Kemendikdasmen Sosialisasikan Panduan Pendidikan Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal

Kamis, 15/10/2026 - 23:37
Kemendikdasmen Sosialisasikan Panduan Pendidikan Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal

Kemendikdasmen Sosialisasikan Panduan Pendidikan Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal

Klikwarta.com, Jakarta -  Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) bersama Badan Pangan Nasional meluncurkan Panduan Pendidikan Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Dalam peluncuran tersebut diadakan gelar wicara untuk membahas upaya mengintegrasikan pendidikan pangan dan gizi ke dalam pembelajaran serta penerapannya secara nyata di satuan pendidikan dengan memanfaatkan potensi pangan lokal, yang dilaksanakan di Kantor Kemendikdasmen, Rabu (14/10).

Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Laksmi Dewi, menjelaskan bahwa pendidikan pangan dan gizi dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum yang sudah berjalan tanpa menambah mata pelajaran. Panduan yang disusun diharapkan membantu guru memasukkan materi pangan dan gizi ke dalam proses pembelajaran sesuai jenjang pendidikan. “Yang paling penting adalah bagaimana kita memasukkan peta kompetensi ini ke dalam capaian-capaian pembelajaran yang sudah tersedia,” jelas Laksmi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa integrasi tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta budaya sekolah. Salah satu penerapannya adalah membiasakan murid mengenali dan memahami makanan sehat, termasuk melalui pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di sekolah. Menurutnya, pengenalan pangan lokal perlu disampaikan secara berkelanjutan agar berkembang menjadi kebiasaan murid dalam mengonsumsi makanan sehat.

Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional, Hamid Sangadji, menyampaikan bahwa pendidikan pangan dan gizi penting untuk membangun kebiasaan konsumsi yang sehat sejak usia dini. Indonesia memiliki beragam sumber daya pangan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan dan produktivitas generasi muda. “Apa yang kita makan itu akan menentukan kira-kira gambaran kita ke depan seperti apa,” ujarnya.

Menurutnya, materi pendidikan pangan dan gizi dapat mencakup tiga elemen, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, serta pemanfaatan pangan. Materi tersebut dapat disesuaikan dengan tahap perkembangan murid, mulai dari mengenal jenis pangan di lingkungan sekitar hingga memahami faktor yang memengaruhi ketersediaan dan keterjangkauan pangan. Ia juga menekankan pentingnya membiasakan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman.

Dalam sesi gelar wicara mengenai perspektif kebijakan, pengalaman, dan praktik baik, Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Basuni, turut menjadi narasumber yang membahas praktik pendidikan pangan dan gizi dari perspektif pemerintah daerah. Pembahasan ini menjadi bagian dari upaya melihat bagaimana pendidikan pangan dan gizi dapat diterapkan di satuan pendidikan dengan mempertimbangkan potensi sumber daya lokal.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Hadi Sucipto, memaparkan pengalaman penerapan pembelajaran yang memanfaatkan potensi lokal. Menurutnya, pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, keterlibatan dunia usaha dan industri, serta pembiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah. Ia juga menjelaskan pemanfaatan lingkungan sekolah untuk mendukung pembelajaran dan pengenalan pangan lokal kepada murid.

Pengalaman dari satuan pendidikan tersebut menunjukkan pentingnya menghubungkan pembelajaran dengan kondisi lingkungan sekitar agar murid dapat mengenal potensi pangan lokal sekaligus memahami pola hidup sehat. Penerapan pendidikan pangan dan gizi juga dapat menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran dan pembiasaan di sekolah.

Melalui sosialisasi panduan ini, Kemendikdasmen mendorong pendidikan pangan dan gizi untuk diterapkan secara berkelanjutan di satuan pendidikan. Pembelajaran diharapkan membantu murid memahami pentingnya memilih makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman, sekaligus mengenal serta menjaga potensi pangan lokal di daerahnya.

(Penulis: Zahra/Editor: Destya/Seno H.) 

Berita Terkait