Telepon Terakhir

Sabtu, 08/06/2024 - 18:32
Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh: Rubiatul Adawiyah (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Beberapa waktu lalu media sosial dihebohkan dengan kabar bahwa Indonesia menjadi negara fatherless ketiga dunia. Ketidakhadiran atau tidak adanya peran ayah dalam proses tumbuh kembang anak. Ini mempengaruhi banyak anak Indonesia termasuk aku.

Aku masih menyimpan serpihan-serpihan memori dari masa kecil ketika usia 5 atau 6 tahun. Memori dimana aku menunggu setiap sore, sehabis mandi, di depan pintu rumah dengan wajah penuh bedak. Menantikan deru knalpot mobil orang yang paling sering aku ajak bermain dan kerap membawakan hadiah mainan setiap pulang. Terkadang ketika menunggu terlalu lama, aku berlari menemui ibu dan menanyakan kapan dia pulang. Berkali-kali menanyakan, ibu hanya bilang “tunggu saja sebentar lagi pulang”.

Aku menunggu sambil bermain dengan teman-teman. Ada seorang tetangga yang aku panggil kakak, dia selalu senang mengajak bermain petak umpet. Tertawa, berteriak-teriak, terkadang sampai menangis karena terlalu asik bermain. Aku yakin memomen bermain saat kecil menjadi hal paling menyenangkan yang akan terus dikenang. Bukan begitu?

Ketika malam, yang ditunggupun tak kunjung datang. Aku masih menantinya sambil menonton televisi. Terlalu lelah seharian bermain aku tertidur dibangku ruang tamu dan masih menunggu kepulangan dia. Dalam keadaan tertidur lelap, aku merasakan seseorang menggendongku. Membawaku pindah ke kamar tidur. Menyadari kehadiran dirinya, tetapi terlalu sulit untuk membuka mata. Dia mengusapkan lotion anti nyamuk pada tangan dan kakiku. Lalu menutupi tubuhku dengan selimut. Aku tak menyangka bahwa selimut biasa bisa sehangat ini.

Pagi datang, aku mencari ibu. Dia ada di dapur mencuci baju dengan raut wajah yang tidak bisa aku mengerti saat itu. Sambil mengucek mata aku bertanya “ibu dimana dia? Tadi malam aku digendong pindah ke kamar olehnya”. Ibu bilang dia sudah pergi sejak subuh tadi. Entah mengapa aku merasa ibu sangat cuek belakangan ini. Dia lebih banyak diam dari biasanya. Anak seusiaku mungkin tidak memahami situasi keluargaku kala itu.

Hampir satu pekan dia tidak pulang ke rumah. Aku tahu itu. Karena ketika tertidur didepan ruang tv aku dibangunkan ibu untuk pindah ke kamar sendiri. Aku tidak lagi menemukan diriku, tiba-tiba bangun pagi di kamar tidur sejak hari itu. Tentu banyak perasaan yang dirasakan. Selayaknya anak kecil aku menangis menanyakan kenapa dia tidak pulang juga. Bahkan susu yang biasa dia belikan setiap bulan pun sudah habis. Aku suka sekali susu itu. Ingin menanyakan apa dia sudah tidak suka lagi membelikan susu favoritku itu?

Setiap sore, aku jadi malas untuk disuruh mandi oleh ibu. Hanya menghabiskan waktu bermain bersama adik dan teman-temanku, hingga hampir magrib. Ibu marah pada karena mengajak adik bermain tidak kenal waktu. Aku yang ketakutan karena marah ibu hanya menurut bila disuruh makan, mandi dan menjaga adik. Ada perubahan besar dari diri ibu yang baru aku lihat.

Sampai suatu malam aku mendapati ibu sedang menelpon dia. Berdiri disamping ibu dengan wajah berbinar. Menunggu ibu memberikan telepon itu padaku. Aku sangat menantikan telepon darinya. Sepertinya aku sudah menjerit kegirangan karena sebentar lagi pasti dia pulang. Saat telpon itu digenggamanku dan mendengar suaranya. Ada sesuatu berdesir didadaku, tak sanggup menahan air mata karena telalu merindukannya. Dia hanya mengatakan “tidak apa-apa jangan menangis secepatnya pasti pulang, jika urusan sudah selesai” ucapnya seakan menenangkanku.

Dia menanyakan apa yang aku inginkan. Aku menjawab dengan semangat “aku ingin minum susu itu lagi, sudah hampir satu bulan susu kesukaanku habis”. Dari sini aku bisa mendengar dia menjawab permintaanku dengan suara tertahan. Seperti ada sesuatu yang dia tahan selama berbicara denganku. Katanya dia akan membelikan semua yang aku inginkan ketika pulang. Jika kamu disana kamu akan melihat betapa anak kecil itu sangat menantikan kehadiran ayahnya.

Ternyata itu adalah kali terakhir aku mendengar suaranya. Sehari setelah telpon itu, aku bangun pagi untuk mencari keberadaan dia. Mencari di kamar ibu. Berjalan ke kamar mandi, menengok ke kanan-kiri, dapur, dan teras. Nihil, yang kucari tidak ku temukan diseluruh rumah. Tidak ada kehadirannya. Dia tidak pulang tadi malam. Ini sudah 1000 kalinya ibu berbohong padaku.

Dalam kondisi ingin menangis, aku melihat ibu menjemur baju. Aku menghampirinya menanyakan dimana dia, kenapa tidak juga pulang. Dengan wajah pucat ibuku menjawab “Dia tidak akan pernah pulang lagi...”. Aku terdiam menunggu ibu melanjutkan ucapannya. Tetapi tidak lama terlihat tubuh kurus ibu terguncang. Aku tau dia menangis. Ibu sembunyikan wajahnya dibalik kain basah yang dia pegang. Sambil menghapus air matanya, ibu menyuruhku masuk dan bersiap untuk mandi. Aku berlari masuk ke kamar mandi dengan perasaan bertanya-tanya kenapa ibu menangis.

Ibu mengajakku dan adik pergi kesebuah tempat. Aku tidak tahu akan dibawa kemana oleh ibu. Ditengah perjalanan aku masih menanyakan kapan dirinya pulang dan kemana kita akan pergi. Tidak banyak jawaban dari ibu, dia hanya menyuruhku diam dan jangan banyak bertanya dengan nada penuh emosi. Sejak dia tidak pulang ke rumahku, aku tidak lagi melihat ibu tersenyum atau mengajakku bermain. Ibu lebih banyak memarahiku dan menyuruhku diam. Saat itulah aku mengubur pertanya-pertanyaanku tentang keberadaannya. Menyimpan sendiri perasaan-perasaan yang bisa membuat ibu marah bila aku ungkapkan.

Aku ingat ibu pernah mengatakan bahwa dia sudah meninggal karena kecelakaan mobil. Saat itu entah mengapa aku tidak percaya. Tidak ada makam, tidak ada jenazah yang dipocongkan, tidak ada pengumuman apapun dari masjid. Setidaknya itu yang anak kecil ketahui bila ada yang meninggal dunia. Ibu mengatakan itu kesemua orang yang menanyakan dia. Itu sekenario yang ibu buat hingga aku dewasa.

Saat ini usiaku sudah 22 tahun. Sudah cukup dewasa untuk mengerti susunan puzle masa kecilku. Dan sejak telpon terakhir itu, aku tidak lagi mengetahui bagaimana kabar dia. Aku sudah tidak lagi menanyakan keberadaannya. Tidak lagi menunggu didepan pintu setiap sore. Tidak ada susu favoritku lagi. Bahkan selimut tidak lagi bisa menghangatkan tubuhku seberapapun dinginnya udara diluar sana. Tapi Ini bukan soal selimut, susu, atau telpon terakhir itu.

Tags

Berita Terkait