Tokoh milenial Jatim, Galang Mochtar
klikwarta.com, Surabaya - Kepergian maestro seni dan putra bungsu Proklamator RI, Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra, pada 26 September 2026 menyisakan duka mendalam bagi generasi muda Jawa Timur.
Tokoh Milenial Jatim, Galang Mochtar, menyebut Indonesia tidak hanya kehilangan anak seorang proklamator, melainkan kehilangan guru besar kebudayaan.
"Kita sedang kehilangan, bukan hanya kehilangan seorang anak proklamator, tapi kita kehilangan seorang guru, kita kehilangan seorang budayawan besar, yang dimana dedikasi hidupnya disalurkan untuk kebudayaan dan kesenian Indonesia," ujar Galang, Selasa (30/9/2026).
Menurut Galang, keteladanan Guruh Soekarnoputra terletak pada pilihannya untuk tidak mengejar kekuasaan, berbeda dengan banyak anak tokoh besar lainnya.
Guruh Soekarno adalah anak seorang presiden, tapi beliau tidak pernah berambisi untuk menjadi penguasa, untuk mencari kursi-kursi kekuasaan yang enak.
Beliau juga tidak pernah mencari pertambangan-pertambangan, tapi beliau membuat jalurnya sendiri di kesenian dan kebudayaan, karena kesenian dan kebudayaan itu tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Ia menegaskan, kebudayaan adalah identitas dan pemersatu bangsa. Kesenian dan kebudayaan adalah identitas bangsa.
" Perlu kita ketahui Indonesia ini besar karena keseniannya, besar karena budayanya, dan beliau adalah salah satu tokoh yang benar-benar mengamalkan itu semua," tegasnya.
Karya-karya Guruh, kata Galang, telah mengetuk hati anak muda. Sejak kecil Guruh sudah belajar tari tradisional, gamelan, hingga mendirikan kelompok seni Swara Mahardhika dan melahirkan karya-karya monumental seperti Guruh Gipsy, Gita Cinta, dan Melati Suci.
"Bahkan saya dari kecil tahu, Guruh Soekarnoputra sudah belajar menari, karya-karya tradisional, dan gamelan-gamelan. Ini membuat semua pengetuk hati anak muda. Beliau juga pernah membuat organisasi Swara Mahardhika, kemudian karya-karya musiknya yang hebat," ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak generasi milenial dan Gen Z untuk melanjutkan perjuangan almarhum.
"Jadi kita benar-benar kehilangan sosok yang terlalu penting bagi kebudayaan kesenian di Indonesia. Khususnya untuk teman-teman muda, mari kita lestarikan apa yang telah beliau tinggalkan, apa yang telah beliau wakafkan untuk negara ini," ajaknya.
Indonesia ini beragam budayanya, beragam keseniannya disatukan menjadi satu, Indonesia Raya ini. Dari kebudayaan itulah, dari kesenian itulah yang menyatukan semua.
Di tengah zaman modern yang haus kekuasaan, Galang menilai Indonesia butuh lebih banyak sosok seperti Guruh.
Dia tidak pernah haus akan kekuasaan, tapi dsangat konsen kepada kebudayaan, dan itu sangat penting. Kebudayaan akan membangun sebuah peradaban, dan peradaban tidak akan pernah lekang oleh waktu
"Kesan saya dari perkembangan zaman modern ini, kita butuh sosok jiwa-jiwa seperti Guruh Soekarnoputra, yang tidak hanya haus akan kekuasaan," jelasnya.
Sebagai bentuk penghormatan, Posko Gotong Royong Jawa Timur mengibarkan bendera setengah tiang di seluruh posko PDI Perjuangan.
"Untuk Posko kami, Posko Gotong Royong Jawa Timur, untuk menghormati jasa-jasa beliau, kami mengibarkan bendera setengah tiang di setiap Posko PDIP di Jawa Timur, dan terutama Posko kami," ujarnya.
Galang juga mengusulkan agar negara memberikan gelar kehormatan sebagai Bapak Kesenian dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada Guruh.
"Saya harap dedikasi Guruh Soekarnoputra ini bisa terus tidak dilupakan, lalu bisa dibuat untuk sosok bapak kesenian atau bapak kebudayaan Republik Indonesia ke depannya, sehingga masyarakat bisa mengenang beliau untuk selama-lamanya," harapnya.
Kenangan pribadi Galang tentang Guruh masih membekas kuat. Ia ingat betul saat Guruh berkunjung ke Posko Gotong Royong Jatim pada tahun 2010, ketika dirinya masih duduk di bangku SD/SMP.
"Saya ingat betul Guruh Soekarnoputra pernah ke Posko Gotong Royong ini pada tahun 2010. Saat itu kedatangan beliau disambut dengan tarian-tarian Remo tradisional ala Jawa Timur," kenang Galang.
Galang menilai Guruh sangat konsen, sangat paham secara detail. Ketika ada gerakan tarian Remo yang salah, beliau benarkan. Beliau benar-benar konsen terhadap kebudayaan yang ada di situ.
" Saya saat itu masih kecil melihat beliau yang sangat karismatik, sangat detail terhadap kebudayaan," pungkasnya.
"Semoga Bung Guruh Soekarnoputra diberikan kelancaran di akhiratnya, diampuni semua dosanya, dan dimasukkan ke dalam surganya Allah SWT," tutup Galang.








