Jelang Muktamar NU ke-35, Gus Ali Sampaikan Kritik Tajam

Kamis, 13/08/2026 - 05:07
KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali dalam Dialog Publik di Surabaya, Rabu (12/8).

KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali dalam Dialog Publik di Surabaya, Rabu (12/8).

Klikwarta.com, Surabaya - Pesan KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali dalam Dialog Publik “Transformasi Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” terdengar ringan. Tapi di baliknya ada kritik tajam untuk kondisi internal Nahdlatul Ulama (NU).

Di hadapan peserta yang digelar Wartawan Pokja Grahadi, JUST, dan PMII Jawa Timur di Surabaya, Rabu (12/8), Gus Ali mengingatkan: kekuatan NU tidak boleh lahir karena ada musuh bersama. Persatuan harus tumbuh dari kesadaran, bukan karena terpaksa menghadapi ancaman dari luar.

Gus Ali membuka paparan dengan mengutip ungkapan ulama hadis Sufyan bin Uyainah, “Inda dzikris-shalihin tanzilur-rahmah” — ketika nama orang-orang saleh disebut, rahmat akan turun. 

Makna itu kemudian diperkuat Imam Al-Ghazali. Namun ada satu catatan penting yang menurut Gus Ali sering terlupakan: tradisi para ulama terdahulu dibangun di atas prinsip saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

“Ulama-ulama dulu itu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” ujarnya.

Dari konsep mahabbah atau cinta kepada orang saleh itulah Gus Ali menarik benang merah ke tubuh NU. Ia menilai mahabbah adalah salah satu modal sosial terbesar organisasi yang didirikan para ulama. 

Tepat di titik itulah kritiknya mengemuka.

Gus Ali menyebut NU kerap baru benar-benar kompak saat punya musuh bersama. Dengan logat Jawa yang diselingi humor, ia melontarkan sindiran: “NU iku iso kuat, rukun, nek digolekno mungsuh.”

Kalimat itu memancing tawa audiens. Tapi jika ditarik lebih dalam, itu adalah kritik terhadap penyakit klasik organisasi: mengapa kerukunan harus menunggu datangnya ancaman?

“Dadi nek mungsuhe ora ono, rukun nek njero,” lanjutnya.

Untuk menguatkan, Gus Ali mencontohkan sejarah ketika NU menghadapi Partai Komunis Indonesia (PKI). Tekanan dan ancaman saat itu justru membuat warga NU bergerak bersama. 

Ia menggambarkan bagaimana pembangunan masjid bisa rampung hanya dalam seminggu karena rasa terancam dirasakan bersama. Sebaliknya, saat musuh tidak terlihat, energi internal NU justru habis untuk urusan internal.

“Dulu zaman PKI, nggawe masjid iku seminggu mari NU iku. Opo'o? Ono mungsuhe. Saiki? Ya Allah, nggawe masjid ditar-tarino,” katanya.

Pernyataan itu menjadi tamparan di tengah pembahasan kepemimpinan NU abad kedua. Sebab tantangan hari ini tidak lagi berbentuk musuh yang kasatmata. Tantangannya justru fragmentasi internal, perebutan pengaruh, benturan kepentingan, hingga gagal mengelola perbedaan.

Gus Ali menekankan NU butuh kader yang tidak mudah terseret konflik internal. Ia meneladankan H.O.S. Cokroaminoto: mampu berdiskusi, berdebat, tetap istikamah, dan menghargai perbedaan.

Ia berharap NU melahirkan generasi pemimpin dengan karakter serupa: tenang menghadapi konflik, aktif bergerak, dan mampu mengubah perbedaan menjadi kekuatan.

“Mampu membingkai perbedaan menjadi kuat,” tegasnya.

Pesan Gus Ali menjadi relevan karena memasuki abad kedua, keberhasilan NU tidak bisa lagi diukur hanya dari jumlah warga, luasnya jaringan pesantren, atau kokohnya struktur. Ujian terberatnya adalah: bisakah NU tetap solid saat tidak ada musuh bersama?

Jika kerukunan hanya muncul karena ada lawan, maka persatuan itu rapuh. Sebaliknya, jika mahabbah benar-benar jadi fondasi, maka perbedaan tidak akan berubah menjadi pertarungan internal.

Gus Ali kembali mengingatkan pesan awalnya: rahmat tidak turun begitu saja. Ada kebajikan yang harus dikerjakan, dan kebajikan itu berawal dari mahabbatus-shalihin — mencintai orang-orang saleh.

Dengan kata lain, kritik Gus Ali bukan ajakan untuk mencari musuh agar NU bersatu. Justru sebaliknya. NU ditantang membuktikan bahwa tanpa musuh pun, warga dan kadernya tetap bisa menjaga persaudaraan.

Memasuki abad kedua, NU tidak seharusnya butuh musuh untuk belajar menjadi rukun.

Pewarta: Supra

Berita Terkait