KK) terdampak dan 13 rumah tercatat mengalami kerusakan. Hingga pembaruan laporan, tidak terdapat korban jiwa dalam rangkaian kejadian tersebut.
Penanganan telah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama unsur kecamatan, desa, PLN, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca), dan pihak terkait lainnya. Tim Reaksi Cepat (TRC) melakukan asesmen, pendataan, dan penanganan darurat di 117 KK di Desa Purorejo. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuka akses jalan tembus Tamansari–Iburaja yang tertutup longsor.
Selain membuka akses jalan, BPBD juga menangani rumah warga yang terancam rusak, kondisi debit sungai, jembatan limpas, serta tanggul untuk mengantisipasi kemungkinan bencana susulan. Bantuan logistik turut disiapkan dan disalurkan kepada warga terdampak, antara lain di Desa Rojopolo berupa 240 kaleng makanan siap saji, tambahan gizi, dan lauk pauk.
Cuaca Ekstrem di Dairi Sebabkan Korban Jiwa
Di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, cuaca ekstrem terjadi pada Jumat (30/10) sekitar pukul 19.00 WIB. Peristiwa di Dusun Liren, Desa Kuta Gamber, Kecamatan Tanah Pinem tersebut menyebabkan pohon tumbang dan menimpa rumah warga. Akibat kejadian ini, satu orang meninggal dunia, satu orang mengalami luka-luka, serta satu unit rumah mengalami rusak berat.
BPBD Kabupaten Dairi berkoordinasi dengan camat serta kepala desa atau lurah di wilayah terdampak untuk melakukan asesmen dan memberikan penanganan kepada para korban. Pemerintah daerah juga telah melakukan penanganan di lokasi kejadian bersama unsur setempat.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem, termasuk angin kencang yang dapat menyebabkan pohon tumbang, perlu diantisipasi bersama selama masa peralihan musim. Masyarakat diimbau memperhatikan kondisi lingkungan sekitar dan meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi hujan disertai angin kencang.
Banjir Masih Berdampak di Sejumlah Wilayah
Selain Lumajang, sejumlah wilayah lain juga mengalami banjir karena intensitas hujan tinggi. Berdasarkan data kejadian bencana BNPB, terdapat empat kejadian banjir yang tercatat, antara lain di Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh; Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara; serta Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.
Di Kota Subulussalam, banjir berdampak terhadap sekitar 2.245 KK. Sementara itu, di Kabupaten Aceh Selatan tercatat sekitar 222 KK terdampak dan masih dalam pemantauan. Di Kabupaten Deli Serdang, banjir berdampak terhadap sekitar 13 KK dan dilaporkan telah surut. Adapun banjir di Kabupaten Malang berdampak terhadap sekitar 43 KK dan kondisi air juga dilaporkan telah surut.
Penanganan dan pemantauan terus dilakukan oleh BPBD bersama unsur terkait di masing-masing wilayah. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai maupun kawasan rawan genangan diimbau tetap memperhatikan perkembangan kondisi air dan mengikuti arahan petugas apabila diperlukan evakuasi.
Karhutla Masih Ditangani
Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi, penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah daerah. Berdasarkan laporan harian Ditjen Koordinasi dan Pengendalian Operasi BNPB dengan update data 2 November 2026 pukul 17.00 WIB, luas lahan yang masih dalam penanganan tercatat sekitar 1.256 hektare di enam provinsi. Luasan tersebut meliputi Kalimantan Tengah 547 hektare, Papua Selatan 455 hektare, Kalimantan Timur 60 hektare, Sulawesi Tengah 89 hektare, Sulawesi Tenggara 91 hektare, dan Nusa Tenggara Timur 14 hektare.
Untuk mendukung penanganan, BNPB menyiagakan 51 unit armada udara berdasarkan data gelar 2 November 2026. Armada tersebut terdiri atas 21 unit pesawat patroli/CASA/Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan 30 unit helikopter water bombing. Sebanyak 47 unit dialokasikan di enam provinsi prioritas, sedangkan empat unit lainnya berada di luar provinsi prioritas.
Kondisi Papua Selatan juga menunjukkan bahwa ancaman kekeringan dan karhutla masih perlu diperhatikan meskipun sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim penghujan. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga 20 Oktober 2026, awal musim hujan di Papua Selatan diperkirakan lebih lambat, yakni wilayah utara pada akhir November dan wilayah tengah hingga selatan pada pertengahan sampai akhir Desember. Selain itu, 46 dari 80 kecamatan di Papua Selatan berada dalam kondisi waspada terhadap potensi banjir dan tanah longsor.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan ancaman bencana secara berkelanjutan di setiap daerah. Upaya penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman karhutla, tetapi juga perlu memperhatikan kesiapan menghadapi potensi banjir dan tanah longsor ketika hujan mulai turun di wilayah yang sebelumnya mengalami kekeringan.
BNPB Minta Tingkatkan Kesiapsiagaan
Memasuki musim penghujan, BNPB mengingatkan pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Upaya tersebut sejalan dengan Surat Edaran BNPB Nomor 4 Tahun 2026 tentang Langkah-Langkah Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Penghujan 2026/2027 yang ditujukan kepada gubernur, bupati, dan wali kota.
Melalui surat edaran tersebut, pemerintah daerah diharapkan meningkatkan keterpaduan kesiapan pemerintah, dukungan berbagai pemangku kepentingan, sistem peringatan dini, serta keterlibatan masyarakat. Kesiapan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya melindungi keselamatan masyarakat dan mengurangi risiko dampak bencana.
BNPB juga mengimbau masyarakat untuk mengenali potensi ancaman di lingkungan masing-masing, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar sungai, lereng, dan kawasan rawan longsor. Ketika hujan lebat berlangsung, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, menghindari lokasi berbahaya, serta segera mengikuti arahan petugas apabila kondisi mengharuskan evakuasi.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG serta informasi kebencanaan melalui kanal resmi BNPB dan BPBD setempat. Dengan kesiapan pemerintah dan partisipasi masyarakat, risiko serta dampak bencana selama masa peralihan musim diharapkan dapat diminimalkan.
(Kontributor : Arif)








