Sumber foto Sabrinna Az Zahra, Mahasiswa Prodi Penerbitan Jurnalistik PNJ
Oleh : Sabrinna Az Zahra
Klikwarta.com - Matahari sore menggantung rendah di langit kampus, warnanya tembaga pucat. Angin berembus malas, membawa suara klakson dan riuh rendah anak-anak yang baru selesai kelas praktikum. Aku duduk di dekat danau buatan belakang fakultas, tempat favoritku untuk diam. Di seberang sana, ada seorang wanita yang dari tadi menatap kosong ke air, seragam praktiknya masih dipakai, lengkap dengan name tag dan sepatu model clogs berwarna ungu muda.
Namanya Rizka. Mahasiswi tingkat tiga Fakultas Keperawatan. Aku tahu itu setelah ia mendekat dan, tanpa aba-aba, langsung berkata, “kamu pernah nggak sih ngerasa kayak... kayak kamu udah ngasih semuanya, tapi tetep gagal?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Berat, tapi terasa akrab. Aku cuma mengangguk. Karena rasanya, siapa pun yang pernah kuliah apalagi di jurusan seberat keperawatan pasti pernah mengalaminya.
Rizka bercerita. Tentang tugas laporan praktik yang ditolak berkali-kali. Tentang pasien yang marah tanpa alasan. Tentang dosen pembimbing yang galaknya bisa bikin lutut gemetar. Dan tentang satu malam yang bikin dia nggak berhenti nangis di pojokan kamar asrama, karena berpikir, “Apa aku cocok jadi perawat? Apa aku salah jurusan?”
“Aku capek,” katanya lirih. “Kadang aku pengin berhenti aja. Tapi... setiap kali aku lihat pasien yang senyum pas disuapin, atau bilang ‘terima kasih ya, Dek’, aku ngerasa... ya Allah, ini mungkin memang jalanku.”
Kalimat itu pelan, tapi menusuk. Ada harapan yang nyaris padam, tapi masih berkedip pelan di ujung gelap.
Semangat juang sering kali hadir tidak dengan gegap gempita. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk revolusi, pencerahan, atau keberhasilan besar. Kadang, ia datang sebagai air mata yang diseka diam-diam. Sebagai kehadiran di ruang kelas meski hati ingin menyerah. Sebagai satu langkah kecil di hari yang berat.
Rizka adalah potret dari banyak mahasiswa keperawatan yang tidak hanya diuji secara akademik, tapi juga emosional dan mental. Tugas mereka bukan hanya belajar teori dan praktik medis, tapi juga belajar menjadi manusia yang utuh, sabar, lembut, dan kuat sekaligus.
Dalam dunia keperawatan, semangat juang bukan cuma tentang lulus tepat waktu atau nilai sempurna. Tapi tentang bagaimana mereka belajar tetap berdiri meski dijatuhkan oleh tangisan pasien, kemarahan keluarga, atau teguran mentor. Mereka dituntut untuk menjadi cahaya di tempat paling suram, dan itu... tidak mudah.
Dari obrolan singkat itu, aku jadi ingat pada teori Angela Duckworth soal Grit, bahwa ketekunan dan hasrat jangka panjang jauh lebih menentukan keberhasilan seseorang dibandingkan kecerdasan semata. Dan Rizka adalah grit yang hidup. Ia mungkin lelah. Tapi ia tetap hadir. Ia tetap mencoba. Dan itu adalah bentuk semangat juang yang paling jujur.
Aku bertanya padanya, “Apa sih yang bikin kamu masih bertahan?”
Ia tersenyum kecil, senyum yang lelah tapi tulus. “Karena aku pengin bantu orang. Karena aku tahu, meskipun aku belum sempurna, keberadaanku bisa bikin seseorang merasa sedikit lebih baik hari itu.”
Dan aku langsung tahu meski hari-harinya berat, api dalam dirinya belum padam.
Kadang, kita terlalu terpaku pada hasil. Pada nilai, IPK, ranking, lulus cepat, kerja mapan. Tapi hidup bukan perlombaan satu garis lurus. Setiap orang punya medannya masing-masing. Ada yang berlari di jalan mulus, ada yang harus naik turun bukit curam. Tapi semua tetap berjuang.
Dan kamu yang membaca ini, mungkin juga sedang merasa seperti Rizka. Stres, lelah, merasa tidak cukup. Tapi kamu masih bangun pagi, masih berangkat kuliah, masih membuka laptop dan mencoba memahami slide yang sulit itu. Dan itu sudah cukup jadi bukti bahwa semangatmu masih hidup.
Semangat juang bukan tentang seberapa cepat kamu sampai, tapi tentang seberapa keras kamu bertahan. Ia bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling setia pada langkahnya sendiri.
Kamu mungkin tidak merasa hebat hari ini. Tapi faktanya, kamu sudah hebat karena kamu tidak berhenti. Kamu sudah luar biasa karena kamu masih berani berharap, meski hanya setitik.
Saat kami berpamitan, Rizka bilang satu hal terakhir yang masih terngiang di kepalaku sampai sekarang.
“Aku nggak tahu aku akan jadi perawat hebat atau nggak. Tapi aku tahu, aku nggak mau menyerah hari ini. Mungkin besok juga nggak. Karena aku percaya... aku dibutuhkan. Aku berarti.”
Dan bukankah itu cukup? Bukankah semangat juang memang sesederhana itu terus mencoba, hari demi hari, meski dunia tidak selalu ramah?
Kalau kamu sedang merasa lelah seperti Rizka, ingatlah api dalam dirimu masih menyala. Mungkin kecil. Mungkin berkedip-kedip. Tapi masih hidup. Dan selama api itu menyala, kamu belum kalah.
Karena hidup bukan tentang jadi yang paling terang. Tapi tentang terus menjaga cahaya, sekecil apa pun, di tengah gelap. Dan kamu, kamu sedang melakukannya dengan sangat baik.








