Siswa SMAN 1 Gunung Talang Dibekali Etika di Dunia Digital

Rabu, 12/04/2023 - 14:48
Webinar Literasi Digital “Literasi Digital –  Etika Pelajar di Dunia Digital” Kabupaten Solok – Provinsi Sumatera Barat

Webinar Literasi Digital “Literasi Digital –  Etika Pelajar di Dunia Digital” Kabupaten Solok – Provinsi Sumatera Barat

Klikwarta.com, Solok - Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia berkolaborasi dengan SMAN 1 Gunung Talang melaksanakan webinar literasi digital Sektor Pendidikan. Kegiatan webinar yang mengusung tema “Etika Pelajar di Dunia Digital” telah dilaksanakan pada Rabu (12/4) pukul 14.00-16.00 WIB, berlokasi di SMAN 1 Gunung Talang, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat.

Kegiatan yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

j

Pengguna internet di Indonesia pada awal Tahun 2022 mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya. Namun, penggunaan internet tersebut membawa berbagai risiko, karena itu peningkatan penggunaan teknologi internet perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan tepat.

Survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 menunjukkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia berada pada angka 3,49 dari 5,00.

Kemudian pada tahun 2022, hasil survei Indeks Literasi Digital Nasional mengalami kenaikan dari 3,49 poin menjadi 3,54 poin dari skala 5,00. Hasil ini dianggap menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia saat ini berada di kategori sedang dibandingkan dengan tahun lalu.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menilai indeks literasi digital Indonesia belum mencapai kategori baik. “Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital,” katanya melalui virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen pelajar SMA ini, sukses dihadiri oleh sekitar 100 peserta daring, dan juga dihadiri beberapa narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan dari Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan, dihadiri narasumber Erfan Hasmin (Kepala Unit ICT Universitas DIPA Makassar), kemudian narasumber Martin M. Pd. (Kepala SMAN 1 Gunung Talang), bersama M. Fadhil Achyari (Influencer / Public Speaker and Personal Branding Enthusiast) selaku  Key Opinion Leader (KOL), serta Siti Kusherkatun, S.Pd.I (Asih) sebagai juru bahasa isyarat dan dipandu oleh moderator Diny Brilianti. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

Pada sesi pertama, narasumber Erfan Hasmin menyampaikan mengenai budaya digital, menghargai orang lain di ruang digital, menghindari penyebaran informasi palsu, dan dampak informasi palsu. Ruang lingkup budaya bermedia digital yaitu menjadikan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan kecakapan digital, mewujudkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai panduan karakter dalam beraktivitas di ruang digital. Cara menghargai orang lain di ruang digital yang pertama menerima perbedaan opini karena media sosial memungkinkan penggunanya untuk menerima berbagai tanggapan positif maupun negatif, kedua tidak mengatakan hal buruk yaitu mengatakan hal-hal positif yang dapat memotivasi maka orang lain akan turut menghargai karena melihat kita sebagai pribadi yang baik, ketiga menyimak dan menjadi pendengar, sikap yang mau diam menyimak merupakan wujud dari respek pada orang lain, tidak menghakimi dalam bentuk komentar komentar yang kurang sopan, yang terakhir memberikan nilai di media sosial misalnya meyakini dan menerapkan kejujuran, maka orang lain akan merasakan nilai positif yang ditebarkan. Sebagai pelajar harus menghentikan penyebaran informasi palsu (hoax) karena hoax dapat menimbulkan dampak yang luar biasa seperti menimbulkan perpecahan, menurunkan reputasi seseorang, masyarakat tidak lagi percaya fakta yang sebenarnya karena sulit membedakan mana informasi palsu dan fakta, menimbulkan opini negatif terhadap seseorang, kelompok, ataupun suatu produk, dan dapat merugikan seseorang.

“Saya membagi ada 5 hal yang kita bisa identifikasi ini hoax atau bukan, yang penting judul yang provokatif, kalau ada judul yang provokatif pastikan itu sampai di kita, kita bisa melakukan report di sosial media, kedua cermati alamat situs dengan memeriksa sumber berita yang aktual, kita bisa melihat sumber berita yang kamu baca, jika menemukan sumber dari aktor ormas, pengamat, tokoh politik serta situs web yang tidak resmi ini kita pastikan itu hoax, kemudian cek keaslian foto kita bisa menggunakan google image untuk memeriksa apakah foto ini asli atau bukan, dan dari internal kita caranya membaca keseluruhan berita karena ada berita-berita yang clickbait artinya judulnya yang provokatif tapi setelah kita baca bukan itu maksud tujuannya tidak lain agar kita membaca beritanya, dan yang paling aktif yuk kita sama-sama bergabung di grup anti hoax, caranya kita bisa masuk di forum anti fitnah, kita bisa follow akun @turnbackhoax di Twitter, akun @CCICPolri, akun @BSSN_RI, cara terbaik kita bisa follow konten positif,” ujar Erfan.

Giliran narasumber kedua, Martin M. Pd. menyampaikan mengenai etika digital, etika digital yaitu mengatur kemampuan pengguna internet agar memerhatikan etika saat berinteraksi dengan pengguna lainnya sehingga tercipta ekosistem digital yang sehat, Prinsip yang harus dimiliki di media sosial yakni kesopanan, tata krama, dan kesusilaan dengan mematuhi norma-norma. Terdapat tantangan yang dihadapi di ruang digital yakni berita bohong atau hoax, penipuan, perundungan, ujuran kebencian, dan pornografi. Martin juga membagikan tips belajar online agar tetap efektif dan menyenangkan yaitu mengatur jadwal sesuai jam yang sudah ditentukan, membuat rencana belajar, membuat arena belajar senyaman mungkin, menghindari kegiatan yang menyebabkan multitasking, dan makan tidur yang cukup.

“Ada 3 etika pelajar di dunia digital, yang pertama itu etika interaksi bagaimana upaya membentengi diri dari tindakan negatif, yang kedua ada etika berekspresi yaitu pelajar atau siswa harus berpikir sebelum mengakses, memproduksi, menerima informasi sesuai etiket di ruang digital, jadi siswa harus menyaring informasi dan menyebarkan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan etika di ruang digital, yang ketiga namanya etika komunikasi memberikan komentar yang baik, dunia digital itu karena terlampau luas, bebas berkomentar, maka berikanlah komentar yang baik,” jelas Martin.

Selanjutnya, giliran M. Fadhil Achyari selaku  Key Opinion Leader yang menyampaikan bahwa dibutuhkan kebijaksanaan dalam menggunakan media digital, menggunakan media sosial dengan baik, benar, dan bertanggung jawab, menghindari perilaku yang merugikan orang lain, penting bagi pelajar untuk memahami dan menerapkan prinsip etika di ruang digital untuk membangun budaya digital yang positif dan beretika.

“Apapun yang kita postingkan, apapun yang kita komunikasikan itu baik bagi diri kita dan juga baik untuk orang lain, jadi yang harus kita lihat kembali adalah konten ataupun isi dari yang kita postingkan, apakah selama ini yang kita posting adalah hal-hal baik dan memang hal-hal yang bermanfaat, yang kedua adalah hal benar, benar itu seperti apa, tidak ada satu tindakan yang teman-teman lakukan di dunia digital itu melanggar aturan, baik itu peraturan perundang-undangan, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan moral, budaya, dan adat setempat,” kata Fadhil.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Kemudian moderator memilih tiga penanya untuk bertanya secara langsung dan berhak mendapatkan e-money.

Pertanyaan pertama dari Adelia yang mengajukan pertanyaan bagaimana kita membangun budaya literasi yang baik untuk Indonesia terutama untuk anak-anak muda Indonesia karena di sosmed banyak anak-anak muda yang lebih suka budaya orang luar dari bahasa cara pakaian dan bergaul? dan menurut bapak adakah cara khusus untuk mengenalkan budaya Indonesia yang mungkin sudah agak terlupakan? Apakah mungkin budaya Indonesia dan budaya digital dapat berkembang dengan bersama-sama demi menciptakan Indonesia yang berbudaya Pancasila tetapi budaya digital nya tetap maju dan menerapkan pengguna media sosial yang positif? Kemudian narasumber Erfan Hasmin menanggapi bahwa kerja digital itu komprehensif, untuk mengatasinya caranya adalah tidak menerapkan standar ganda sehingga sopan santun akan dibawa ke dunia nyata, kita mulai mendokumentasikan konten konten budaya kita, karena sosial media itu untuk membangun kaum muda, karena media sosial bukan komprehensif ataupun kerja sederhana.

Pertanyaan kedua dari Zulfa Sahida yang mengajukan pertanyaan Diera digital seperti ini kita dituntut untuk menjadi netizen yang cerdas demi kebaikan kita dalam bermedia digital.  Banyaknya kejahatan yang terjadi serta informasi hoax yang tersebar untuk itu kita harus cakap digital dalam menyerap informasi yang masuk serta saring sebelum sharing menjadi kewajiban sebelum kita menyebarkan suatu informasi. Apa saja yang perlu kita saring ketika kita mendapatkan suatu informasi dan  ingin menyebarkan suatu informasi tersebut kepada masyarakat luas? Kemudian narasumber Martin M. Pd. menanggapi bahwa masalah masalah hoax, kalau ingin menyampaikan berita dari yang lain harus jelas sumbernya, dunia digital sulit  karena sangat bebas dan tak terbatas karena di dunia digital ini semakin berkembang dan banyaknya cybercrime

Pertanyaan ketiga dari Dinda Kirana mengajukan pertanyaan bagaimana Bagaimana cara menerapkan hidup yang lebih produktivitas lagi di era digital yang semakin merebak? apa yang seharusnya dilakukan para pelajar agar dapat me-management waktunya dengan baik? Bagaimana memilah informasi yang baik dan juga benar? Kemudian narasumber Erfan Hasmin menanggapi bahwa dunia digital bisa membuat kita produktif untuk alternatif mencari inspirasi seperti opini, dan dapat berkontribusi untuk membuat konten pembelajaran sekolah, kehidupan sehari-hari, kita bisa memanfaatkan dunia digital untuk membuat hal hal positif lainnya, memilah informasi yang baik juga, tidak semua hal yang benar itu baik, memanage waktu juga harus kita atur karena ini adalah hal yang diperlukan. Dunia digital cukup positif bagi kita karena bisa mengembangkan produktifikas, ketika di dunia digital harus menulis dengan yang bagus bagus seperti cerpen, novel. Selanjutnya narasumber Martin M. Pd. juga menanggapi bahwa yang harus dilakukan para pelajar adalah harus bijak apalagi di dunia digital, pelajar harus bisa membagi waktu, memilah informasi dengan baik dan benar, kita harus tau asal beritanya, karena yang benar belum tentu baik, sebagai pelajar, harus bijak memilah informasi agar tidak terjebak hoax.

Sesi tanya jawab selesai, setelah itu moderator mengumumkan tujuh pemenang lainnya yang bertanya di kolom chat dan berhasil mendapatkan voucher e-money sebesar Rp. 100.000. Moderator mengucapkan terima kasih kepada narasumber, Key Opinion Leader (KOL) dan seluruh peserta webinar. Pukul 16.00 WIB webinar literasi digital selesai, moderator menutup webinar dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital.

Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan di Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024.

Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui website: literasidigital.id (https://literasidigital.id/) dan akun media sosial Instagram: @literasidigitalkominfo (https://www.instagram.com/literasidigitalkominfo/),  Facebook Page: Literasi Digital Kominfo/@literasidigitalkominfo (https://www.facebook.com/literasidigitalkominfo)Youtube: @literasidigitalkominfo (https://www.youtube.com/@literasidigitalkominfo).

Berita Terkait