Senyuman Pantang Menyerah Seorang Difabel

Minggu, 18/05/2025 - 20:10
Foto : Istimewa

Foto : Istimewa

Klikwarta.com - Matahari terik menyengat aspal Jalan Cilangkap Baru, Jakarta Timur. Di antara deru kendaraan yang lalu-lalang, seorang pria berjalan tertatih. Bajunya yang lusuh berwarna abu-abu basah oleh keringat, celana pendeknya penuh noda, dan tas selempang usang tergantung di bahu kanannya. Kaki kirinya yang diamputasi setinggi siku menjadi saksi bisu perjuangan hariannya: mencari recehan demi sesuap nasi.

"Saya hanya ingin bertahan hari ini," ujar Arifin pria kelahiran 1995 itu, suaranya parau namun tegas.

Di balik tubuhnya yang ringkih dan penampilan yang diabaikan banyak orang, Arifin menyimpan kisah tentang ketangguhan yang tak tercerahkan oleh nasib. Setiap langkahnya adalah perjuangan melawan luka masa lalu dan kerasnya kehidupan jalanan.

Masa Lalu yang Terkubur di Kampung Halaman

Arifin lahir di sebuah desa di Grobogan, Jawa Tengah. Sebagai anak petani miskin, ia merantau ke Jakarta, membawa mimpi yang besar untuk orang tuanya. Ia kehilangan tangan kirinya pada 2014 dalam sebuah kecelakaan kerja di pabrik tekstil Tangerang. "Kaki saya terjepit mesin saat memperbaiki conveyor. Tak ada asuransi, tak ada kompensasi," kenangnya, matanya menerawang. PHK sepihak membuatnya terdampar di jalanan sejak 2020. Data Dinas Sosial DKI Jakarta pada tahun 2024 mencatat, 38% gelandangan di ibu kota adalah korban PHK tanpa pesangon.

Setiap hari, Arifin berjalan sejauh 5 km dari tempatnya tinggal di kolong jembatan. Ia membersihkan luka di pangkal kaki kirinya dengan air kran umum sebelum berjalan ke persimpangan Cilangkap. "Dulu sempat infeksi parah sampai ke tulang. Tapi saya tak punya biaya ke dokter," ceritanya sambil menunjukkan bekas luka yang menganga.

Ia mengais recehan dengan mengulurkan toples plastik ke pengendara, maupun orang yang berlalu lalang.

"Paling dapat Rp20.000 sehari. Kadang cuma cukup untuk beli nasi bungkus dan air mineral. Kalau sama sekali tidak dapat, ya terpaksa nahan lapar dan haus," ujarnya. Di tas selempangnya, tersimpan botol bekas yang ia kumpulkan untuk dijual ke pengepul, dan buku catatan bekas. Ia menulis puisi tentang langit Jakarta dan sketsa wajah orang tuanya. "Kalau saya mati, mungkin ini satu-satunya warisan," ujarnya.

Mimpi yang Tersimpan di Tas Selempang

Banyak yang menganggapnya pemalas, tapi Arifin punya jawaban: "Saya pernah melamar jadi office boy, satpam, bahkan tukang sapu. Tapi begitu lihat kaki saya, mereka langsung geleng kepala,” ucapnya sambil menangis. Program bansos DKI Jakarta kerap tak menjangkaunya.

“Saya tak punya KTP. Bansos sembako? Biasanya diambil orang yang lebih kuat," keluhnya. LSM "Peduli Difabel" sempat menawarkan pelatihan keterampilan, tapi lokasinya terlalu jauh.

"Saya tak punya ongkos ke sana," tambah Arifin. Seorang sopir taksi online pernah memberinya sarung tangan khusus untuk melindungi luka di kakinya.

"Itu hadiah termahal yang pernah saya terima dan akan saya ingat sampai mati orangnya," katanya tersenyum.

Saat senja tiba, Arifin kembali ke kolong jembatan dengan nasi bungkus di tangan. Ia berbisik: "Saya percaya, suatu hari nasib akan berubah. Asal saya tak berhenti melangkah."

Kaki ini mungkin sudah lelah, tetapi hati tetap bersemangat, di suatu hari nanti, matahari akan terbit dari barat.

Puisi itu mungkin tak akan pernah dibaca dunia, tapi bagi Arifin, ia adalah bukti semangat juang tak hanya tentang bertahan hidup, tapi juga tentang mempertahankan kemanusiaan di tengah keterpurukan. Kisahnya adalah cermin bagi kita semua: dalam gelapnya ketidakadilan, semangat juang adalah cahaya yang tak pernah padam.

Penulis : Dimas Satria Nugroho

Tags

Berita Terkait