Mendikdasmen Abdul Mu’ti
Klikwarta.com, Jakarta, 14 Agustus 2026 — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendapat apresiasi dari Save the Children Indonesia sebagai mitra strategis dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Apresiasi tersebut disampaikan dalam Festival Pahlawan Anak yang diselenggarakan Save the Children Indonesia di Jakarta, Kamis (13/8), yang menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan gagasan, cita-cita, dan harapan kepada para pemangku kepentingan.
Festival Pahlawan Anak menjadi ruang bagi 14 anak dari program Nona Hebat untuk menyampaikan gagasan dan harapan, termasuk mengenai pencegahan perundungan, perlindungan dari kekerasan dan pelecehan seksual, serta lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.
Menanggapi aspirasi tersebut, Menteri Mu’ti mengatakan gagasan anak-anak mengenai sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman sejalan dengan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman. Hal tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo melalui gerakan Budaya ASRI, yaitu aman, sehat, resik, dan indah.
“Banyak ide yang menarik tentang bagaimana sekolah dapat menjadi tempat di mana mereka merasa aman, merasa nyaman untuk belajar. Dan ini yang juga sejalan dengan program yang sudah kami laksanakan, membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan budaya sekolah dilakukan dengan pendekatan humanis, inklusif, dan partisipatif melalui kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Save the Children. Ia juga menilai aspirasi anak mengenai pencegahan perundungan sejalan dengan program Kemendikdasmen yang membutuhkan dukungan berbagai pihak.
“Mudah-mudahan program seperti ini tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama, bahkan menjadi budaya yang kita laksanakan berdasarkan kesadaran dan juga visi bahwa masa depan negara ini ditentukan oleh anak-anak kita,” tutur Mendikdasmen. Ia berharap sekolah menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar, berinteraksi, dan tumbuh bersama dalam keberagaman.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi menekankan pentingnya membangun ruang aman bagi anak melalui keterlibatan seluruh pihak. Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024, sebanyak 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya, sementara 33,64 persen mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.
Menteri Arifah menegaskan data tersebut merepresentasikan pengalaman takut, kecewa, khawatir, dan trauma yang dialami anak. Karena itu, seluruh pihak perlu bergerak sebelum anak menjadi korban. “Ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Ini harus bersama-sama,” ujarnya.
Menurutnya, perlindungan anak perlu dilakukan dengan membangun lingkungan aman, merespons ketika kekerasan terjadi, serta memastikan dukungan bagi anak. Ruang aman tersebut perlu hadir di keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital
Menteri Arifah juga menilai Festival Pahlawan Anak menjadi momentum penting untuk mendengarkan suara anak. Ia mengajak seluruh pihak mengawal agar mimpi dan cita-cita anak dapat terwujud dengan dukungan bersama.
Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Save the Children Indonesia, Dewi Soeharto mengatakan ruang aman memungkinkan anak menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi, direndahkan, atau disakiti. Menurutnya, menciptakan ruang aman merupakan tanggung jawab orang dewasa.
“Tentunya pertama kalinya adalah dengan mendengarkan anak-anak. Mendengar tidak hanya menggunakan telinga kita, tapi dengan segenap hati, isi pikiran kita,” ujar Dewi. Ia berharap Festival Pahlawan Anak mendorong semakin banyak pihak untuk mendengarkan suara anak dan mengambil tindakan nyata. (*)








