Jangan Nangis, Kan Jagoan!

Minggu, 25/05/2025 - 09:25
Ilustrasi Anak laki-laki yang sedang menangis. Sumber: Freepik

Ilustrasi Anak laki-laki yang sedang menangis. Sumber: Freepik

Oleh : Rahma Nayali

Klikwarta.com - Anak laki-laki itu melesat dengan sepedanya barunya. Ia berkeliling taman sembari belajar menjaga keseimbangan. Namun, di persimpangan jalan, ia harus banting setir! Secara tiba-tiba seorang anak perempuan muncul dari balik pepohonan. Tabrakan pun tak bisa dihindari.

Jika kamu menyaksikan langsung, bisa menebak siapa yang lebih dulu ditenangkan? Benar! Semua pasang mata tertuju pada si gadis kecil. Orang-orang langsung berlari ke arahnya. Mengangkat tubuh mungilnya sembari memeluk dan menenangkan.

"Mana yang sakit? Aduh, lututnya berdarah! Udah gapapa, nangis aja. Nanti tante obatin," ujar seorang yang merengkuh gadis kecil itu.

Tak jauh berbeda, bocah lelaki itu juga terluka di lutut,dan lecet di telapak tangannya. Dengan langkah tertatih, ia mendekat lalu meminta maaf. Namun, belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tangisnya pun tumpah. Air mata membanjiri pipinya yang ranum. Mereka itu sama-sama terluka dan meraung, tapi mendapat respon yang berbeda.

"Udah, jangan nangis, ah. Masa anak laki nangis. Kan jagoan," ucap orang yang sama sambil menepuk pundaknya.

Dari kejauhan, aku memperhatikan. Entah mengapa aku merasa tidak asing dengan kejadian ini. Kalimat yang dilontarkan seperti menggema di kepalaku. Mendadak, aku teringat satu hal. Tentang abangku yang selalu kuat dan tak punya ruang untuk menunjukkan emosinya, hingga pelan-pelan jadi makhluk rapuh tidak berperasaan.

Pikiranku melayang. Dalam diam aku penasaran, akan jadi seperti apa anak itu saat dewasa? Apakah akan tumbuh jadi seseorang yang tidak tahu bagaimana rasanya dimengerti? Yang malu menangis dan bingung mengelola emosi?.

Secara tidak langsung masyarakat telah membatasi ruang untuk laki-laki bisa merasa Bukan karena mereka tak punya emosi, tapi karena emosi mereka tak diberi tempat. Mereka diajarkan untuk menahan, bukan mengelola. Diuji untuk menjadi kuat, bukan untuk mengerti arti kekuatan sebenarnya, yaitu berani jujur pada perasaan sendiri.

Sedari kecil, mereka seolah dibesarkan untuk tidak mengenal emosi, terlebih menangis dan sedih.

“Haram bagi laki-laki untuk menangis”, katanya. Laki-laki hanya dikenalkan pada rasa bangga, senang, tangguh, dan kuat. Itu pun tetap dalam porsi yang sangat sedikit.

Penekanan emosi pun membuat lelaki jadi sosok tidak berperasaan. Alih-alih diajarkan mengelola emosi, para lelaki justru didoktrin untuk jadi pahlawan. Kalimat seperti “cowok nggak boleh nangis” jadi mantra turun-temurun. Bak ramuan ajaib, semua orang langsung tersihir dengan kalimat itu dan terus melestarikannya sampai sekarang.

Padahal, menurut Daniel Goleman, seorang psikolog asal Amerika, kecerdasan emosional (EQ) punya peran penting dalam keberhasilan hidup seseorang. EQ bukan cuma tentang perasaan tapi tentang kemampuan mengenali emosi, memahami alasan di baliknya, dan mengelolanya secara sehat. Termasuk saat marah, kecewa, bahkan saat takut dan sedih.

Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa mengelola emosi jika sejak kecil dilarang merasakannya?.

Di sisi lain, perempuan justru 'kelebihan' ruang untuk jadi perasa. Masyarakat lebih percaya bahwa perempuan adalah makhluk baperan yang selalu nangis tiap dikasih kesempatan. Maka dari itu, stereopite lebay, lemah, dan cengeng jadi melekat banget sama makhluk ini.

Dari sinilah muncul anggapan bahwa perempuan lebih emosional, sedangkan laki-laki lebih rasional. Padahal, siapa pun bisa punya keduanya. Yang membedakan hanyalah ruang untuk tumbuh.

Stereotip ini tentu sangat merugikan bagi keduanya, baik laki-laki maupun perempuan. Sejatinya, kecerdasan emosional bukan bakat alami yang dipengaruhi jenis kelamin tapi keterampilan yang harus diasah oleh siapa pun.

Ketika ruang emosional tidak setara, laki-laki berisiko tumbuh menjadi pribadi yang sulit memahami dirinya sendiri, apalagi memahami orang lain. Emosi yang tak dikelola adalah bom waktu. Ia bisa meledak kapan pun. Berubah jadi amuk berujung kekerasan atau kecemasan tersembunyi.

Menurut riset dari American Psychological Association, banyak laki-laki dewasa merasa kesulitan dalam mengungkapkan perasaan karena mereka tidak pernah diajarkan caranya. Mereka dibesarkan bukan untuk memahami diri, melainkan untuk bertahan dari luka yang bahkan tak pernah disinggung.

Maka, barangkali pertanyaannya bukan lagi “kenapa laki-laki tidak menangis?” Tapi, “kapan terakhir kali kita izinkan mereka untuk merasa?”.

Tags

Berita Terkait