Kepala Badan Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin
Klikwarta.com, Jakarta, 17 Juni 2026* - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat implementasi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) untuk menyiapkan generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan, mulai dari perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga persoalan sosial yang semakin kompleks. Melalui pendekatan ini, pendidikan tidak hanya berfokus pada peningkatan capaian akademik, tetapi juga membangun kesadaran, karakter, dan kemampuan murid untuk berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Kepala Badan Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, dalam paparannya menjelaskan penerapan ESD di Indonesia
“Di Indonesia, ESD tidak dipandang sebagai mata pelajaran baru, melainkan sebagai perspektif yang diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran,” ujar Toni saat pemaparan di Jakarta, Senin (14/6).
Ia melanjutkan bahwa perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan saja, tetapi juga isu pendidikan. Karena itu, pendidikan harus membekali generasi muda dengan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan bertindak demi masa depan yang berkelanjutan.
Implementasi pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan telah dilakukan di berbagai daerah melalui pendekatan yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan murid. Salah satu praktik baik datang dari Kabupaten Wakatobi yang memanfaatkan kekayaan alam daerah sebagai sumber belajar melalui keberadaan Cagar Biosfer UNESCO dan Taman Nasional Wakatobi.
Bupati Wakatobi, Haliana, menjelaskan bahwa peluncuran paket pembelajaran Wakatobiku menjadi langkah penting untuk menanamkan nilai-nilai konservasi kepada generasi muda sejak usia dini. Paket pembelajaran tersebut dikembangkan melalui berbagai media interaktif, mulai dari buku cerita, permainan edukatif, hingga video animasi yang mengangkat kekayaan ekosistem terumbu karang, mangrove, serta kehidupan masyarakat pesisir.
“Jika kita ingin menjaga laut, kita harus mendidik generasi yang mencintai laut. Jika kita ingin melestarikan alam, kita harus menanamkan nilai konservasi sejak usia dini,” ujar Haliana.
Semangat pendidikan berkelanjutan juga tercermin dalam praktik yang dilakukan di berbagai sekolah. Nining, guru SDN Kelapa Dua Wetan dan juga peserta pameran praktik baik pendidikan berkelanjutan, menjelaskan bahwa sekolahnya telah menerapkan berbagai program kepedulian lingkungan, mulai dari pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, pengolahan sampah menjadi pupuk, ecoenzim, maggot, dan produk daur ulang, hingga pembentukan kader penggerak peduli lingkungan serta pendirian bank sampah sekolah.
Nining berpendapat bahwa program seperti Adiwiyata penting diterapkan bukan semata-mata untuk memperoleh penghargaan, melainkan untuk membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari lingkungan terdekat para murid. Hasil dari program tersebut mulai terlihat secara nyata. Murid terbiasa memilah sampah sesuai jenisnya, lebih bijak dalam menggunakan air dan listrik, serta memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap lingkungan. Di tingkat sekolah, volume sampah berkurang secara signifikan, penggunaan listrik dan air menjadi lebih efisien. Selain itu, lingkungan sekolah juga menjadi lebih bersih, hijau, dan produktif melalui kegiatan perkebunan, peternakan, dan berbagai karya inovasi.
Praktik serupa juga dilakukan oleh SMPN 1 Wangi-Wangi Selatan di Kabupaten Wakatobi, yang dipimpin oleh Adeliya Alim Sabani. Pendidikan konservasi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah melalui pembelajaran intrakurikuler maupun kokurikuler. Peserta didik terlibat langsung dalam kegiatan penanaman mangrove dan aksi bersih pantai. Sekolah juga membiasakan penggunaan tumbler serta pengelolaan sampah organik dan anorganik secara terpisah. Berbagai perubahan positif pun mulai terlihat. Murid secara spontan memungut sampah tanpa harus diperintah. Mereka juga berhasil meraih prestasi dalam konten pendidikan konservasi yang diselenggarakan Balai Taman Nasional Wakatobi, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan masyarakat melalui kegiatan penanaman mangrove dan aksi bersih pantai.
Pendidikan berkelanjutan menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan dan masa depan Indonesia dibangun melalui generasi yang memahami, mencintai, dan bertanggung jawab terhadap alam di sekitarnya. (*)








