Foto : Istimewa
Oleh : Azkal Azkia Nurrohmat
Klikwarta.com - Senja mulai menunjukkan pesonanya, menghiasi pondok pesantren yang terletak di bilangan Jakarta Selatan. Lantunan selawat menggema dari masjid utama. Para santri duduk bersimpuh menunggu waktu salat maghrib sembari berzikir dengan tasbih di tangannya. Ya, itulah suasana di pondok pesantren yang senantiasa ingat kepada sang pencipta.
"Ke Darunnajah Apa yang Kau Cari" Kalimat yang terpaut di atas gedung asrama. Bukan hanya sekadar kalimat, tapi mengingatkan santri untuk memiliki tujuan ketika memasuki pondok ini. Tak hanya sekadar belajar ilmu agama, tetapi juga belajar untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
Ada ribuan santri yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dengan latar belakang berbeda-beda. Di pesantren, para santri tak hanya dibekali ilmu keagamaan, tetapi juga belajar bagaimana mereka dapat saling memahami satu sama lain. Itulah yang dikatakan oleh Aqshal, seorang alumni yang sejak kelas satu Tsanawiyah mengenyam pendidikan di pondok pesantren.
Di pesantren, seluruh santri menginap di dalam asrama. Tentu, seluruh aktivitas yang mereka jalani hampir dilakukan bersama-sama. Aqshal mengungkapkan kalau di pesantren, tuh, kita hidup bareng-bareng dalam satu kamar, makan bareng, bahkan tidur pun bareng. Menurutnya juga, saling berkomunikasi dan memahami adalah hal yang harus ada di setiap santri. Karena kalau nggak ngerti perasaan dan sikap temannya di dalam kamar, akan mudah sekali terjadi kesalahpahaman.
Di Darunnajah, santri diajarkan tata krama dan saling menghargai satu sama lain. Di awal masuk pesantren, santri dibekali etika-etika kepesantrenan dalam acara Khutbatul Arsy. Pimpinan Pesantren K.H. Sofwan Manaf, menyampaikan hal-hal penting terkait pondok Darunnajah juga berbagi pengalamannya ketika beliau menjadi santri dahulu.
Lalu setelahnya, santri akan menjalani hidup di asrama seperti biasanya. Terdapat mudabbir atau kakak pembimbing di asrama untuk tetap mengawasi kegiatan santri. Tak hanya itu, ia juga memberikan nasihat-nasihat keagamaan ketika malam menjelang tidur.
Para santri memang kerap kali merasakan "tekanan batin" di kamarnya. Hal itu sering terjadi karena santri tidak kuat menjalani kehidupan di pondok dengan segala peraturannya. Tugas yang setiap hari ada, hingga kedisiplinan yang kerap kali terlupa. Aqshal mengungkapkan bahwa teman seperti itu harus dirangkul dan dibantu.
Peka terhadap sesama adalah aspek penting. Tak sampai di situ saja, Aqshal menjelaskan bahwa memahami orang lain bikin hidup di pondok lebih baik, enak, dan ukhuwah makin kuat. Nilai-nilai tadi yang menjadi dasar santri untuk tetap bertahan di pesantren.
Dalam menjalani kehidupan di pondok, santri dilatih dari hal-hal kecil. Mulai dari kebersihan asrama, hingga menjadi pengurus organisasi. Dari situlah kerja sama setiap santri terbentuk. Gak cuma teori, tapi langsung praktik tiap hari.
Seperti santri akhir kelas 6 atau kelas 12 SMA. Para santri dituntut untuk menjadi pemimpin dalam organisasi. Tentu, bukanlah hal yang mudah untuk bisa menjadi pemimpin dan penggerak untuk ribuan santri di pondok. Pada masa-masa tersebut, santri juga merasakan pengabdian masyarakat ke tempat-tempat terpencil di Indonesia. Hal tersebut untuk memberikan pengajaran dan membantu masyarakat di daerah tersebut. Kegiatan ini juga merupakan praktik untuk santri sebelum mereka lulus dan mengabdi untuk masyarakat.
Bagi Aqshal, hidup di pondok merupakan suatu anugerah yang harus disyukuri. Karena dari situlah ia banyak belajar sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya. Di mana saat keluar nanti, akan menjadi pengabdi untuk masyarakat.








