Foto oleh: Andrianto Soekarnen Padmadinata
Oleh: Nadira Riskia Marin
Berbicara tentang pasar tradisional yang biasa kita kenal dengan istilah terbelakang, kampungan, atau bahkan kumuh ini adalah tempat bertemunya antara penjual dengan pembeli. Keberadaan pasar tradisional kini semakin tersaingi dengan adanya pertumbuhan pasar modern seperti minimarket dan supermarket yang jumlahnya semakin bertambah.
Ada pun permasalahan utama di pasar tradisional yaitu tingkat kebersihan yang rendah dan penataan yang semrawut. Masalah penataan merupakan konsentrasi utama kurangnya daya tarik masyarakat terhadap pasar di luar barang yang diperdagangkan. Meskipun pasar tradisional memiliki banyak keunggulan, sering kali masyarakat tetap memandang sebelah mata dengan mengklaim bahwa pasar tradisional adalah tempat bau yang tidak sedap menusuk hidung ataupun tempat yang dipenuhi sampah yang menggunung.
Dibalik itu, terdapat pilar kebudayaan di pasar tradisional yang sudah tertanam sejak dulu dan sepatutnya kita pertahankan. Budaya lokal yang timbul di pasar tradisional antara lain terjadi pada interaksi antara penjual dengan pembeli. Kentalnya rasa kekeluargaan, kebersamaan, tenggang rasa, saling asah, asih, dan asuh yang saling terikat erat masih dipegang erat di pasar tradisional.
Kebudayaan yang masih kental di pasar tradisional menunjukkan bahwa peradaban yang berganti tak akan lekang dengan adanya kebudayaan ini. Adanya asimilasi budaya, sistem tawar menawar, hubungan silaturrahim, dan rasa percaya antara penjual dan pembeli yang berlandaskan pada kekeluargaan timbul karena adanya interaksi di dalamnya. Pasar tradisional bukan hanya menjadi tempat transaksi jual beli melainkan menjadi pilar kebudayaan dan kearifan lokal yang berakar pada optimisme rezeki. Seperti peribahasa jawa yang berbunyi "tuna satak bathi satak" yang artinya "tidak mengapa merugi sedikit asalkan mendapat saudara".
Di zaman sekarang hal seperti itu tentunya sudah jarang kita jumpai di luar sana, terlebih di pasar modern seperti minimarket dan supermarket yang mengedepankan budaya individualisme diantara pedagang dan pembelinya. Meskipun kini budaya Indonesia mulai tersisihkan dengan adanya budaya barat. Kearifan budaya lokal yang ada di pasar tradisional ini perlu kita jaga dan lestarikan.
Dapat pula diadakannya aksi seperti menghidupkan kembali pasar tradisional yang dapat dilakukan dengan membranding pasar tradisional melalui ajakan dari mulut ke mulut ataupun menggunakan platform media sosial. Adanya gerakan cinta budaya seperti ini merupakan salah satu upaya kita dalam memelihara budaya yang kita miliki dengan menanamkan budaya sejak dini. (*)








