Warung Kecil Penuh Harapan, Kisah Sugiyanto Bertahan di Tengah Krisis

Minggu, 18/05/2025 - 19:36
Kisah Sugiyanto Bertahan di Tengah Krisis

Kisah Sugiyanto Bertahan di Tengah Krisis

Klikwarta.com - Pagi belum sepenuhnya terbangun ketika Sugiyanto, lelaki berusia 60-an itu, sudah bersiap membuka pintu kecil warung sembakonya. Setiap pelanggan dengan senyum yang tak pernah pudar, meski garis-garis lelah di wajahnya tak bisa disembunyikan. Warung itu bukan sekadar tempat jual beli, melainkan saksi bisu perjuangan seorang bapak untuk menghidupi keluarganya, menaklukkan gelombang kehidupan.

Pada tahun 2019 menjadi titik balik perjalanan hidup Sugiyanto. Ia, yang dulunya bekerja di sebuah perusahaan swasta, harus menerima kenyataan pahit dengan memutus hubungan kerja akibat penyakit jantung yang dideritanya. Uang pesangon yang diterima tak seberapa, namun cukup untuk menyalakan secercah harapan. Separuh dari uang itu digunakan untuk membuka warung sembako, sementara sisanya ditabung untuk pendidikan anak bungsunya yang sedang kuliah.

“Uang pesangon itu saya bagi dua, setengah untuk membuka usaha warung sembako, setengah lagi untuk tabungan anak saya biaya kuliah,” ujarnya.

Dalam dua tahun pertama, warung itu berjalan lancar. Keuntungan yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar kuliah anak, dan sedikit menabung. Namun, pandemi Covid-19 yang melanda sejak tahun 2020 mengganggu kestabilan ekonomi. Pendapatan menurun drastis, pelanggan makin jarang datang, sementara harga kebutuhan pokok melonjak.

Kini, di tahun keenam usaha, Sugiyanto mengakui pendapatan mulai menurun lagi, seiring kondisi ekonomi Indonesia yang sedang krisis. “Kadang rame, kadang sepi. Rata-rata pendapatan sekitar 500-600 ribu per hari,” jelasnya.

Tinggal di rumah sederhana yang juga menjadi lokasi warung, Sugiyanto hidup bersama istri dan dua anak. Anak sulungnya sudah menikah, namun masih tinggal serumah karena kesulitan ekonomi. Sementara anak bungsunya masih menempuh pendidikan tinggi, menjadi tumpuan harapan keluarga.

Sugiyanto bukan hanya pedagang, ia juga akuntan bagi usahanya sendiri. Setiap pemasukan dan pengeluaran dicatat rapi, laba dihitung, tabungan disisihkan sedikit demi sedikit. Jika omzet menurun, tabungan itulah yang menjadi penolong.

"Kalau lagi sepi, saya ambil dari tabungan. Nanti kalau ramai, saya isi lagi. Begitu terus," katanya, seolah mengajarkan filosofi sederhana tentang bertahan hidup.

Berjualan di lingkungan sendiri membuatnya harus siap menghadapi tantangan yang akan dihadapinya yaitu utang dari tetangga. Sugiyanto sering kali tak tega menolak, meski tahu itu berisiko bagi kelangsungan warungnya.

"Sebenarnya nggak boleh, tapi gimana lagi, namanya tetangga. Kadang nggak enak hati. Tapi ya, itu juga yang kadang bikin penjualan macet," ucapnya, tersenyum pasrah.

Saat pendapatan menurun, Sugiyanto mengambil tabungan hasil penjualan sedikit demi sedikit. “Ya gimana lagi, disyukuri saja,” ujarnya penuh keikhlasan. Ia berharap usaha kecilnya bisa terus mencukupi kebutuhan keluarga.

Sebagai seorang ayah, Sugiyanto memendam harapan besar untuk anak-anaknya. “Mudah-mudahan anak saya bisa lulus dengan baik, dapat pekerjaan layak, dan bisa membanggakan orang tua,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Ia juga berharap anaknya yang sudah menikah bisa mandiri dan bertanggung jawab atas keluarganya sendiri. “Sebagai orang tua, saya ingin mereka bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan menjalani hidup dengan baik,” tutup Sugiyanto.

Kisah Sugiyanto adalah cermin dari keteguhan hati dan perjuangan tanpa henti seorang bapak dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Di balik warung kecilnya, tersimpan harapan besar untuk masa depan anak-anaknya dan keluarga yang dicintainya. Sebuah cerita sederhana namun sarat makna, mengingatkan kita bahwa di setiap tetes keringat, ada doa dan asa yang terus menyala.

Penulis : Arief Ferdian Maulana

Tags

Berita Terkait