Foto/Arsip Dokumentasi Penulis.
Oleh : Mutia Dwi Anggraini (Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)
Setiap Ayah pasti berusaha melakukan segala sesuatu untuk anaknya bahagia. Bahunya sangatlah berat memikul kehidupan dua putri dan istrinya. Jalan berliku yang sulit untuk dilalui ia tempuh dengan penuh cucuran keringat. Apapun akan ia lakukan agar anaknya berhasil dan sukses.
Ayah selalu berdoa pada sepertiga malam, mengadu dan menyampaikan pahitnya dunia kepada Tuhan. Tidak jarang suara isak tangisnya memenuhi ruangan kamar, menambah gelap malam.
Yadi, seorang ayah dari dua gadis yang bernama Issa dan Aida. Yadi bekerja sebagai kontraktor. Pekerjaannya terhambat saat pandemi Covid-19. Tidak ada proyek yang Ayah kerjakan, terpaksa bekerja sebagai serabutan. Setiap harinya belum tentu Ayah mendapatkan uang. Terkadang hanya berdiam diri dirumah, karena tidak memiliki ongkos untuk mencari pekerjaan.
Sudah hampir dua tahun ayahnya tidak bekerja. Aida melihat ayahnya hanya diam saja di rumah pada krisisnya pandemi, Aida jengkel. Ia tidak mengerti sulitnya mencari uang. Aida sering membentak ayahnya, bahkan memarahinya.
“Kenapa ayah ga usaha cari uang? Sewajarnya seorang kepala keluarga ya bekerja. Kita butuh makan yah!”, tuturnya.
Pada usia Aida menginjak 17 tahun, merasa tinggi ego dan tersulut emosi yang masih melonjak. Ia bahkan tidak pernah melihat usaha ayahnya selama ini dalam menghidupinya. Ia hanya melihat sisi kegagalnya saja. Tidak mengerti bahwa roda kehidupan berputar. Terkadang berada diatas dan terkadang dibawah.
Ayahnya hanya bisa menangis pada sepertiga malam. Memohon kepada Tuhan semesta alam untuk memberi dirinya rezeki yang berlimpah. Semua beban yang dipikul ayah, membuatnya terpikir untuk menjual bagian tubuhnya. Bahkan terlintas dipikirannya kalau dirinya dapat meringankan beban keluarga ini, lebih baik Tuhan ambil saja nyawa ayah.
Dalam perihnya ayah mendengar ucapan seorang putri tersayangnya. Ia tidak pernah sekalipun marah, hatinya tetap mencintai putrinya dengan tulus. Hebatnya seorang ayah mencintai keluarganya.
Kegiatan ayah sehari-hari membantu ibu di dapur dan membersihkan rumah. Kegiatan sederhana tapi membuat hati ibu penuh cinta. Ibu percaya uang bisa dicari tapi waktu tidak akan bisa terulang kembali.
Aida memiliki kakak bernama Issa. Sejauh ini sebagai tulang punggung cadangan ialah Issa. Menanggung seluruh kebutuhan rumah tangga: keperluan sekolah Aida, kebutuhan dapur, kebutuhan kamar mandi, makan hari-hari keluarga. Issa menjalani ini dengan senang bisa membahagiakan ayah, ibu, dan adiknya.
Ekonomi kehidupan mereka mulai terasa cukup, tidak kurang dan tidak lebih. Aida keterima kuliah dengan beasiswa, tidak perlu mengeluarkan biaya serupiah pun. Hanya perlu untuk kebutuhan ongkos naik angkot dan makan. Bahkan, ayah sering antar dan jemput Aida. Tidak lupa cium tangan ayah sebelum berpamitan pergi menuju kelas.
Ayah selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan Aida. Suatu hari Aida merengek minta dibelikan sepatu roda. Pada saat usianya 10 tahun banyak teman sebayanya bermain sepatu roda. Saat itu ayah bekerja sebagai tukang bangunan. Ayahnya rela tidak makan, demi menabung untuk membeli sepatu roda Aida.
Ibu dengan tegas sudah memberi pemahaman ke Aida bahwa ayah tidak ada uang. Namun aida, hanya memikirkan dirinya sendiri. Ayah berjanji akan membelikan sepatu roda itu untuk Aida. Setelah waktu yang panjang, Ayah berhasil membelikan Aida sepatu roda.
Aida senang bisa bermain sepatu roda dengan temannya. Namun, temannya sudah tidak lagi memainkan sepatu roda, karena Aida membutuhkan waktu untuk mendapatkannya. Akhirnya, sepatu roda itu hanya dipakai sebentar. Setelah itu sepatu rodanya terbengkalai di lemari.
Pagi hari ini terlihat seperti pagi sebelumnya. Ayah membantu ibu memasak di dapur, membuat sayur sop. Namun, setelah sarapan ayah merasa dadanya sesak dan terasa seperti tertusuk-tusuk.
Semua terjadi begitu cepat, secara tiba-tiba. Pagi itu, di rumah ada ibu dan Aida. Ayah memanggil ibu untuk membantu memukul punggung belakang ayah, karena semakin lama semakin sakit dan terasa panas. Ibu hanya mengira bahwa ayah tersedak, sebab baru saja selesai sarapan.
Ayah tidak tahan merasa sakit. Ayah meminta untuk segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Aida membawa ayah menggunakan motor. Sudah tidak ada waktu lagi untuk memanggil ambulans. Dengan kecepatan tinggi Aida mengendarai motor, hingga tiba di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit.
Setiba di rumah sakit, kondisi ayah masih sadar. Ayah langsung mendapatkan pertolongan pertama. Namun, detak jantung ayah seketika berhenti. Dokter melakukan tindakan pompa jantung, hingga jantung ayah kembali berdetak. Detak jantung ayah bertahan lama, namun sangat lemah. Ayah dibantu alat pernapasan yang berbentuk besar.
Sudah sekitar 3 jam detak jantung ayah kembali memompa tubuh. Air mata ayah terus menetes, namun ayah belum bisa merespon suara di sekitar. Aida, Issa dan Ibu masih tidak percaya dan sangat khawatir dengan kondisi ayah. Mereka tidak henti memberikan semangat di telinga ayah. Memohon keselamatan ayah kepada sang pemberi kehidupan.
Air mata ayah tidak menetes lagi, seketika jantung ayah kembali berhenti. Seluruh dokter di ruangan itu memberikan pertolongan lagi kepada ayah. Dokter sudah melakukan semaksimal mungkin untuk ayah. Ayah pergi untuk selamanya pada Januari 2023. Serangan jantung membuat ayah kehilangan nyawanya.
Aida tidak percaya dengan kabar yang diberikan dokter. Seketika dunia Aida terasa runtuh, ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi jika rumah tanpa ayah. Aida menjadi seorang anak yang paling membenci kehidupannya. Ia harus menyadari bahwa ayahnya sudah tidak berada di dunia. Namun kehidupan harus terus berjalan. Aida hidup dalam rasa penyesalan.
Lantas, bagaimana bisa Aida meminta maaf kepada ayahnya? Aida belum sempat membahagiakan ayahnya. Hanya meninggalkan luka yang mendalam di hati ayah. (MDA)








