Pembangunan Masjid Agung Karanganyar Terus Dikebut, Kontraktor PT MAM Energindo Kerahkan 350 Tenaga Kerja
Klikwarta.com, Karanganyar - PT MAM Energindo Jakarta selaku pihak kontraktor proyek multiyears pembangunan Masjid Agung Karanganyar berkomitmen untuk menyelesaikan pembangunan tempat ibadah tersebut walaupun perpanjangan waktu pembangunan yang diberikan yakni sampai tanggal 27 Desember 2021 tidak bisa selesai 100 persen. Adapun perpanjangan waktu pengerjaan proyek itu sendiri diberikan selama 10 hari terhitung sejak 17 Desember lalu.
PT MAM Energindo juga akan menambah jumlah tenaga kerja guna memasang material yang sudah on-site di lapangan agar segera bisa berfungsi dengan baik. Para pekerja pun bekerja lembur siang-malam untuk mewujudkan Masjid Agung Karanganyar bisa selesai sesuai yang diharapkan.
Keterangan itu disampaikan Project Manager PT MAM Energindo Heri Yulianto melalui Staf Manajemen Gustaf Fahri kepada wartawan di Karanganyar, pada Jumat (23/12/2021).
Gustaf Fahri mengatakan bahwa pihak manajemen PT MAM Energindo tetap memegang komitmen untuk meneruskan pembangunan Masjid Agung Karanganyar hingga selesai seluruhnya.
‘’Seperti yang dikatakan Bupati dan juga Kadinas PUPR serta Pejabat Pembuat Komitmen yang bertanggung jawab terkait urusan proyek ini, bahwa pembangunan masjid sudah tinggal sedikit lagi, sayang kalau sampai mandeg,’’ kata Gustaf Fahri.
Menurut Gustaf, kini pihak manajemen sedang berembug soal hal itu dengan pihak Dinas PUPR dan Pemkab Karanganyar untuk membicarakan kelangsungan proyek setelah masa perpanjangan waktu itu habis.
Gustaf menjabarkan, saat ini sisa pekerjaan yang belum terselesaikan di antaranya meliputi pekerjaan menara D (menara pandang), di mana pekerjaan di menara tersebut terdiri dari pemasangan lift, penyempurnaan bangunan menara pandang, pemasangan GRC, serta finishing berupa pengecatan.
Sedangkan untuk pekerjaan menara lain (menara A, B dan C) sebagian besar sudah bisa diselesaikan. Penyelesaian pekerjaan di Menara D ini, dikatakan Gustaf, memang membutuhkan kehati-hatian. Alasannya, selain berada di ketinggian, struktur Menara Pandang memang berbeda dengan ketiga menara lainnya.
"Pada saat hujan atau angin kencang, pekerjaan ini tidak bisa jika dilembur karena berisiko tinggi. Pekerjaan ini juga memerlukan tenaga kerja khusus yang biasa bekerja di ketinggian", jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB), jumlah payung hidrolik yang dikerjakan adalah sebanyak 4 unit. Sampai saat ini vendor terus mengupayakan untuk menyelesaikan pembuatan membrane payung, cladding (penutup) payung, beserta aksesorisnya yang membutuhkan presisi dan ketelitian yang tinggi agar payung bisa membuka dan menutup sempurna.
Begitu pula dengan pekerjaan arsitektural masjid. Sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Karanganyar didesain dengan konsep arsitektural mirip Masjid Nabawi di Madinah. Pekerjaan finishing arsitektural ini juga membutuhkan kecermatan dan kehati-hatian karena dilakukan oleh tenaga tukang yang memiliki keterampilan khusus.
Sedangkan untuk pekerjaan Mekanikal Elektrikal Plumbing (MEP) dan lanskap yang meliputi pemasangan tata cahaya (lampu), air conditioning (AC), sanitair. sound system dan penataan halaman masjid, komponen - komponen tersebut tinggal dipasang dan material semua sudah on site.
"PT MAM Energindo memang diberikan kesempatan untuk menyelesaikan Pembangunan Masjid Agung Karanganyar dengan batas waktu yang telah ditentukan. Namun sehubungan dengan adanya berbagai peristiwa atau kejadian di luar kemampuan, maka ini menjadi kendala yang mempengaruhi secara teknis pelaksanaan pekerjaan di lapangan", ujar Gustaf.
Lebih lanjut, Gustaf menyebutkan ada sejumlah faktor yang mempengaruhi realisasi jadwal pelaksanaan di lapangan. Di antaranya yaitu pergeseran arah kiblat pada saat penentuan titik-titik awal lokasi pembangunan, sehingga hal ini pun menyebabkan adanya perubahan desain.
"Dikarenakan setelah disesuaikan dengan arah kiblat, ada bangunan yang ternyata terkena Garis Sempadan Bangunan (GSB). Akibatnya, letak tata ruang bangunan harus disesuaikan kembali dan perubahan desain ini membutuhkan waktu yang cukup lama", ujarnya.
Keterbatasan pasokan oksigen untuk pengerjaan struktur baja, pengelasan struktur baja maupun atap dan menara juga menjadi faktor kendala. Pasalnya, pasokan oksigen pada saat puncak pandemi Covid-19, periode Juli hingga Agustus 2021, sangat terbatas karena oksigen yang tersedia diprioritaskan untuk penanganan pasien Covid-19 di rumah sakit. Sedangkan pasokan oksigen non-pasien harus menunggu antrean dan itu pun dibatasi jumlahnya.
Penerapan PPKM Darurat, kata Gustaf, juga menghambat proses pengangkutan material dari produsen ke lokasi, seperti marmer yang diproduksi dari Makassar, sehingga pemasangan harus menunggu kiriman dari produsen.
Gustaf juga menyampaikan bahwa bekerja selama masa Pandemi Covid-19 memang dirasakan cukup berat di tengah-tengah keterbatasan yang berada di luar kemampuan. Meski demikian, pihaknya tetap berikhtiar semaksimal mungkin dengan mengerahkan segenap daya guna menyelesaikan amanat yang telah diberikan kepada PT MAM Energindo itu.
"Kami mengucapkan terima kasih atas dorongan, motivasi, masukan dan saran yang telah diberikan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk penyelesaian Masjid Agung Karanganyar," tandasnya.
Pembangunan Masjid Agung Karanganyar, dikatakan Gustaf, hingga saat ini terus dilembur dan diselesaikan siang dan malam dengan jumlah pekerja yang mencapai sebanyak 350 orang.
"Kami mohon doa restu kepada seluruh masyarakat agar bisa menyelesaikan sisa pekerjaan hingga akhir tahun ini, sehingga Masjid Agung Karanganyar benar-benar bisa dimanfaatkan sebagai salah satu tempat ibadah kebanggaan warga Karanganyar," harapnya.
Pewarta : Kacuk Legowo








