FKPT Sumut Sebagai Perpanjangan Tangan BNPT Gelar Kegiatan Hybrid Dikuti Peserta secara Luring dan Daring Melalui Platfrom Zoom.
Klikwarta.com, Medan — Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara, sebagai perpanjangan tangan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), terus mengupayakan pencegahan penyebaran paham radikalisme dan tindakan terorisme di tingkat daerah. Sebagai bagian dari upaya tersebut, FKPT Sumut menyelenggarakan kegiatan hybrid bertajuk "Tulisan Cinta Menyongsong Indonesia Emas (Tinta Emas)" pada Rabu, 4 Juni 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh 85 peserta yang terdiri dari mahasiswa, jurnalis, dan konten kreator. Acara diselenggarakan secara luring di Kota Medan dan daring melalui platform Zoom, yang juga diikuti oleh ribuan partisipan dari berbagai daerah di Indonesia.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Dr. Aripin Marpaung, S.Ag., M.A. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya:
Nurhalim Tanjung, M.Kom
Perwakilan Kesbangpol Daerah, Mulyono, S.T
Maira Himadani, S.T., M.Sc
Dyah Kusumawati, S.Sos., M.I.Kom
Para narasumber menyoroti pentingnya narasi cinta dan ketahanan nasional dalam upaya mencegah radikalisme. Mereka menekankan bahwa narasi positif perlu diperluas dan diperdalam sebagai bagian dari strategi kontra-radikalisasi yang efektif.

Salah satu pembahasan menarik dalam forum ini adalah keterlibatan lebih dari 100 mantan narapidana terorisme dalam mendukung pengamanan nasional, termasuk dalam perhelatan besar seperti PON. Ini menunjukkan pendekatan humanis yang dilakukan BNPT membuahkan hasil nyata.
Dalam konteks media, para pemateri juga menekankan pentingnya etika jurnalisme dalam peliputan isu terorisme. Wartawan diimbau untuk:
Mengutamakan keselamatan jiwa daripada mengejar eksklusivitas berita.
Menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan jurnalistik semata.
Menghindari glorifikasi terhadap tindakan terorisme maupun pelakunya.
Tidak menyematkan label tanpa dasar kepada tersangka; kata "terduga" harus digunakan sampai ada keputusan hukum yang sah.
Tidak menampilkan informasi yang dapat menimbulkan stigma negatif terhadap individu atau kelompok tertentu.

Di penghujung acara, para peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan langsung kepada para narasumber. Kegiatan ditutup dengan perlombaan karya tulis yang mengusung tema pencegahan radikalisme melalui narasi cinta dan damai.








