Foto : Freepik
Oleh : Masni (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
Klikwarta.com - Suatu siang yang terik di kampus, Terlihat langkah mahasiswa tergesa-gesa saat melewati koridor ruang kelas. Di antara mereka, ada seorang mahasiswi yang dikenal berani, ramah, dan disukai banyak orang. Namanya Aira . Wajahnya selalu ceria, senyumnya hangat. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sering membuatnya tersandung yaitu emosinya yang mudah meledak.
Hari itu, Aira tengah dikejar tumpukan tugas kuliah. Matanya sembab karena kurang tidur, pikirannya melayang tak tentu arah. Persoalan keluarga di rumah membuat pikirannya tak bisa tenang. Seolah semua suara berputar di kepalanya, menari liar tanpa henti.
Di tengah kekalutan itu, seorang teman sekelompok menghampirinya. "Air, gimana progress tugas kelompok kita?" tanya sang teman dengan nada biasa saja.
Namun, reaksi Aira tak terduga. Ia menatap tajam, lalu melontarkan kata-kata kasar. Suasana menjadi hening seketika. Temannya menatap dengan ekspresi kecewa, lalu berkata pelan, “Kendalikan emosimu…” dan berlalu.
Aira terdiam. Rasa bersalah perlahan menggerogoti dadanya. Ada getar di hatinya, bukan hanya karena ia menyakiti temannya, tetapi juga karena ia baru menyadari selama ini, ia membiarkan emosinya mengatur hidupnya.
Dengan langkah pelan, ia menuju perpustakaan. Ia butuh ketenangan. Duduk di pojok ruangan yang sunyi, matanya tertuju pada sebuah buku yang menarik perhatiannya Emotional Intelligence karya Daniel Goleman. Tangannya refleks mengambil dan membacanya.
Dalam buku itu, Aira menemukan jawaban atas keresahannya. Bahwa menjadi pintar secara emosional bukan berarti menekan emosi, melainkan mengenali, memahami, dan mengelola hidupnya. Ia tertegun saat membaca kutipan dari Mayer, seorang psikolog dari University of New Hampshire, yang berkata: “Waspada baik terhadap suasana hati maupun pikiran kita tentang suasana hati.” Kutipan itu menamparnya halus, tapi dalam.
Ternyata, mengenali diri sendiri bukan sekadar tahu siapa kita, tetapi juga tahu bagaimana kita merespons dunia di sekitar kita. Aira mulai memahami, bahwa bukan masalah yang perlu dihindari, tapi cara kita menyikapinya yang harus diperbaiki.
Ia pun menyadari, bahwa selama ini, emosinya lebih dulu berbicara sebelum pikirannya sempat menyela. Ia telah melukai banyak hati, meski tak ia sadari. Tapi hari itu, ia memilih untuk berubah.
Sejak kejadian itu, Aira berlatih untuk lebih tenang. Sebelum emosi mengambil alih aira mencoba berfikir jernih , ia mencoba mengendalikannya dengan berbagai cara seperti :
- Membuang pikiran buruk : ia tahu saat dilanda masalah, otaknya akan cenderung memikirkan kemungkinan buruk dari kondisi tersebut, pemikiran itulah yang sering kali justru membawa ia kedalam kondisi terburuk sehingga lupa mencari Solusi. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia menyingkirkan pikiran buruk yang tidak diperlukan saat dilanda masalah.
- Membuaat jurnal emosi : Setiap kali emosi negatif Aira muncul secara tiba-tiba, biasanya ia mencoba menulis jurnal tentang perasaan dirinya setiap hari.
- Olahraga : Ketika Aira mengendalikan emosinya, ia biasanya berolahraga secara rutin selama sebanyak tiga kali dalam seminggu. Hal ini juga terdapat dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Asia Nursing Reserch (2019) menunjukkan bahwa sekelompok perawat yang rajin berolahraga memiliki kemampuan lebih baik dalam mengontrol emosinya.
- Berfikir sebelum berbicara : Saat sedang emosi, ia menerapkan kepada dirinya untuk janganlah terburu-buru berbicara Ketika sedang emosi. Ia mencoba sebisa mungkin untuk memastikan bahwa kata-kata tersebut tidak melukai orang lain dan akan membuatnya menyesal dikemudian hari.
- Lakukan teknik pernapasan : Ketika emosi datang, aira mencoba untuk mengendalikan amarahnya dengan cara menerapkan teknik pernapasan, salah satunya dengan cara mengambil napas sedalam mungkin, lalu ia menghembuskannya perlahan.
Cerita Aira mungkin hanya sepotong kecil dari banyak kisah manusia lainnya. Tapi di baliknya, ada pelajaran penting yang sering terlupakan. Bahwa emosi, sekecil apapun, bisa berdampak besar. Ia bisa menyembuhkan, tapi juga bisa menyakiti. Dan mengenali diri sendiri adalah langkah pertama menuju kedewasaan emosional. Karena pada akhirnya, yang bisa kita kendalikan bukan dunia melainkan diri kita sendiri.








