Pasar Senen dan ‘Thrifting’ yang Menjadi Fenomena, Akan Seperti Apa Nasibnya Kelak?

Kamis, 06/07/2023 - 22:59
Sumber foto : kompasiana.com

Sumber foto : kompasiana.com

Oleh : Rayhan Fairuz SA  

Klikwarta.com - Jakarta tentunya memiliki segudang pusat grosir yang tersebar dimana-mana. Tetapi, jika berbicara tentang pusat grosir tertua dan terbesar di Jakarta. Pasar Senen lah jawabannya. Siapa yang tak kenal dengan Pasar Senen, pusat grosis yang menjual berbagai macam barang-barang murah, koleksi buku-buku tua, kuliner, hingga menjual pakaian-pakaian branded bekas yang banyak sekali diburu dan diminati oleh berbagai macam kalangan atau yang biasa kita sebut sebagai thrifting.

Thrifting adalah kegiatan membeli pakaian bekas yang masih layak pakai. Biasanya pakaian-pakaian yang dijual di thrift shop harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli pakaian-pakaian baru. Tak jarang juga kita akan menemukan pakaian-pakaian branded yang apabila dibeli di toko resminya secara langsung akan memiliki perbedaan harga berkali-kali lipat. Jadi bukan tanpa sebab bahwa banyak sekali kalangan yang menggemari kegiatan thrifting karena bisa mendapat pakaian bagus dengan harga yang relatif lebih murah.

Thrifting yang menjadi fenomena di kalangan masyarakat pun seolah menjadi angin segar bagi para pedagang-pedagang di Pasar Senen. Bagaimana tidak, sejak tren ini mulai dikenal banyak orang, keuntungan yang diraih pedagang-pedagang di Pasar Senen bisa mencapai 30% lebih besar dari harga jual, bahkan angka tersebut bisa mencapai 50% karena tak jarang banyak pedagang yang juga memasarkan dagangannya melalui penjualan online sehingga barang dagangan mereka terjual sampai keluar kota.

Fenomena thrifting ini juga seolah tidak akan habis dimakan oleh zaman. Banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan thrifting masih digemari sampai sekarang. Salah satunya adalah karena gaya berpakaian orang-orang akan semakin berbeda dan banyak variasi tiap tahunnya. Dan thrift shop sendiri biasanya memiliki berbagai macam jenis pakaian sehingga dapat disesuaikan dengan gaya berpakaian yang sedang tren. Selain itu banyak public figure dan content creator yang juga ikut meramaikan fenomena thrifting. Sehingga dapat memancing minat masyarakat.

Lantas, sampai kapankah fenomena thrifting ini akan bertahan?. Apakah Pasar Senen akan selalu ramai didatangi banyak pembeli setiap tahunnya?. Presiden Joko Widodo belum lama ini menegaskan bahwa thrifting tidak diperbolehkan karna menurutnya thrifting mengganggu industri tekstil di tanah air. Barang-barang yang dijual thrift shop di Indonesia sendiri identik dengan pakaian-pakaian bekas yang di impor dari luar negeri.

Di Indonesia sendiri impor pakaian bekas adalah hal yang dilarang dan tertera pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2021. Sesuai dengan pasal 2 ayat 3 telah disampaikan "barang dilarang impor berupa kantong bekas, karung bekas, dan pakaian bekas".

Dalam Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja juga telah ditegaskan bahwa importir wajib untuk mengimpor barang dalam keadaan baru kecuali Pemerintah Pusat menetapkan ketentuan lain.

Meskipun demikian, pemerintah masih memperbolehkan para pedagang berjualan sampai stok yang mereka punya tersisa habis. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) bersama Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki berkunjung ke Pasar Senen Blok III pada Kamis (30/3/2023) lalu, keduanya mengizinkan pedagang tetap bisa menjual sisa stok barang dagangannya sampai habis dengan syarat akan mengganti barang dagangan mereka dengan barang hasil UMKM nantinya.

Namun sudah 3 bulan lebih berselang, para pedagang belum kunjung mendapat pengganti. Sedangkan stok barang yang mereka miliki juga sudah hampir habis terjual, barang-barang yang biasa mereka dapatkan sebelumnya kebanyakan dari Jepang dan Korea. Namun, karena kini ada larangan untuk impor, mereka jadi tidak bisa memasukan barang tersebut kembali. Tidak sedikit juga stok barang-barang impor yang dimusnahkan, sehingga supplier-supplier juga kehabisan stok, kalaupun ada harganya juga bisa naik berkali-kali lipat dan stok tersebut hanya bisa bertahan 1-2 bulan saja.

Para pedagang thrifting di Pasar Senen juga mengatakan bahwa mereka siap membayar pajak seperti pedagang UMKM lainnya demi thrifting barang impor di legalkan.
 

Berita Terkait