Ayah, Kereta dan Mimpi

Minggu, 18/05/2025 - 19:04
Foto : Istimewa

Foto : Istimewa

Oleh : Sheila Lathifatul Adawiyyah

Klikwarta.com - Masih dalam kegelapan ketika alarm di sudut ruangan berbunyi lembut. Dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur anak-anaknya, seorang ayah bangkit dari istirahat yang tak pernah benar-benar cukup. Di luar, kabut Bogor masih bertahan, dan udara dingin menyentuh kulitnya, namun in tetap melangkah yakin keluar dari rumah, setelah berpamitan dengan istri dan mengecup kepala anak-anak. Sebuah tas ransel yang sudah mulai usang digantungkan di punggungnya, kemudian dengan cepat, mengendarai motornya menuju stasiun.

Bukan hal asing baginya untuk berdiri berjam-jam di dalam gerbong KRL yang penuh sesak, bergesekan dengan ribuan penumpang lain yang juga membawa mimpi dan beban berat. Aroma keringat, wajah-wajah lesu, dan sesekali dorongan dari belakang menjadi sarapan paginya sebelum tiba di Jakarta. Belum lagi jika kereta mengalami keterlambatan atau mogok di tengah perjalanan. Namun, ia tak pernah mengeluh. “Yang penting sampai di kantor, yang penting bisa bekerja," ujarnya suatu waktu, sambil tersenyum meski lelah menggelayut di wajah.

Ia menyadari bahwa kehidupan tidak akan pernah sepenuhnya bersahabat. Namun setiap perjalanan berangkat dan kembali itu adalah bentuk lain dari cinta, cinta yang tenang, tanpa banyak ujaran, tapi terasa dalam setiap langkahnya. Semua dilakukannya untuk keluarga kecil yang menanti kedatangannya di rumah. Seorang istri yang setia mendoakan, dan dua anak yang selalu menyambutnya dengan pelukan meski ia pulang dalam keadaan lelah dan pegal.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya rutinitas biasa. Namun bagi seorang ayah, ini adalah pertarungan yang tidak pernah usai. Di atas rel yang panjang dan penuh tantangan itu, ia mempertaruhkan waktu, tenaga, dan harga diri, demi memastikan rumah tetap hangat dan anakanak dapat melanjutkan pendidikan mereka.

Namanya tidak terpampang di surat kabar atau di televisi. Dia hanya salah satu dari ribuan orang yang setiap pagi hadir di stasiun Bogor, memakai jaket usang dan membawa ransel yang selalu terisi. Ia berprofesi sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Gajinya pas-pasan, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan anak, dan sesekali membawa pulang sedikit oleh-oleh.

Lelaki ini tak banyak bicara. Tapi dari caranya yang selalu memprioritaskan keinginan anaknya, atau dari cara ia menggenggam tangan istrinya saat menyebrang jalan, kita tahu: ia adalah sosok yang penuh cinta. Dalam keheningannya, ada pengorbanan yang tidak pernah meminta imbalan.

Setiap pagi, ia mengikuti arus manusia yang mengalir deras ke ibu kota. Di stasiun, kereta datang dalam irama cepat. Tidak ada ruang untuk lemah, semua orang saling berebut tempat, berdesakan, dan berdiri berjam-jam sambil menahan pegal.

Ia sudah hafal posisi terbaik untuk berdiri agar bisa bersandar sejenak. Terkadang, ia berhadapan dengan penumpang yang kasar, saling sikut, suara musik yang terlalu keras, atau adu mulut karena tempat duduk. Namun, semua itu ditahan dalam-dalam. Di dalam gerbong itulah ia belajar kesabaran, ketahanan, dan untuk terus bertahan.

"Capek, iya. Tapi kalau ingat anak-anak, rasanya semua menjadi ringan," katanya sambil tersenyum, saat ditanya soal rutinitasnya.

Pulang pun tak kalah melelahkan. Jika harus bekerja hingga larut malam, ia tiba di rumah mendekati tengah malam. Sering kali, anak-anaknya sudah terlelap, tak sempat mendengar suara langkahnya di depan pintu. Tapi ia selalu mencium kening mereka sebelum mandi dan tidur, sebagai ungkapan kerinduan yang tak sempat diungkapkan.

"Sering kali saya pulang larut malam, anak-anak sudah terlelap. Tapi saya tetap sempatin cium mereka sebelum tidur. Itu menjadi semangat bagi saya untuk keesokan harinya," katanya, sembari menahan rasa kantuk yang belum sepenuhnya sirna.

Bagi ayah, setiap momen di rel bukan hanya sekadar perpindahan jarak. Itu adalah simbol dari dedikasinya sebagai kepala keluarga. Ia tidak pernah berharap hidup yang mudah, tapi ia ingin anak-anaknya tumbuh tanpa merasa kekurangan cinta atau cita-cita.

Anak sulungnya pernah bertanya, mengapa ayah mau bersusah payah seperti itu. Sang ayah hanya menjawab singkat, "Agar kamu tidak perlu bekerja sekeras ini di kemudian hari." Ungkapan sederhana yang menyimpan harapan dan pengorbanan yang mendalam.

Namun suatu hari, anak sulungnya menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan studi di luar kota Bogor. Bukan di lokasi yang sangat jauh, tetapi cukup jauh hingga harus menggunakan KRL setiap hari seperti yang dilakukan ayahnya. Wajah ayah sempat berubah. Ia terdiam, menunduk. Bukan karena tak bangga, melainkan karena merasakan kekhawatiran. Ia sangat mengerti betul betapa kerasnya perjalanan di rel itu: padat, penuh tekanan, dan rentan membuat lelah. Ia takut anaknya akan mengalami apa yang setiap hari ia rasakan.

Namun ia juga menyadari, mimpi anaknya tidak seharusnya terhalang oleh rasa kekhawatiran. Maka, ia mengangguk dan berkata lembut, "Kalau kamu yakin, ayah akan mendukungmu. Tapi hati-hati di jalan, dan jangan pernah lupa tujuan kamu." Itu adalah restu sekaligus doa paling tulus yang bisa ia berikan.

Rel yang menghubungkan Bogor dan Jakarta bukan hanya sekadar rute perjalanan baginya. Itu adalah jalan sunyi yang dilalui saat ia menghadapi kelelahan, cobaan, dan terkadang keputusasaan, semuanya ia hadapi demi masa depan orang-orang terkasihnya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengagungkan kesengsaraan, melainkan untuk mengingatkan bahwa, di balik gerbong-gerbong penuh sesak itu, terdapat cerita cinta dan keteguhan yang sering terabaikan. Ia mungkin tidak tampil sebagai sosok pahlawan, tetapi perbuatannya sudah cukup untuk membuatnya pantas disebut demikian.

Tags

Berita Terkait