ilustrasi
Penulis: Nurul Jasmine Fathia, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.
Matahari bersinar cukup terik, diiringi deburan ombak dan suara riuh yang bersumber dari aktivitas masyarakat setempat. Membaca kalimat tersebut mungkin pembaca sudah dapat menyimpulkan latar tempat dari tulisan ini. Namun, jangan bayangkan daerah dekat laut yang dihiasi hamparan pasir putih lembut. Jangan juga bayangkan air laut yang biru membentang, karena yang ada di sini hanyalah air keruh dan pasir putih yang telah tergantikan oleh limbah.
Kampung Kerang, Cilincing, Jakarta Utara adalah tempat dimana ekspektasi setiap orang tentang laut yang biru nan indah bisa dipatahkan begitu saja. Berada di Ibu Kota tak membuat tempat ini menjadi maju, bahkan tempat ini bisa dikatakan tak layak untuk menjadi sebuah kawasan hunian. Saat menginjakkan kaki ke tempat ini hati dan pikiran dibuat tak percaya, bagaimana mungkin di Ibu Kota terdapat tempat dengan kondisi yang begitu memprihatinkan. Kondisi yang ada sungguh berbanding terbalik dengan apa yang biasa kita lihat di pusat dan selatan Jakarta.
Di tempat ini tak ada sekolah dengan fasilitas bintang lima, tak ada juga tenaga pendidik yang luar biasa hebat atau bahkan berasal dari luar Indonesia. Komputer, laptop, atau gawai masih menjadi barang langka. Berbanding terbalik dengan sisi lain Kota Jakarta yang penuh dengan kemewahan. Terbatasnya semua hal tersebut nyatanya sangat berpengaruh khususnya bagi pendidikan anak-anak yang tumbuh di kampung tersebut. Ilmu dan pengetahuan jadi sesuatu yang begitu mahal karena untuk mencapainya dibutuhkan banyak usaha, keringat, bahkan air mata.
Ilmu dan pengetahuan seharusnya menjadi milik setiap orang, tetapi sangat disayangkan di negeri ini ilmu pengetahuan dan perkembangannya hanyalah milik mereka yang beruntung. Lahir dari keluarga berada atau tinggal di kawasan yang maju ternyata masih menjadi syarat untuk dapat mengakses ilmu pengetahuan. Sayangnya dua hal tersebut tak dimiliki anak-anak di kawasan Kampung Kerang. Mereka tak lahir dari keluarga berada, banyak dari mereka yang orang tuanya hanyalah seorang petani kerang. Syarat kedua pun tak dapat mereka penuhi karena mereka hanyalah anak-anak yang tinggal di kawasan terbelakang.
Kebanyakan dari anak-anak yang tinggal di Kampung Kerang masih duduk di bangku sekolah dasar. Menurut cerita mereka hanya terdapat satu fasilitas pendidikan tingkat sekolah dasar di sekitar kawasan tersebut. Jarak yang harus ditempuh pun cukup jauh untuk anak-anak di usia sekolah dasar. Fasilitas dan pelayanan yang ada di sekolah tempat mereka belajar pun masih jauh dari kata cukup. Keterbatasan ini membuat anak-anak di Kampung Kerang menjadi tertinggal dalam berbagai hal khususnya ilmu dan pengetahuan.
Anak-anak usia sekolah dasar yang tinggal di pusat kota mungkin sudah mengetahui bahwa pesawat adalah transportasi yang melayani perjalanan antar kota. Namun, berbeda halnya dengan anak-anak yang tinggal di Kampung Kerang. Mereka sama sekali tak mengetahui hal tersebut, menurut mereka jarak tempuh dari Jakarta Selatan ke Jakarta Utara tempat mereka tinggal sangat jauh dan harus ditempuh dengan pesawat terbang. Bahkan, sebagian dari mereka juga tak mengetahui ada kawasan lain bernama Jakarta Selatan.
Miris rasanya melihat anak-anak yang hidup di Ibu Kota tapi masih sulit untuk mengakses ilmu pengetahuan. Padahal, ilmu pengetahuan adalah salah satu kunci yang cukup penting bagi setiap manusia untuk berkembang atau bahkan merubah nasib dirinya, keluarganya, dan lingkungannya. Kehidupan di Kampung Nelayan yang stagnan boleh jadi diakibatkan karena akses menuju ilmu pengetahuan yang masih terbatas. Bayangkan jika hal ini terus terjadi, apa jadinya kampung ini bertahun-tahun ke depan.
Kampung Kerang sesungguhnya memiliki potensi yang begitu besar untuk terus berkembang. Anak-anak yang lahir dan tumbuh di kampung tersebut lah yang kelak menjadi nahkodanya dan membawa perubahan besar untuk kawasan ini. Semangat dan kemauan belajar mereka jika terus diasah dan difasilitasi dengan baik tentunya akan membawa tanah tempat mereka tinggal tak lagi dipandang sebagai kampung kumuh yang penuh dengan sampah.
Kisah anak-anak di Kampung Kerang menyadarkan kita bahwa ilmu pengetahuan sejatinya belum menjadi milik semua orang. Bagi mereka yang beruntung ilmu pengetahuan telah menjadi milik mereka sepenuhnya dan bagi mereka yang tidak ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang mahal yang harus dijemput lewat kerja keras dan usaha. Namun, sedikit beruntunglah mereka yang harus berjuang keras untuk memperoleh pengetahuan, karena apa yang mereka dapatkan dengan keringat dan air mata akan terus melekat selama-lamanya. (*)








