Sumber : pinterest
Oleh: Adelia Damayanti (Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)
Yogyakarta menjadi salah satu tujuan bagi kami yang sudah cukup muak oleh kesibukan kota, kepusingan pekerjaan, tugas kuliah, dan permasalah hidup yang tak kunjung usai. Damainya daerah istimewa membuat setiap orang yang mengunjunginya tak pernah terlupakan bahkan setiap sudut kota Yogya sekalipun. Benar-benar istimewa.
Berangkat pukul 3 pagi ke stasiun pasar senen menaiki kereta tujuan Lempuyangan. Sebelum itu sudah dipastikan harus sudah di Vaksin minimal dosis 2 atau 3 untuk bebas dari test PCR atau rapid antigen. Karena dunia kini sudah jauh berbeda dari sebelumnya, semua harus diwajibkan menggunakan masker, menjaga jarak, test bebas dari covid dan masih banyak lagi.
Aku membeli tiket termurah untuk menghemat biaya pengeluaran selama beberapa hari di Yogya nanti. Larut malam ku arungi demi mendapatkan sebuah tiket ekonomi sesuai dengan biaya yang sudah ku tentukan untuk pulang pergi.
Perjalanan menuju stasiun Lempuyangan memakan waktu sekitar 8 jam 30 menit. Di samping ku terdapat sepasang suami istri yang sudah berumur dengan tas tenteng besar di kabin atas. Sepanjang perjalanan mereka bergandengan tangan seakan-akan tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka. Ironisnya aku terenyuh melihatnya.
Di pertengahan jalan matahari terbit dari ufuk sana memancarkan cahaya hingga membangunkan mata-mata yang terpejam dan memperlihatkan keindahannya. Ini adalah salah satu tujuan ku memilih berangkat pada pagi buta, di saat semua orang masih terlelap justru tubuhku tak ingin beristirahat. Mungkin karena terbiasa pada kegiatan dikota yang padat.
Pukul 11 siang aku menginjakkan kaki di stasiun lempuyangan dengan tas punggung seadanya. Suasana Yogya tidak pernah berubah dari dulu, saat ku terakhir kali menginjakkan kaki di Yogya pada 2019 lalu. Sebelum berlanjut ke rumah paman, aku berjalan mengitari pinggiran jalan stasiun Lempuyangan untuk mencari makan. Pilihanku tepat pada warung pecel langganan paman seharga 5 ribu rupiah yang akan segera tutup karena hari sudah mulai siang. Tujuanku selanjutnya adalah rumah paman untuk beristirahat, sebelum berkeliling pada sore hari nanti.
Sore ini berkeliling menggunakan sepeda ontel milik paman adalah pilihan terbaik. Sekeliling desa ini dipenuhi lautan sawah, hanya ada beberapa warung sederhana dan jalanan yang hanya bisa dilewatkan oleh pejalan kaki, sepeda atau sepeda motor. Sepanjang jalan senyumku tak henti bersungging menikmati indahnya desa ini dan menyapa semua warga yang aku lewati. Tak sesekali mengobrol dengan ibu pemilik warung soto termurah yang pernah ku temui.
Yogya membuat ku tidak ingin meninggalkannya, jika bisa memilih Yogya yang akan ku pilih untuk sisa hidupku nanti. Setiap detik bahkan setiap jengkal pun sudut kota Yogya tak akan pernah kulupakan. Perjalanan singkat ini membuat ku belajar bahwa semuanya hanyalah sementara. Sedih maupun senang itu juga hanya sementara, maka nikmatilah.








