Menhaj Moch Irfan Yusuf
Klikwarta.com, Jombang - Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf, mengajak jemaah haji untuk menjaga kemabruran sebagai bekal membangun keluarga dan masyarakat. Menurutnya, ibadah haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci, tetapi awal dari tanggung jawab moral yang harus terus dijaga setelah kembali ke tanah air.
Pesan tersebut disampaikan Menhaj saat menghadiri Doa Syukur dan Pengajian Manasik Jemaah Haji 1447 H serta Jemaah Haji 1448 H di Kabupaten Jombang, Rabu (26/8/2026). Kegiatan ini mengangkat tema Menjaga Kemabruran, Menyiapkan Istitha’ah, dan Mewujudkan Tri Sukses Haji.
"Haji selesai, tetapi kemabruran tidak boleh selesai. Ukuran haji mabrur bukan hanya apa yang dilakukan di Tanah Suci, melainkan bagaimana kita hidup setelah kembali. Akhlak harus semakin baik, ibadah semakin kuat, dan kepedulian kepada sesama semakin nyata," ujar Menhaj.
Menhaj mengatakan, jemaah haji memiliki peran penting sebagai penggerak kebaikan di tengah masyarakat. Pengalaman selama menjalankan ibadah haji, menurutnya, perlu dibagikan kepada jemaah agar mereka memiliki gambaran yang utuh tentang perjalanan ibadah, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga kembali ke Indonesia.
"Jemaah yang sudah berhaji adalah sumber pembelajaran. Ceritakan pengalaman yang sebenarnya, apa yang harus disiapkan, bagaimana menjaga kesehatan, disiplin, dan kekhusyukan selama berada di Tanah Suci," katanya.
Menhaj juga mengingatkan jemaah haji 1448 H agar memulai persiapan sejak sekarang, tidak menunggu mendekati keberangkatan. Persiapan tersebut mencakup kelengkapan administrasi, mengikuti manasik, memperkuat kesiapan mental, hingga menjaga kondisi fisik.
Menurutnya, istitha’ah kesehatan merupakan salah satu kunci penting dalam penyelenggaraan haji. Karena itu, jemaah diminta memanfaatkan waktu yang masih panjang untuk memperbaiki kondisi kesehatan melalui pemeriksaan berkala, mengendalikan penyakit penyerta, menjaga pola makan, beristirahat cukup, dan rutin berolahraga.
"Pemeriksaan kesehatan bukan penghambat keberangkatan. Justru itulah ikhtiar kita agar jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman, sehat, dan kembali ke tanah air dalam kondisi terbaik," tegasnya.
Selain kesiapan kesehatan, Menhaj menekankan pentingnya bimbingan manasik yang membentuk jemaah mandiri. Manasik, kata dia, tidak cukup berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga harus membekali jemaah dengan kemampuan menghadapi situasi nyata di lapangan, termasuk memahami pola pergerakan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, layanan transportasi, hingga mekanisme pelayanan jemaah.
Menhaj juga mengingatkan pentingnya disiplin dan kepatuhan terhadap arahan petugas selama berada di Arab Saudi. Menurutnya, kedisiplinan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keselamatan jutaan jemaah yang beribadah secara bersamaan.
Pada kesempatan tersebut, Menhaj kembali menegaskan arah penyelenggaraan haji Indonesia melalui Tri Sukses Haji. Pertama, sukses ritual, yaitu memastikan jemaah dapat menjalankan ibadah secara sah, benar, tertib, dan mencapai kemabruran. Kedua, sukses ekosistem ekonomi haji, yakni menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi umat dan pelaku usaha Indonesia. Ketiga, sukses keadaban dan peradaban, yaitu melahirkan pribadi yang lebih jujur, disiplin, sabar, serta peduli terhadap sesama.
"Tri Sukses Haji hanya bisa terwujud melalui kolaborasi. Pemerintah, petugas, KBIHU, keluarga, dan jemaah harus berjalan bersama untuk menghadirkan penyelenggaraan haji yang semakin baik," ujarnya.
Menutup arahannya, Menhaj mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai tawaran umrah murah maupun haji nonprosedural. Ia meminta masyarakat memastikan penyelenggara umrah memiliki izin resmi sebagai PPIU dan tidak mudah tergiur dengan tawaran haji cepat atau menggunakan visa yang tidak sesuai ketentuan.
"Kami ingin setiap jemaah berangkat dengan tenang, beribadah dengan benar, memperoleh pelayanan terbaik, lalu kembali ke Indonesia dengan sehat, selamat, dan membawa haji yang mabrur," pungkas Menhaj.
(Kontributor : Arif)








