Ilustrasi. (Goldfaery/iStock)
Klikwarta.com - Pagi itu berjalan seperti biasa. Aku bangun, berpakaian, merias wajah, memakai sepatu, dan berangkat ke kampus. Tidak ada yang istimewa. Namun siapa sangka, hari itu akan memberi pelajaran penting bagaimana budi pekerti berperan dalam hidupku.
Seperti biasa, aku berjalan menuju halte. Bus menjemputku, tapi tidak mengantarku sampai tujuan. Sisanya kulanjutkan dengan berjalan kaki, lalu menaiki beberapa anak tangga menuju kelas. Rutinitas itu cukup melelahkan, tapi sudah menjadi bagian dari hari-hariku.
Aku datang terlambat. Kelas pertamaku, Penyunting Berita 1 sudah dimulai. Untungnya, aku masih bisa mengikuti sebagian materi. Sekitar pukul 11.00, kelas selesai. Tapi hari itu belum berakhir, masih ada jadwal kelas berikutnya, Penulisan Laporan yang akan dimulai pukul 14.00.
Tiga jam. Sebuah jeda panjang, terlalu panjang hanya untuk menunggu. Itulah yang mulai dirasakan teman-temanku. Aku bisa merasakan energi itu. Beberapa mulai mengeluh, ada yang mengusulkan untuk mengubah kelas kedua menjadi kelas daring.
Ketua kelas kami mencoba menyampaikan aspirasi itu ke Pak Eko, dosen mata kuliah Penulisan Laporan, tapi tidak ada kepastian jawaban. Lalu, ada yang mulai bersuara, “Ayo pulang aja.” Biasanya, itu hanya sekadar ucapan. Tapi siang itu berbeda. Beberapa temanku benar-benar memutuskan untuk pulang. Sebagian yang melihatnya mulai memberi tahu yang lain dan bertanya, “Kamu pulang gak?”
Awalnya satu-dua orang, lalu seperti penyakit menular, beberapa lainnya juga memutuskan untuk pulang. Tapi aku dan empat temanku tetap bertahan. Kami tahu, meskipun ada kemungkinan kelas daring, kelas aslinya dijadwalkan luring. Walaupun, jauh di lubuk hati, kami juga ingin pulang.
Ternyata bukan hanya kami, ada tujuh teman lain yang juga bertahan. Kami tetap menunggu, dengan harapan yang tidak sepenuhnya utuh, tapi cukup untuk menahan langkah kaki agar tidak ikut pulang. Arah jarum jam hampir menunjukan pukul 14.00, kami baru mendapat jawaban, kelas akan dilakukan secara daring.
Sudah terlambat jika memutuskan untuk pulang, kemungkinan besar kelasnya akan mulai di tengah perjalanan. Kami memilih tetap di kampus. Ketika Pak Eko mengetahui masih ada dua belas dari dua puluh tujuh mahasiswa di kampus, beliau memutuskan tetap mengajar secara langsung. Beliau juga mengizinkan mereka yang sudah pulang untuk mengikuti kelas secara daring.
Aku merasa itu tidak adil. Mengapa yang bertahan di kampus, menunggu dengan sabar, harus berbagi ruang perkuliahan dengan mereka yang memilih pulang? Namun, Pak Eko berkata, “Semua mahasiswa punya hak yang sama untuk belajar.” Sebatas yang kuingat.
Pak Eko menegaskan, agar tetap adil, yang dianggap hadir penuh hanyalah mereka yang benar-benar mengikuti perkuliahan di kelas. Keputusan itu cukup bijak. Beliau tidak menghukum, tapi tetap menegakkan keadilan.
Bagiku, hari itu, bukan hanya hari ketika sebagian mahasiswa memilih pulang lebih awal. Hari itu menjadi titik refleksi tentang bagaimana aku bersikap dalam ketidakpastian, bagaimana aku menghargai orang lain, dan bagaimana nilai budi pekerti yang kupegang mengambil peran dalam hal ini.
Dua belas orang yang bertahan, mungkin tidak mendapatkan keistimewaan lebih. Namun, mendapatkan pelajaran bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal hadir, tapi juga menghargai prosesnya. Di situlah letak pentingnya budi pekerti dalam pendidikan, bukan hanya soal etika pribadi, tapi juga kontribusi nyata terhadap suasana belajar yang saling menghargai.
Ditulis oleh Titin Sahra Melani, mahasiswa program studi Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta.
Sumber : Pengalaman pribadi penulis.








