Ilustrasi temanku sang human diary. Foto: pexels.com/PNWProduction.
Oleh: Afridha Khalila/Politeknik Negeri Jakarta
Bukankah setiap orang perlu seorang teman untuk berkeluh kesah tentang pahitnya kehidupan? Itulah yang aku alami.
Aku berjumpa dengan Ghaitsa Ananda, perempuan berhijab dengan pipi tembamnya yang kutemui di Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Awalnya, kami bertemu sebagai staf Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dalam rangka mencari sponsor untuk kebutuhan pentas seni sekolah. Lalu, kami berkenalan dan saling membantu dalam kegiatan tersebut.
Akrab disapa Getsa, aku dengannya memulai obrolan singkat melalui aplikasi Instagram. Mulanya, kami membahas perkembangan acara dan tugas saja.
Seiring berjalannya waktu, pertemanan kami semakin dekat, sering bertukar cerita mengenai kehidupan pribadi dan menanyakan pendapat satu sama lain. Kini Getsa bukan lagi sekadar teman, tetapi sudah kuanggap Human Diary (tempat curhat) karena ia menjadi tempat mencurahkan segala isi hati dan pikiranku.
Oleh karena itu, ia pun tahu sisi baik dan burukku. Sudah tidak terhitung berapa banyak pesan keluhan yang kukirim kepadanya. Namun, ia selalu sabar dan tidak pernah bosan untuk menanggapi serta memberikan solusi atas masalahku.
Tidak hanya itu, ia seringkali membuat lelucon agar kami lupa sejenak akan suatu masalah dan kembali tertawa lagi. Di kala aku bosan, ia mengajakku bermain bersama sehingga kami sering bepergian menyusuri Bogor, dari siang hingga malam.
Walaupun jarak rumah kami terbilang jauh. Entah pergi kemana saja, yang terpenting kami senang dan terhibur. Itulah yang dibutuhkan manusia, memiliki seorang teman yang selalu ada di saat kita membutuhkan dan mengharapkan kehadirannya serta dapat menerima kita apa adanya.
Jikalau Getsa membaca tulisan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah menemaniku di segala suasana, baik senang maupun sedih.








