Waka Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu Suimi Fales SH MH
OTG Harus Jadi Perhatian Serius Tim Gugus Tugas, Pemerintah Harus Hadir Beri Solusi ke Masyarakat
Klikwarta.com, Bengkulu - "Melawan virus corona atau Covid-19 dibutuhkan sinergi semua pihak. Tak hanya tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, namun juga seluruh masyarakat harus bersatu memutus mata rantai Covid-19 itu". Demikian ditegaskan Suimi Fales SH MH, Waka Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu saat dihubungi Klikwarta.com via Telephone, (12/05).
Dikatakan Suimi, menyikapi pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, masyarakat harus berperan aktif ikut berpatisipasi mencegah penyebarannya.
"Tentu semua harus bersatu, baik itu Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota serta masyarakatnya. Ini tidak bisa hanya mengandalkan tim gugus tugas. Jika demikian, maka masalah Covid-19 ini tak selesai-selesai. Untuk itu, marilah semua menyadari bahaya Covid-19 ini, bersatu putus mata rantai penyebarannya", ungkap Suimi Fales.
Patuhi Protokol Kesehatan, lanjut Suimi, masyarakat harus memahami disituasi wabah. "Harus pakai masker, itu penting. Juga jaga jarak, agar tidak terjadi lagi penyebaran Covid-19", ujarnya.
Sisi lain, kata Suimi, tim gugus tugas dan aparat harus tegas, seperti mewajibkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker. Disamping itu, mengimbau masyarakat tidak mudik dan juga tidak berkumpul atau membuat kegiatan mengundang keramaian.
"Ada baiknya razia masker ditingkatkan. Disamping itu ditindak tegas soal hiburan malam yang masih buka atau lain sebagainya yang masih mengundang keramaian", jelas Suimi.
"Dimana-mana orang masih ada yang tidak pakai masker, menganggap daerah kita ini masih aman. Ini tidak boleh terjadi lagi. Kita harapkan semua menyadari bahaya Covid-19 dan segera ikut serta memutus mata rantai penyebarannya", sambung Suimi.
Dijelaskan lagi oleh Suimi, semua orang berpotensi terjangkit Covid-19. "Maka dari itu, apapun profesi kita selalu waspada, jangan sampai lalai saat beraktivitas disituasi wabah. Mau pejabat, masyarakat biasa dan lain sebagainya, semua berpotensi terjangkit. Jadi, kewaspadaan harus terjaga disetiap aktivitas semua orang", ungkap Suimi.
"Kepada para medis juga tingkatkan kehati-hatian, saat bertugas tingkatkan kewaspadaan dan hati-hati. Apalagi saat menangani pasien Covid-19", kata Suimi.
"Mulai dari pemeriksaan awal hingga dalam masa penanganan di rumah sakit, para medis harus hati-hati. Karena sudah ada Orang Tanpa Gejala (OTG) namun ternyata positif corona. Nah, saat pemeriksaan awal, seperti rapid test, tentu harus hati-hati agar tidak terjangkit", pesan Suimi.
Menanggapi adanya tenaga medis yang sudah ikut terjangkit, kata Suimi, kita doakan secepatnya sembuh. "Kita maklum, karena virus ini tidak terlihat. Namun, ini menjadi catatan penting bagi seluruh tenaga medis yang ada di Bengkulu, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian dalam menangani orang terjangkit corona", katanya.
Tambahnya, bersatu memutus mata rantai penyebaran Covid-19, harus menjadi prioritas utama masyarakat Bengkulu.
OTG Harus Jadi Perhatian Serius Tim Gugus Tugas, Pemerintah Harus Hadir Beri Solusi
Terkait kasus Orang Tanpa Gejala (OTG) positif Covid-19 di Bengkulu, diminta menjadi perhatian serius tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan juga seluruh tenaga medis.
"OTG sangat berbahaya, maka dari itu, tim gugus tugas harus lebih waspada dan terus mensosialisasikan ke seluruh elemen masyarakat untuk pakai masker", ungkap Suimi Fales.
"Soal OTG ini kan kita tidak ada yang tahu kalau positif corona, ketika datang ke puskesmas, dicek tidak ada gejala, ternyata positif corona. Maka, semua tenaga kesehatan juga harus waspada, baik ditingkat puskesmas maupun tim gugus tugas", ungkapnya.
Menurut Suimi, untuk selanjutnya, semuanya harus diperketat. Kendati demikian, pemerintah juga harus memberikan solusi ditengah situasi pandemi Covid-19.
"Misal, pemerintah mewajibkan semua orang pakai masker, maka pemerintah harus segera membagikan masker ke masyarakat", cetus Suimi.
Lanjutnya, anggaran untuk penanganan Covid-19 sudah selesai dibahas. Untuk anggaran masker kurang lebih Rp 600 juta. "Segera belanjakan itu dan bagikan semua ke masyarakat. Selanjutnya baru adakan razia masker", ungkapnya lagi.
"Jangan sampai ada kejadian masyarakat dikejar-kejar karena tidak pakai masker. Karena tidak semua masyarakat mampu membeli masker", jelasnya.
Pemerintah harus hadir memberikan solusi, terang Suimi, itu penting dilakukan. Mengingat, disituasi wabah, semua orang merasakan dampaknya, terutama secara ekonomi.
"Segera, secepatnya dari jajaran pemerintah provinsi, kabupaten dan kota hingga desa-desa salurkan bantuan ke masyarakat. Jangan terlalu banyak 'mikir', semua harus sinergi memberikan solusi ke masyarakat ditengah wabah", tegas politisi PKB ini.
"Semua harus secepatnya bergerak, bukan soal penanganannya saja. Soal penyaluran bantuan juga harus secepatnya dan maksimal", tegasnya lagi.
Terkait bantuan sosial tunai, tambah Suimi, semua musyawarahkan saja, jangan ada isu-isu atau dugaan-dugaan yang akhirnya hanya menghambat penyaluran bantuan.
"Soal klasifikasi penerima dan lain sebagainya penerima bantuan. Baiknya, selesai ditingkat musyawarah desa. Dalam musyawarah kan nanti ketahuan mana yang sangat layak untuk diberi bantuan dan mana yang tidak. Yang merasa masih mampu dan ternyata masuk daftar penerima bantuan, baiknya juga harus mengundurkan diri sebagai penerima, atau tetap menerima bantuan, namun disalurkan lagi ke warga lainnya yang berhak menerima. Sehingga masalah penyaluran bantuan tepat sasaran", terangnya.
Pihak penyalur bantuan juga harus transparan, tegas Suimi, jangan sampai tertutup. Agar tidak terjadi polemik. "Semua penyaluran bantuan harus transparan, dimusyawarahkan dan diberitahukan ke semua warga", pungkasnya menandaskan. (Red/Jansen)











