Ilustrasi gotong-royong di sawah (sumber: Pexels.com/Văn Long Bùi)
Oleh: Sri Latifah Nasution
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Peribahasa tersebut sudah tidak asing lagi bagi orang Indonesia. Peribahasa yang memiliki makna bahwa sesuatu akan jauh lebih mudah dicapai jika dikerjakan secara bersama-sama (gotong royong).
Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan dengan bergotong-royong, contohnya adalah marsialapari di Padang Lawas, Sumatra Utara. Marsialapari adalah tradisi tolong-menolong antarmasyarakat dalam menggarap sawah mereka. Tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun-temurun. Marsialapari biasa dilakukan saat acara menanam dan memanen padi.
Dalam tradisi tersebut, masyarakat saling bantu secara sukarela. Walaupun dilakukan secara sukarela, nantinya si pemilik sawah juga akan melakukan hal yang sama kepada masyarakat yang sudah membantunya sebagai bentuk imbalan dan terima kasih. Jika ada 6 orang yang membantu menggarap sawah si pemilik ladang, maka si pemilik ladang harus ikut mengerjakan sawah ke 6 orang tersebut.
Tradisi marsialapari membuat pekerjaan menggarap sawah menjadi jauh lebih ringan dan juga menghemat biaya, karena para pemilik sawah tidak perlu membayar pekerja untuk ikut menggarap sawah mereka. Lewat tradisi ini, rasa kesatuan serta semangat kebersamaan masyarakat semakin erat.
Namun, di masa sekarang, tradisi tersebut sudah semakin hilang. Para pemilik sawah lebih memilih membayar pekerja untuk mengerjakan sawah mereka ketimbang marsialapari. Alasannya agar penggarapan sawah mereka lebih efisien karena biasanya sistem yang diterapkan dalam pengerjaannya adalah sistem borongan. Selain itu, terkadang ada rasa ketidakadilan saat luas sawah yang akan dilaksanakan tradisi marsialapari berbeda-beda.
“Kalau sekarang lebih baik sistem upah. Luas sawah setiap orang juga kan berbeda-beda, jadi tidak adil kalau misal kerja di sawah si A hanya setengah hari, sementara di si B bisa sampai seharian,” ucap Hermida, seorang ibu yang biasa marsialapari.
Kondisi sawah yang berbeda-beda juga menjadi kesulitan tersendiri saat melakukan marsialapari. Beberapa sawah memang diberkahi dengan tanah yang lebih mudah untuk diolah, sementara beberapa lainnya lumpurnya bisa mencapai betis saat diinjak.
“Ada juga yang tanahnya keras jadi kalau mau menanam padi lebih susah, lebih lama, “ lanjut Hermida.
Selain saat menanam padi, marsialapari di masa panen pun sudah mulai jarang dilakukan. Jenis padi yang semakin banyak tentunya membutuhkan perawatan yang semakin berbeda pula. Terkadang ada jenis padi yang batangnya saling bertaut satu sama lain. Karena sistem panen padi di Padang Lawas masih tradisional dengan menyabit padi dari pertengahan batangnya, akan menjadi lebih sulit jika mendapati kondisi batang padi yang tidak rapi.
Seharusnya tradisi seperti marsialapari ini harus semakin digencarkan. Selain sebagai wadah untuk mempererat rasa kesatuan sesama anggota masyarakat, tradisi ini diharapkan bisa menjadi sarana bertukar informasi tentang cara bertani yang lebih baik lagi. (SN)








