Dihadapan Cak Dedi, Modin Jenazah Ini Tak Terima Insentifnya Kecil
Klikwarta.com, Jatim - Seorang modin atau petugas pemulasaran jenazah di Surabaya menyampaikan uneg-unegnya kepada Anggota DPRD Jatim Hadi Dediyansah soal insentifnya yang dianggap terlalu kecil. Keluhan itu disampaikan langsung oleh warga saat dia menggelar Reses III Tahun 2021 di Dinoyo, Kelurahan Keputran, Kecamatan Tegalsari Surabaya, Jumat (5/11/2021) malam.
Salah satu modin jenazah di Kecamatan Tegalsari Surabaya, Muhammad Anwar mengaku insentifnya sebesar Rp 400 ribu. Ironisnya, besaran insentif itu masih dipotong pajak enam persen. Melihat kondisi ini Anwar berharap agar Pemkot Surabaya supaya lebih memperhatikan lagi kesejahteraan para modin.
"Saya harapkan mungkin insentif ini diperhatikan, karena tidak segampang untuk mencari modin seperti mencari gantinya RT. Banyak orang pintar, banyak orang mengerti masalah hukum, tapi untuk menangani jenazah ini sangat-sangat sulit," kata Anwar saat menyampaikan aspirasinya, Jumat 5 November 2021 malam.
Anwar mengungkapkan insentif akan terlambat cair ketika dari total 70 orang modin di wilayah kecamatannya, jika ada yang belum setor laporan.
"Setiap bulan kami harus setor laporan, diketahui RW, lurah, kecamatan dan diketahui Dinsos (Dinas Sosial). Satu kelompok (kecamatan) ini semuanya harus bisa (setor laporan). Kami ada 70 orang, jadi kalau ada salah satu tidak setor laporan, ini bisa menghambat untuk cairnya masalah insentif ini," tuturnya.
Anwar sangat berharap aspirasi yang dikeluhkannya langsung kepada Hadi Dediyansah sebagai wakil rakyat, dapat didengar oleh pemerintah. Intinya Anwar hanya ingin agar insentif modin jenazah di Surabaya supaya lebih diperhatikan.
"Aspirasi kami untuk permohonan kami ada peningkatan insentif modin ini agar lebih diperhatikan. Karena di Dinoyo ini ada beberapa RW yang tidak punya modin, akhirnya kami merangkap. Kalau ada misalnya di RW sini orang meninggal, RW lain meninggal secara bersamaan, kita harus berlari-lari," harapnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Anggota DPRD Jawa Timur, Hadi Dediyansah menyampaikan bahwa modin atau petugas pemulasaran jenazah di kampung adalah seorang pekerja sosial. Seharusnya kerja sosial itu pemerintah harus memahami dan memberikan apresiasi.
"Jangan modin itu dipandang sebelah mata. Karena apa? Masyarakat pada umumnya ketika mengalami kesusahan, yang dibutuhkan pertama kali adalah para modin," kata Cak Dedi sapaan akrabnya.
Cak Dedi menegaskan, Fraksi Partai Gerindra DPRD Jatim mendorong pemerintah setempat, agar Pemkot Surabaya memberikan perhatian lebih kepada para modin. Diharapkan insentif yang diberikan pemkot kepada para modin di Surabaya dapat setara dengan Ketua RT.
"Tentunya pemerintah atau penguasa Surabaya harus jeli, harus peka. Toh, ini tugas sosial. Makanya di dalam kinerja sosial harus diberi motivasi, harus diberi apresiasi. Kalau bicara masalah honor (modin, red) paling tidak setara RT," tegasnya
Cak Dedi menilia kinerja modin berbeda dengan Ketua RT/RW. Mengingat modin harus memiliki keahlian khusus dalam hal pemulasaran jenazah. Selain itu juga, tidak semua warga bersedia untuk menjadi seorang pekerja sosial seperti modin.
"Kalau bisa (insentif) modin beda dengan RT. Karena kerjanya menangani yang khusus. Kalau (insentif) di atasnya RT kan saya rasa wajar-wajar saja. Karena tidak semua orang bisa, tidak semua orang berani, tidak semua orang mau menjadi modin. Jadi harus diberi apresiasi sendiri," pungkasnya.
Selain persoalan minimnya insentif yang diterima modin jenazah di Surabaya, pada reses ini, Cak Dedi juga banyak menerima aduan warga terkait masalah surat ijo. Dirinya pun menyatakan kesanggupannya untuk mengupayakan membantu warga menyelesaikan persoalan tersebut.








