Ini Sebab Penambang Sumur Rakyat Gandu, Belum Semua Kirim Minyak Ke Pertamina

Jumat, 29/05/2026 - 15:49
Penampakan minyak mentah dari sumur rakyat Desa Gandu Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora yang belum dikirim ke Main Gathering Station Menggung, Pertamina EP Field Cepu

Penampakan minyak mentah dari sumur rakyat Desa Gandu Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora yang belum dikirim ke Main Gathering Station Menggung, Pertamina EP Field Cepu

Klikwarta.com, Blora - Sumur rakyat/masyarakat Desa Gandu turut wilayah kerja Pertamina Hulu Energi (PHE) Randugunting Zona 11 Regional Indonesia Timur yang dikelola Badan Kerjasama Usaha ( BKU) PT Mataram Conection Nusantara (MCN), sebagian penambangnya enggan mengirim minyak ke Main Gathering Station ( MGS) Menggung Pertamina EP Field Cepu.

Penambang beralasan, ongkos angkat angkut minyak mentah  dari Gandu hanya dihargai Rp 2.900/ liter oleh pihak koordinator/paguyuban. Dengan rincian, investor Rp 2.000 dan pemilik lahan sebesar Rp 900.  Investor dan penambang sumur rakyat Gandu  sangat keberatan dengan harga yang terlalu rendah tersebut. 

"Untuk sementara belum ada kepastian. Yang sudah berjalan itu , katanya harganya tetap sama dengan harga sebelum masuk ke Pertamina. Yakni 2.900/liter atau 2.900.000 per ton, " ujar Suyono, penambang  Desa Gandu, Rabu (27/5/2026).

 Menurutnya, sementara minyak yang diambil oleh MCN diantaranya milik Iwan Kades Gandu  dan ketua paguyuban Bayan Agus. Minyak tersebut sudah dikirim ke MGS Menggung milik Pertamina EP Field Cepu beberapa rit dengan menggunakan truk tangki  kapasitas 5000 liter.

" Yang lainnya belum boleh karena harganya tidak cocok," ujar Tono saat dihubungi melalui telepon. 

Lebih lanjut, dia mengatakan pihaknya belum pernah diajak sosialisasi oleh paguyuban maupun PT Mataram Conection Nusantara. 

"Belum pernah sama sekali. Belum ada pemberitahuan sama sekali. Nol komunikasi, nol info," imbuhnya. 

Selain Suyono, minyak yang belum boleh diambil oleh pengurus atau MCN diantaranya milik Hartono, Ferdi dan Tiyok. 

Di Desa Gandu ada sekitar 16 titik sumur rakyat yang saat ini sudah berproduksi. Kades Gandu mempunyai 3 titik sumur, Bayan Agus  mempunyai 3 titik yang sudah berproduksi. Sedangkan  Hartono ada 4 atau 5 titik. Penambang yang minyaknya belum boleh diambil, sementara ini ditampung dulu. 

"Penambang amat sangat keberatan. Penambang juga tahu, teman-teman penambang di Ledok, Semanggi itu masuk ke Pertamina mendapat 6.500.000/ton. Kami ingin disamakan harga seperti di luar lokasi, seperti Ledok, Semanggi dan Nglobo. Sesuai aturan Pertamina. Masa kita sama-sama penambang yang notabenenya membantu PAD , kenapa harus tidak masuk PAD tapi malah masuk ke pengurus yang ilegal," tegasnya. 

Hal senada juga disampaikan Yumanto, penambang minyak mentah di Desa Gandu. Saat ini minyak tersebut dilarang oleh investor untuk diambil karena harganya tidak sesuai.

"Katanya yang wilayah lain naik. Tapi disini kok dibeli dengan harga segitu?," ujarnya. 

Dirinya mengaku saat ini mempunyai 8 ton minyak yang belum diambil. Selain miliknya, milik pak RT Hartono juga tidak boleh diambil. Masih banyak minyak yang belum diambil.

Selama ada pengurus ini, lanjut Yumanto, dirinya belum pernah diajak sosialisasi.

Diketahui, beberapa petani, yang mempunyai pulsa listrik untuk menggerakkan genset masih tetap operasional.  Sedangkan yang tidak mempunyai pulsa tidak operasional. 

"Seperti saya, kalau tidak diberi uang oleh investor, juga tidak bisa beli pulsa," ujarnya.  

Yumanto berharap kalau harga minyak mentah naik, petani penambang harus diberitahu dan dikumpulkan dengan investor.

" Katanya sumur Ledok dibeli dengan harga 6.500.000 per ton," pungkasnya. 

Sementara itu,  ketua paguyuban penambang minyak sumur rakyat Gandu, Agus Rumanto saat dikonfirmasi menegaskan bahwa harga Rp 2.900 per liter yang diterima penambang itu tidak benar dan pastinya mengacu pada harga minyak dunia.

"Agar lebih jelasnya, silakan konfirmasi ke pihak Mataram Conection Nusantara," ujarnya. 

Saat disinggung terkait minyak yang dikirim ke Pertamina, Bayan Rumanto, membenarkan bahwa yang dikirim ke Pertamina, miliknya dan Kades Gandu. Hal ini dikarenakan, minyak milik penambang yang lain masih belum mencukupi dan ada yang belum produksi. 

"Yang lain masih belum banyak dan hanya punya sedikit," imbuhnya. 

Pihaknya mengklaim bahwa saat ini minyak yang di kirim ke Pertamina masih dalam masa trail dan proses penataan.

"Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan sosialisasi dengan MCN dan penambang," ujarnya.

Pewarta : Fajar

Berita Terkait