Dari Sekadar Hobi ke Impian yang Bersinar

Minggu, 18/05/2025 - 19:40
Foto : Istimewa

Foto : Istimewa

Klikwarta.com - Di bawah gerimis sore yang mengguyur Tambun, Bekasi, Jawa Barat, seorang gadis kecil meliuk-liukkan tubuhnya di atas panggung darurat dari bambu. Sepatu sandal jepitnya basah, rambutnya menempel di pipi, tapi senyumnya tak pernah pudar. Angelika atau yang sering dipanggil Rara, bocah kelahiran 2012 ini sedang berlatih tari jaipong sebuah ritual harian yang ia jalani sejak duduk dibangku sekolah dasar.

"Kalau sudah menari, saya lupa sama capek mas," ujarnya, napasnya terengah namun matanya berbinar.

Awalnya, Rara hanya meniru gerakan penari dari video YouTube. Kini, ia memiliki panggung kecilnya sendiri: dari festival kampung hingga kompetisi nasional. Mimpi menjadi penari profesional bukan lagi sekadar khayalan, tapi tujuan yang ia kejar dengan hati yang tak kenal menyerah.

Awal Mula Dari Layar HP ke Panggung Nyata

Rara pertama kali jatuh cinta pada tari tradisional saat menyaksikan video pertunjukan Jaipong. "Saya pause terus, lalu coba tiruin gerakannya di teras rumah," kenangnya.

Setiap hari sepulang sekolah, ia berlatih 2 jam dengan diiringi kaset rekaman yang dipinjam dari sanggar tetangga.

Hidup sebagai anak dari keluarga sederhana tak mudah. Uang saku Rp15.000 per hari harus ia bagi untuk ongkos sekolah dan jajan. Untuk membeli kostum tari saja, ia harus menabung siasa uang saku sekolahnya. “Kostum aja saya harus nabung dulu mas, baru bisa kebeli, apalagi sepatu. Harga kostum buat satu setelan itu Rp300.000,” ucapnya.

Lomba Pertama hingga Dukungan dari Sanggar

Pada saat menjelang kenaikan kelas, Rara memberanikan diri ikut kompetisi tari se-Kabupaten Bekasi. Ia menari di antara peserta lain yang bersepatu kulit dan berkostum mewah.

"Saya dapat juara harapan. Tapi waktu itu, seorang juri bilang: 'Kamu punya jiwa tari yang murni'," ujarnya. Kalimat itu menjadi suntikan semangat.

Salah satu peserta lain dari kompetisi ini, berbicara kepadanya dan mengatakan bahwa pelatih tarinya mengajak Rara untuk bergabung ke Sanggar Tari Dwi. Peserta itu juga berkata, Rara tidak perlu khawatir dengan persoalan biaya yang dimana seluruh kegiatan latihan tidak dipungut biaya sama sekali. Di sanggar itu, Rara belajar tari Saman dan kontemporer menambah wawasannya tanpa melupakan akar Jaipong.

Menari di Tengah Tekanan "Anak Perempuan Seharusnya di Dapur"

Tak semua respons positif, omongan seperti, "Nari nggak bisa bikin kaya," atau "Buat apa juara lomba kalau nanti jadi pengangguran," sering ia dengar. Tapi Rara punya jawaban: "Saya mau jadi seperti Didik Nini Thowok bisa menghidupi diri dari tari dan melestarikan budaya." Data Kemendikbud (2024) mencatat hanya 12% orang tua di pedesaan yang mendukung anaknya berkarier di seni tradisional.

Pada April 2025, Rara dan teman-temannya terpilih mewakili Jawa Barat di Festival Tari Pelajar Nasional. Dengan dana yang diberikan pelatihnya sebesar Rp1,5 juta, ia bersama mereka berangkat ke Jakarta. Di sana, ia menampilkan Jaipong dengan iringan live musik kendang. "Penonton berdiri memberi tepuk tangan. Itu momen paling bahagia," ceritanya.

Kembali ke Tambun, Bekasi, Rara masih berlatih di panggung bambu yang sama bersama delapan orang teman yang satu sanggar dengannya. Di tangan gadis ini, jaipong bukan sekadar tarian ia adalah bahasa harapan yang ditulis dengan gerak, keringat, dan keyakinan bahwa setiap hobi bisa menjelma menjadi bintang.

Di terpaparnya modernisasi, Rara bagai penjaga api budaya. Ketika ditanya apa kunci semangatnya, ia menjawab sambil tertawa: "Nari itu seperti bernapas. Kalau berhenti, hati saya ikut mati mas," Kisahnya mengingatkan kita: impian bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan bunga yang ditanam dengan keringat, dirawat dengan kegigihan, dan mekar di tanah yang paling tak terduga.

Tags

Berita Terkait