Kawasan Lubuk Sikaping, terutama di sepanjang aliran Batang Air Paninggalan, Jorong Tampang, Nagari Durian Tinggi.
Klikwarta.com, Pasbar - Dalam praktik pemerintahan, seorang pemimpin kerap dihadapkan pada persoalan yang menuntut respons cepat dan tepat. Tidak semua persoalan dapat ditangani melalui prosedur administratif yang lazim, sebab terdapat kondisi-kondisi tertentu di mana kebutuhan masyarakat bersifat mendesak dan memerlukan penyelesaian segera. Salah satu persoalan itu adalah banjir yang berulang kali melanda kawasan Lubuk Sikaping, terutama di sepanjang aliran Batang Air Paninggalan, Jorong Tampang, Nagari Durian Tinggi.
Menyadari urgensi tersebut, Bupati Pasaman, Welly Suhery, mengambil langkah yang patut dicatat sebagai wujud kepemimpinan progresif. Pada hari ini, Minggu (14/09), beliau hadir langsung di lokasi untuk memastikan pelaksanaan normalisasi sungai berjalan dengan baik. Hal yang menjadikan langkah ini istimewa ialah keberanian beliau membiayai kegiatan normalisasi dengan dana pribadi, tanpa menunggu proses panjang penganggaran pemerintah.
Tindakan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menegasikan fungsi birokrasi. Anggaran publik tetaplah instrumen utama dalam perencanaan pembangunan. Namun, melalui keputusan tersebut, Welly Suhery menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tidak berhenti pada tataran administratif, melainkan diwujudkan dalam keberanian mengambil inisiatif ketika masyarakat membutuhkan solusi cepat. Dengan kata lain, beliau menempatkan kepentingan publik di atas pertimbangan prosedural yang berlarut.
Respons masyarakat yang positif menunjukkan bahwa langkah ini memiliki legitimasi sosial yang kuat. Kehadiran Bupati di tengah warga, bukan sekedar simbolis, tetapi manifestasi nyata dari kepedulian dan empati seorang pemimpin. Dari perspektif kepemimpinan publik, tindakan ini mencerminkan model responsive leadership, yakni kepemimpinan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara cepat, tepat, dan kontekstual.
Normalisasi Batang Air Paninggalan tidak hanya diharapkan menjadi solusi teknis terhadap persoalan banjir, tetapi juga menjadi representasi nilai-nilai kepemimpinan yang inklusif dan proaktif. Di sinilah visi Pasaman Bangkit yang Berkarakter, Maju, dan Berkelanjutan menemukan relevansinya, bukan sebagai jargon politik, melainkan sebagai arah kebijakan yang didukung oleh tindakan nyata.
(Pewarta: Dedi)








