Ilustrasi
Oleh: Insignia Rizki Ariesta (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
Kegaduhan di Rafah bukan hanya sebuah tragedi lokal, tetapi juga sebuah panggilan kemanusiaan global. Eskalasi kekerasan yang terjadi di sana membutuhkan tindakan segera untuk mengakhiri konflik yang telah merenggut ribuan nyawa. Mendorong ratusan ribu orang mengungsi merupakan pembahasan yang tak ada hentinya. Timbul berbagai reaksi masyarakat baik indonesia dan dunia yang kini sedang beramai-ramai mengutuk tindakan zionis israel, atas pencemaran nilai kemanusiaan. Pecahnya tindakan anti kemanusiaan ini didasari pada upaya pembasmian hamas oleh Israel yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan penduduk sipil.
Tidak digubrisnya seruan mayoritas negara untuk Israel agar melakukan gencatan senjata dan memberhentikan perang sehingga tidak lagi merugikan warga sipil, memicu reaksi beragam masyarakat dunia. Adanya gerakan viral seruan All Eyes on Rafah di media sosial menciptakan gemuruh dalam dada untuk ikut menyuarakannya. Tindakan (Boycott) yang kembali dibicarakan, menimbulkan rasa resah akan setiap tindak-tanduk ku dalam menikmati banyak hal.
“Apa sebenarnya yang terpikir, sehingga resah ?,” menjadi kalimat tanya yang hingga detik ini takut ku temukan jawabannya. Singkatnya, boikot budaya dan ekonomi terhadap Israel sebenarnya tidaklah sulit di lakukan, toh aksi kejinya sudah memantik emosi ku untuk turut membumi hanguskan. Namun, perannya atas dunia yang begitu besar cukup membuat ku kebingungan. Bermacam produk yang terjual di pasaran, media hiburan besar, dan banyaknya brand kesukaan yang turut berafiliasi membuat mata ku tertutup akan kenyataan.
Kenyataan pahit, bahwa aku terkekang dan terpenjara dalam kuasa atas sesuatu yang tak sesuai dengan kemanusiaan. Dan seharusnya aku yang mengutuk segala tindakan tak masuk akal soal nyawa manusia itu pun akhirnya terpendam. Amarah ku kini bukan lagi ku tujukan pada dunia yang tak adil. Geram, ku tertuju atas ketidak berdayaan ku melawan keinginan yang menjadi tombak keresahan.
Ya, jawaban atas resah yang sebenarnya bukan tak menemui jawab, tapi resah yang ku pendam demi kenyamanan atas keinginan dan kebutuhan. Resah yang semakin hari menggerogoti batin. Batin yang hingga saat ini ternyata masih berfungsi dan memiliki rasa yang cukup memantik.
Pengunaan boikot sebagai strategi politik utama. Kami lakukan untuk dapat mengekspresikan pendapat politik tentang pasar, seperti menolak untuk membeli barang tertentu. Karena adanya alasan politik kesewenang-wenangan suatu negara atas tuntutan dunia yang tak berdampak, kemudian adanya nilai kemanusiaan dan moral yang juga di tindas. Hal ini merupakan perwujudan bahwa sebagian belahan dunia masih memiliki mata keadilan yang tak buta.
Ditengah berbagai aksi yang ada timbul perdebatan di masyarakat, khususnya di hidup ku. Berbagai pandangan lain bahwa reaksi masyarakat terhadap gerakan pro Palestina tidak cukup efektif dan tidak berpengaruh maupun berdampak bagi Israel. Beberapa pandangan menyebut gerakan itu justru lebih berdampak pada setiap negara yang melakukan boikot. Karena dapat merugikan karyawan lokal yang terancam di-PHK akibat lesunya keuangan perusahaan yang diboikot.
Kegiatan lainnya seperti pembandingan perhatian masyarakat yang bersuara terhadap kasus palestina dengan kasus konflik negara. Membuat ku saat ini merasa terdorong untuk mencari lagi, apakah resah dan tindakan yang mendorong ku untuk berpartisipasi dalam gerakan boikot, dan kampanye gerakan kemanusiaan adalah tindakan yang keliru dan tak mengubah kondisi huru-hara dunia saat ini.
Dalam praktiknya di masyarakat, produk-produk dari perusahaan apa saja yang perlu diboikot pun simpang siur dan tak jelas. Namun beberapa aplikasi yang bisa mendeteksi adanya afiliasi, cukup berfungsi untuk ku gunakan sebagai bentuk partisipasi. Guncangan pergulatan hati kembali menghampiri, saat di mana perbincangan mengenai branding ulang suatu produk dengan kolaborasi bersama idol korea, menjadi sorotan hangat para komunitas pecinta Kpop yang aku juga ikut tergabung di dalamnya. Sebagai penggemar yang merasa dihancurkan hatinya dengan kolaborasi yang ada, membuat kami harus menahan diri untuk menggandrungi idola, bahkan juga dimusuhi sesama komunitas di negara asal sang idola.
Sementara itu, sebagian generasi muda di lingkungan ku yang biasa berlangganan salah satu platform untuk hiburan mulai menyatakan tak akan lagi menonton series/film yang ditayangkan oleh perusahaan tersebut. Bahkan, keluarga besar telah secara serius membuat daftar produk rumah tangga yang diproduksi oleh perusahaan yang berafiliasi agar tidak dibeli kembali, lalu mengubah gaya hidupnya dengan mencari produk substitusinya di pasaran.
Efektifkah? Dalam kasus ini aku melihat banyaknya perusahaan harus memberikan klarifikasi soal entitas bisnis mereka yang diklaim terpisah dari entitas di negeri induk, hingga mengadakan acara simbolik pemberian bantuan yang dikirimkan ke Palestina melalui lembaga amal tertentu. Bahkan idola ku juga sempat melakukan kontroversi besar dengan mengunggah cuitan media sosial tentang boikot, di tengah kerja samanya dengan perusahaan berafiliasi.
Pandangan nyeleneh timbul tentang apakah yang dilakukan hanya semata-mata untuk mengembalikan kepercayaan para pembeli ataupun pengemar seperti kami, atau mereka benar menyadari pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia yang tidak di indahkan oleh mereka sebagai pemangku kekuasan dunia. Hal ini memberikan gambaran bahwa peran dan aksi kami menyuarakan kemanusiaan cukup berpengaruh akan sebuah tragedi dunia yang tak terselesaikan.
Hanya saja, semua dikembalikan lagi pada diri kita masing-masing, karena dasarnya kita sebagai manusia memiliki hak untuk menentukan jalannya kehidupan sesuai dengan kemauan di dalam koridor kemanusiaan dan tanggung jawab yang benar. Sudah sepatutnya kita semua lebih bisa berperan aktif atas huru-hara dunia. Agar para pemangku kekuasaan tidak lagi merasa dirinya lebih super power di bandingkan miliaran jiwa manusia yang patut di dengar.








