Anggota Komisi X DPR RI, Yuliatmono, menyampaikan pemaparan dalam acara sosialisasi "Pemanfaatan AI untuk Melawan Kejahatan Digital", di Karanganyar, Sabtu (4/10/2025)
Klikwarta.com, Karanganyar - Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi pedang bermata dua yang harus disikapi bijak oleh generasi muda.
Menyadari hal ini, Anggota Komisi X DPR RI, Yuliatmono, bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menggelar sosialisasi "Pemanfaatan AI untuk Melawan Kejahatan Digital", di Karanganyar, Sabtu (4/10/2025), untuk membekali anak muda daerah tersebut agar siap menghadapi tantangan sekaligus peluang dari AI.
Acara ini berfokus pada peningkatan kapasitas dan pemahaman generasi muda dalam memanfaatkan AI secara positif, seraya membangun pertahanan diri dari berbagai potensi dampak negatifnya.
Yuliatmono, yang menjabat di Komisi X DPR RI, menegaskan bahwa lembaga legislatif memiliki peran penting untuk menyeleksi hasil riset BRIN yang relevan dengan kondisi masyarakat. Saat ini, fokus utama adalah menyikapi gelombang AI yang tak terhindarkan.
"Perubahan itu keniscayaan, tapi dampak ikutan negatif ini yang mesti harus terus dicermati dengan baik karena pengaruh dari media sosial itu sedemikian amat sangat tinggi," ujarnya.
Ia secara blak-blakan memaparkan berbagai ancaman kejahatan siber yang kini banyak didukung oleh AI. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi memiliki pengetahuan yang kuat untuk tidak menjadi korban atau bahkan pelaku kejahatan digital.
Beberapa contoh kejahatan AI yang diwaspadai meliputi penipuan dan pemerasan. Manipulasi AI untuk membuat konten deepfake yang menyerupai tokoh tertentu, digunakan untuk menipu atau memeras target. Penggunaan AI untuk memproduksi dan menyebar berita bohong dalam skala besar atau hoaks massif, berpotensi memicu kekacauan sosial.
"Harapannya, generasi muda punya pengetahuan untuk menangkal kejahatan AI," tegasnya, memastikan AI tidak disalahgunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab.
Alih-alih hanya memandang AI sebagai ancaman, Yuliatmono mendorong anak muda Karanganyar untuk bertransformasi menjadi kreator aktif dan memanfaatkan teknologi ini untuk hal-hal yang produktif. Hasil riset dari BRIN yang disosialisasikan diharapkan menjadi modal awal.
Ia melihat potensi besar bagi anak-anak muda, khususnya para konten kreator, untuk menjadi garda terdepan dalam melawan kejahatan siber.
"Bisa saja produknya nanti anak-anak muda ini yang tertarik di konten-konten kreator supaya memviralkan hal yang baik," jelas Yuliatmono. "Di samping dia kreator konten yang produktif, mereka juga menjadi agen perubahan untuk menangkal kejahatan siber." katanya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi penekanan komitmen Komisi X DPR RI. Bahwa, hasil-hasil riset nasional tidak boleh sekadar menjadi tumpukan dokumen, melainkan harus diaktualisasikan dan ditransformasikan menjadi solusi nyata yang bermanfaat langsung bagi masyarakat luas. Generasi muda kini memegang kunci untuk memastikan AI menjadi katalisator kemajuan, bukan sumber malapetaka digital.
Pewarta : Kacuk Legowo








