Laila Afriyani akhirnya bisa berfoto di depan kampusnya setelah melewati berbagai seleksi penerimaan. (Sumber : Dok. Pribadi Laila Afiyani)
Oleh : Sri Latifah Nasution
Sehabis masa putih abu-abu, ada tiga pilihan yang dihadapi oleh para lulusan sekolah menengah atas maupun kejuruan. Ada yang memutuskan menikah, ada yang pontang-panting mencari kerja, ada juga yang meneruskan sekolah.
Laila Afriyani adalah salah satu dari sekian banyak siswa yang ingin melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Remaja yang akrab disapa Laila ini lahir dan tumbuh besar di Padang Lawas, Sumatra Utara. Cita-citanya menjadi seorang guru membuatnya bersemangat mencari informasi tentang berbagai perguruan tinggi.
Sama seperti kebanyakan siswa lainnya, Laila juga ingin masuk lewat jalur seleksi nasional. Namun, keinginannya untuk masuk universitas lewat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pupus saat dirinya tidak masuk dalam pemeringkatan sekolah. Tangisnya tidak dapat ia bendung saat melihat pengumuman tersebut. Bahkan, saat datang ke sekolah matanya bengkak karena terlalu lama menangis.
Teman-teman kelasnya yang bernasib sama seperti Laila pun demikian, datang ke sekolah dengan mata yang juga membengkak. Tak jarang air matanya kembali turun saat melihat teman-temannya yang lolos pemeringkatan sekolah dan berhak mendaftar ke universitas lewat jalur seleksi nasional.
“Sejujurnya dulu ada rasa kecil hati kalo lihat teman-teman yang lolos, mereka bisa mendaftar ke universitas favorit mereka lewat jalur seleksi nasional,” ucapnya.
Tak patah arang, Laila mencoba kembali mendaftar jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN) dan juga jalur Seleksi Nasional Masuk Politeknik Negeri (SNMPN). Dia mengurus semua keperluan yang dibutuhkan untuk pendaftaran dengan gigih. Selain usaha, dia juga tidak lupa berdoa agar dia bisa diterima di salah satu perguruan tinggi yang ditujunya.
Satu per satu pengumuman seleksi keluar, dengan irama jantung yang berdegub-degub, Laila membuka pengumuman tersebut. Merah. Dia tidak diterima lagi. Dia kembali harus menelan kekecewaan.
“Tidak mudah menerimanya, apalagi ditolak berkali-kali,” ungkap Laila.
Laila sempat tidak ingin mendaftar jalur lain lagi. Namun, ibunya meyakinkannya untuk tetap ikut lewat jalur yang masih ada. Akhirnya dia luluh, dan kembali mengikuti proses pendaftaran.
Sembari menunggu waktu untuk ujian, dia berusaha mempelajari materi-materi dari berbagai referensi. Selain itu, ia juga memberanikan diri berjualan online untuk menutupi biaya yang akan dia keluarkan saat ujian nanti. Pasalnya dia akan melaksanakan ujian di ibu kota provinsi, yaitu Medan. Dia tidak ingin membebani orang tuanya untuk biaya-biayanya nanti.
Waktu ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tiba. Satu per satu soal dijawabnya. Waktu ujian terasa sangat singkat baginya. Ada rasa tidak puas dalam hatinya saat keluar dari ruang ujian. Namun, di satu sisi Laila juga bangga karena bisa membiayai semua keperluan ujiannya sendiri, bahkan masih ada sisa untuk ditabung.
Pengumuman peserta yang lolos kembali membawa pil pahit bagi Laila. Untuk kesekian kalinya dia tidak diterima. Bahkan, Laila merasa bahwa masuk perguruan tinggi bukan rezekinya. Dia sempat ingin menganggur untuk satu tahun ke depan agar dia bisa mempersiapkan diri lebih matang lagi untuk ujian tahun depan.
Namun, masih ada beberapa jalur lagi yang belum dia coba. Dia merasa tidak ikhlas kalau harus melewatkan jalur seleksi ini. Ujian Masuk Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (UM-PTKIN). Ini akan menjadi percobaan terakhirnya.
Dengan sisa uangnya saat SBMPTN dulu, dia berangkat untuk kembali mencoba peruntungannya. Ia menjawab soal-soal sesuai kemampuannya. Keluar dari ruang ujian, ia berjanji apa pun hasilnya ia akan menerimanya dengan lapang dada.
Waktu pengumuman yang sangat ditunggunya pun tiba. Dan dengan satu kali klik di laman utama pengumuman, hasilnya sudah di depan matanya. Nomor ujian dan jurusannya berwarna hijau. Air mata bahagia langsung berhamburan dari matanya. Setelah ditolak berkali-kali dan melewati perjuangan panjang, akhirnya dia diterima di Universitas Islam Negeri Sumatra Utara (UINSU) dengan jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Laila menganggap ini adalah awal dari langkahnya yang baru untuk mewujudkan impiannya dan mempersiapkan diri untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. (SN)








