Kepulangan Lima Murid Peraih Medali IPhO 2026 Disambut Hangat Kemendikdasmen
Klikwarta.com, Kota Tangerang, Banten, 15 Juli 2026* — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyambut kepulangan Tim Olimpiade Fisika Internasional Indonesia yang berhasil membawa pulang satu medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu dari ajang 56th International Physics Olympiad (IPhO) 2026 di Bucaramanga, Kolombia. Prestasi ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya, di mana Indonesia meraih tiga medali perunggu dan dua sebutan terhormat (_honorable mention_).
Kepulangan lima murid terbaik bangsa ini disambut langsung oleh perwakilan Kemendikdasmen, Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (SAM) bidang Manajemen Talenta, Mariman Darto, dan Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono di bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, Selasa (14/7). Keberhasilan ini dipandang sebagai hasil nyata dari proses pembinaan talenta yang berkelanjutan dan dedikasi tinggi para peserta di kancah internasional.
Mariman Darto yang hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) menyampaikan apresiasi serta terima kasih yang mendalam atas dedikasi seluruh tim. ”Bapak Menteri secara khusus menitipkan salam dan ucapan terima kasih banyak. Beliau memberikan atensi yang begitu besar kepada para murid kita yang telah berjuang di ajang International Physics Olympiad ini,” ujar Mariman.
Ia menambahkan bahwa kementerian berharap prestasi ini menjadi fondasi bagi mereka untuk tumbuh menjadi periset, inovator, serta pemimpin bangsa masa depan yang mampu mengimplementasikan ilmunya demi kemaslahatan bangsa.
Mariman juga menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan karier belajar para delegasi, termasuk dukungan penempatan di perguruan tinggi terbaik yang kini dapat diperoleh sebagai bentuk apresiasi negara.
Kepala Puspresnas, Irene, menambahkan bahwa efektivitas pembinaan yang dimulai dari tingkat sekolah hingga Pelatihan Nasional (Pelatnas) menjadi kunci peningkatan prestasi ini. ”Melalui pengembangan potensi yang terus ditingkatkan, anak-anak akan mendapatkan manfaat nyata seperti Beasiswa Talenta Indonesia agar karier belajar mereka tetap terjamin,” jelas Irene.
Perjuangan di Kolombia menyisakan kesan mendalam bagi para anggota tim. Evan Syatia To, murid SMAK Penabur Gading Serpong peraih medali emas, menceritakan tantangan fisik berupa perbedaan waktu 12 jam yang sempat membuatnya sulit beristirahat, namun materi Pelatnas yang luas membantunya tetap fokus saat tes teori dan eksperimen.
Refleksi atas hal tersebut juga diungkapkan oleh anggota tim lainnya. Gusti Komang Abhika Atmaja, peraih medali perak dari SMAK Kesatuan Bangsa Yogyakarta, mengakui dinamika yang ia hadapi saat tes. ”Target saya sebenarnya ingin dapat emas, tapi karena ada beberapa hal yang terjadi saat tes, akhirnya saya mendapatkan perak. Namun, saya telah memberikan yang terbaik bagi Indonesia,” ujar Abhika.
Kebahagiaan senada dirasakan oleh Ackhava Adam Malonda, murid SMA Wardaya Jakarta, yang meraih medali perak pada debut internasionalnya. ”Karena ini kali pertama bagi saya, mendapatkan medali apa pun sudah sangat baik, dan saya sangat bersyukur bisa meraih medali perak ini,” tuturnya.
Sementara itu, Arrow Dunatos Pascha Kristian dari SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta menekankan nilai dari setiap proses yang dilalui. ”Secara ideal kita ingin memberikan yang terbaik, namun membawa pulang medali apa pun adalah sebuah hikmah besar bagi kami,” jelas Arrow.
Ketangguhan mental juga ditunjukkan oleh Juan Richie dari SMA Kristen Immanuel Pontianak, ”Jujur target saya emas, namun karena ada duka dan kendala saat tes, saya meraih perunggu. Meski begitu, apa pun hasil yang kita dapatkan harus tetap disyukuri sebagai pencapaian bersama,” pungkas Juan.
Ketangguhan Tim Olimpiade Fisika Internasional Indonesia di lapangan juga diakui oleh para pembina (_team leader_) yang mendampingi mereka selama di Kolombia. Budhy Kurniawan dari Fakultas Matematika dan IPA Universitas Indonesia (FMIPA UI) mengungkapkan bahwa meski harus menempuh 36 jam perjalanan dan aturan ketat seperti penyimpanan gawai, semangat lima murid ini tetap luar biasa. ”Secara intelegensia, murid kita tidak kalah dengan negara lain. Yang kami pupuk terus adalah kestabilan emosi dan jiwa pemenang agar mereka tetap percaya diri menghadapi delegasi lain yang secara fisik mungkin lebih besar,” ujar Budi.
Senada dengan itu, Getbogi Hikmawan dari Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) menambahkan bahwa tim ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap lingkungan di Kolombia yang secara iklim serupa dengan Indonesia. Menurutnya, keberhasilan ini adalah bukti penting peran negara dalam mengonversi potensi besar demografi Indonesia menjadi prestasi nyata melalui pembinaan yang terukur. ”Prestasi ini naik bukan hanya karena potensi anak-anak, tetapi juga bagaimana kita mengelola pola pendampingan yang mendorong mereka terus berkembang,” pungkas Getbogi.
Capaian tim IPhO 2026 ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh murid di Indonesia untuk terus mencintai ilmu pengetahuan dan berprestasi. Kemendikdasmen melalui Puspresnas terus berkomitmen memperkuat ekosistem manajemen talenta nasional demi mencetak generasi emas yang berkarakter dan berdaya saing global. (*)








