Ilustrasi
Oleh: Insignia Rizki Ariesta (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
Aku masih ingat dengan jelas hari-hari di sekolah menengah itu, di mana aku sedang berusaha untuk mengikuti lomba bernyanyi. Setiap malam berlatih untuk dapat tampil baik. Di balik pintu kamar, selalu ada sosok yang paling kuandalkan dalam hidupku, Mama. Namanya Siti Rejeki, Mama yang selalu menuntunku menuju jalan kebaikan. Sosok yang selalu memberi dukungan di setiap situasi bersejarah dalam hidup ku. Mama melihat ku dengan binar bangga pada usaha ku berlatih bernyanyi.
Mama sangat tau apa yang ku suka, sehingga dukungan pun iya berikan untuk ku yang sedang merasa cemas akan suara dan rasa percaya diri. “Bagus banget suaranya, besok jadi lombanya. Jangan lupa istirahat supaya penampilan besok maksimal. Maaf ya mama gak bias nunggu, karena ada pengambilan raport besok. tapi mama ikut anter sampe tempat lomba ya,” ungkap Mama yang membuatku lebih bangga pada diri ku, apa pun hasilnya nanti jika mendengar komentarnya yang mengatakan ‘bagus’ sudah cukup bagi ku. Mama adalah idolaku, mana mungkin, pujiannya tidak berpengaruh besar atas diri ku.
Sebagai anak, aku sering merasa bahwa aku tak pernah bisa memenuhi ekspektasinya yang tinggi. Mama adalah teladan dalam segala hal. Di rumah, dia adalah Mama yang selalu memastikan kami tumbuh dengan baik, memberikan kasih sayang tanpa batas meski sering kali lelah setelah seharian mengajar. Di sekolah, dia adalah Guru yang dihormati, menginspirasi banyak anak untuk bermimpi besar dan bekerja keras.
Mama selalu mengatakan bahwa hidup adalah tentang memberi dan mendidik. Kata- kata itu sering terngiang di telingaku, terutama saat aku merasa lelah dan putus asa. "Jangan pernah berhenti belajar dan mengajar," katanya suatu malam ketika aku kesulitan memahami pelajaran matematika. "Kita harus menjadi contoh yang baik, karena dari kita, anak-anak akan belajar."
Namun, menjadi anak dari seorang Ibu sekaligus Guru seperti Siti Rejeki tidaklah mudah. Di sekolah, aku selalu merasa harus menjadi yang terbaik, menunjukkan bahwa aku layak menjadi putrinya di depan kenalannya yang berprofesi sama. Tapi, ada banyak momen di mana aku merasa gagal dan tak sebanding dengan harapan mama. Ketika nilai-nilai ujianku tidak sebaik yang diharapkan, aku melihat kekecewaan di matanya, meskipun dia berusaha menyembunyikannya dengan senyuman.
“Nilai tidak begitu penting, di luar sana banyak orang pintar, namun terkadang sukses tidak di ukur dari kepintaran saja. Jadi usaha mu sudah baik, apapun hasilnya mama bangga, semangat terus, semoga kedepan hasilnya bisa memuaskan,” ujarnya setiap kali usaha ku tak membuahkan hasil baik dan tak sesuai ekspektasi. Kata-kata ini yang selalu memberi motivasi positif di setiap usaha ku mengejar sesuatu. Ada beragam hasil yang pernah ku dapat seperti, gagal dalam lomba nyanyi, berhasil masuk pesantren impian di Gontor, dan yang terakhir mampu lolos kuliah tampa tes. Itu semua berkat Mama yang mengiringi langkah ku.
Setiap kali merasa jatuh, aku sering memandang Mama dengan rasa kagum yang bercampur dengan perasaan rendah diri. Bagaimana bisa Mama menjalani peran ganda ini dengan begitu sempurna? Di saat aku merasa tak mampu, Mama selalu menunjukkan kekuatannya, berdiri teguh di antara tugas mengajar dan mendidik di rumah. Mama adalah gunung yang kokoh, sementara aku merasa seperti debu yang terserak oleh angin.
Pernah suatu kali, aku bertanya padanya, "Mama, apakah tidak lelah?" Mama hanya tersenyum, menatapku dengan mata yang penuh kelembutan. "Setiap hari adalah perjuangan, Nak. Tapi ketika kita melakukannya dengan hati yang tulus, lelah itu akan hilang dengan sendirinya. mama ingin kau tahu bahwa tidak ada yang mustahil jika kita berusaha dan berdoa."
Kata-kata Mama selalu menjadi penopang ketika aku merasa di bawah. Mama mengajariku bahwa kehidupan adalah tentang proses dan perjuangan. Meskipun aku sering merasa kurang dan tidak cukup baik, Mama tidak pernah berhenti memberikan dukungan dan cinta yang tulus. Dia selalu ada untuk mengangkatku, menuntunku ketika aku tersesat, dan menguatkanku ketika aku merasa rapuh.
Sebagai seorang Guru, Mama tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik. Dia juga menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada murid-muridnya. Di setiap kesempatan, dia selalu berbicara tentang pentingnya kejujuran, kerja keras, dan saling menghormati. Banyak murid yang melihatnya sebagai sosok ibu kedua, seseorang yang bisa mereka andalkan di luar rumah.
Aku masih ingat saat mama mengizinkan beberapa murid untuk menginap dan melakukan banyak pertemuan bersama murid. Dengan penuh semangat, dia menjelaskan betapa pentingnya peran murid, jika mampu mendapatkan kesuksesan dan berdampak bagi orang di sekeliling. Untuk keberhasilan para murid mama pun selalu mengajak untuk orang tua bisa ikut berkolaborasi, "Kita adalah tim," katanya saat berkomunikasi melalui Zoom meeting. "Guru dan orang tua harus bekerja sama untuk memastikan anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang baik dan cerdas."
Di mata murid-murid dan orang tua, mama adalah sosok yang luar biasa. Namun, di mataku, dia lebih dari itu. Dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu berjuang tanpa mengenal lelah. Setiap kali melihatnya mengajar dengan penuh dedikasi, aku merasa terinspirasi meskipun sekaligus merasa kecil. Bagaimana bisa aku, yang sering merasa tak mampu, menjadi seperti dia?
Tetapi, mama selalu mengingatkanku bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan perjuangan masing-masing. "Kamu tidak perlu menjadi sempurna, Nak," katanya suatu malam ketika aku merasa sangat tertekan dengan tuntutan diri ku untuk bisa sukses menempuh pendidikan setelah SMA. "Yang penting adalah kamu berusaha dengan sepenuh hati dan tidak menyerah. Ibu bangga padamu, bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu selalu berusaha."
Kata-kata Mama selalu menenangkan hatiku. Aku belajar bahwa nilai sejati bukanlah tentang menjadi yang terbaik di mata orang lain, tapi tentang berusaha menjadi yang terbaik versi diri sendiri. Meski sering merasa di bawah, aku tahu bahwa mama selalu ada untuk mendukungku, memberiku kekuatan untuk terus maju, bahkan sampai akhir hayatnya.
Siti Rejeki, seorang Mama dan Guru, adalah teladan dalam hidupku. Dari dia, aku belajar bahwa ketulusan, kerja keras, dan cinta adalah kunci dalam menjalani kehidupan. Meskipun aku sering merasa rendah diri di hadapannya, aku tahu bahwa di balik semua itu, ibu selalu melihat potensiku dan percaya bahwa aku bisa menjadi lebih baik. Kehilangan terbesar adalah saat sosoknya tak lagi bisa menemani pencapaian dan kegagalan ku hingga akhir. Mama semoga di kehidupan setelah ini kita bisa bertemu dan membuat banyak memori indah. Salam rindu dari anak perempuan yang sebenarnya tak pernah bisa menandingi kecantikan mu.








