Mahasiswa Perlu Tahu Batas demi Merawat Diri dan Sekitar

Selasa, 20/05/2025 - 10:13
Feby saat mengikuti kegiatan organisasi kampus. (Foto: @risln_)

Feby saat mengikuti kegiatan organisasi kampus. (Foto: @risln_)

Oleh : Reza Ferdian

Klikwarta.com - Feby, mahasiswi semester empat di Politeknik Negeri Jakarta, punya cara sederhana dalam menyikapi hidup. Ia mengatakan bahwa kalau bukan urusan kita, tidak perlu terlalu dimasukkan ke kepala. Hal itu menjadi salah satu yang membuat dirinya dengan santai menyikapi keadaan.

Baginya, hidup terasa lebih ringan jika bisa memilah apa yang layak diperhatikan dan apa yang cukup dilewatkan. Ia merasa tidak semua hal perlu diserap apalagi sampai membebani pikiran. Menurutnya, menjaga kewarasan adalah bentuk perawatan diri yang paling dasar.

Pemikiran itu tidak datang begitu saja. Ia sempat kerap membandingkan dirinya dengan teman-teman dari banyak sisi. Dari nilai kuliah, kegiatan organisasi, hingga pencapaian kecil yang terlihat mencolok di media sosial.

Feby mengikuti beberapa organisasi kampus dan sempat terlibat dalam sejumlah acara kepanitiaan. Ia juga senang naik gunung dan melakukan aktivitas luar ruang lainnya sebagai pelarian dari rutinitas. Namun, semua itu terkadang justru memicu tekanan yang tidak disadarinya.

Ia sempat merasa seperti berjalan di tempat. Sementara orang lain terlihat melaju lebih cepat dengan langkah yang pasti. Perasaan itu memunculkan kecemasan dan membuatnya mempertanyakan arah hidupnya.

Namun seiring waktu, Feby mulai menata ulang cara pandangnya terhadap hidup. Ia memilih untuk lebih peduli terhadap dirinya sendiri. Ia belajar menerima bahwa setiap orang punya ritmenya masing-masing.

Ia memahami bahwa menerima ritme pribadi bukan berarti menyerah untuk berkembang. Justru, itulah fondasi untuk tumbuh dengan arah yang lebih terarah. Ia menjadi lebih tenang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Psikolog asal Amerika, Daniel Goleman, pernah menyebut bahwa kecerdasan interpersonal adalah salah satu elemen penting dalam emotional intelligence. Kemampuan ini bukan hanya memengaruhi kualitas hubungan sosial, tapi juga berdampak pada kepemimpinan, kerja tim, dan pengambilan keputusan. Pemahaman Feby tentang dirinya sejalan dengan konsep tersebut, meskipun lahir dari pengalaman pribadi yang reflektif.

Feby menyadari pentingnya kecerdasan interpersonal dalam menjalani relasi sosial. Menurutnya, hal itu bukan hanya soal pintar berkomunikasi. Tetapi lebih kepada kemampuan mengenali diri sendiri terlebih dahulu.

Pemahaman terhadap diri menjadi kunci membangun hubungan yang sehat. Jika tidak mengenal diri sendiri, empati yang muncul bisa bersifat reaktif atau bahkan basa-basi. Hal itu bisa membuat relasi terasa lelah dan tidak tulus.

Feby tidak serta-merta menarik diri dari lingkungan sosial. Ia justru menjadi lebih jernih dalam menilai energi dari orang-orang di sekitarnya. Mana yang membawa semangat positif dan mana yang malah membuatnya tertekan.

Ia mulai menyadari bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan. Beberapa relasi bisa dilepaskan jika memang tidak lagi memberi ruang untuk tumbuh. Ia lebih memilih hubungan yang sehat dan mendukung.

Menurut Feby, menjaga diri dan menjaga hubungan bukanlah hal yang saling bertentangan. Jika seseorang tahu batas dan isi pikirannya, maka ia akan lebih mudah memahami orang lain. Itu membuat relasi lebih ringan dan tidak saling membebani.

Ia percaya bahwa komunikasi yang baik tidak selalu harus banyak bicara. Yang lebih penting adalah hadir dengan sikap yang utuh dan jujur. Itu lebih berdampak daripada sekadar obrolan panjang tanpa makna.

Kehidupan kampus memang memberikan banyak pelajaran berharga. Namun, menurut Feby, justru pelajaran terbesar datang dari hal-hal yang tidak diajarkan secara formal. Ia belajar mengenali kebutuhan diri dan tidak memaksakan diri untuk selalu ada bagi semua orang.

Di balik kesibukan akademik, kegiatan organisasi, dan hobinya yang aktif, Feby justru menemukan cara mengenali dirinya secara perlahan tapi konsisten. Ia mulai terbiasa menghargai ritme pribadinya sendiri. Ia juga lebih jujur pada kebutuhan emosional dan mentalnya.

Dari kisah Feby, kita diingatkan bahwa memahami orang lain dimulai dari kebaikan kepada diri sendiri. Cukup dengan tenang dan tahu arah, seseorang bisa menjadi teman terbaik bagi dirinya maupun orang lain. Relasi yang baik tumbuh bukan dari keterpaksaan, melainkan dari keseimbangan yang tulus.

Dengan merawat diri dan memahami sekitar, kita menjaga kewarasan di tengah dunia yang bergerak cepat. Ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan kebutuhan hidup jangka panjang. Dan mungkin, dari situlah kehidupan menjadi lebih jujur dan bermakna.

Tags

Berita Terkait