Foto Politeknik Negeri Jakarta
Oleh : Salma Anisa Afriani (Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta)
Klikwarta.com - “Kalau hanya sedikit yang datang tepat waktu, maka saya akan mengajar untuk yang sudah ada di lab saja.” Begitu ucapan Pak Sulis, dosen mata kuliah Desain Grafis di Politeknik Negeri Jakarta, saat membuka kelas pukul 10.00 pagi. Ia tidak pernah menunda, tidak pernah menunggu. Tapi kerap kecewa. Bangku masih kosong, suara langkah tergesa baru terdengar 15-30 menit setelahnya.
Pemandangan itu bukan sekali dua kali terjadi. Setiap pekan, kelas yang seharusnya dimulai dengan semangat justru berjalan pincang. Pak Sulis tetap mengajar, berdiri di depan proyektor sambil menjelaskan materi kepada mereka yang hadir tepat waktu, meski hanya segelintir. Yang lain, masih sibuk menyimapkan laptop, mendownload materi, atau menguap sambil mencari tempat duduk.
Mata kuliah Desain Grafis seharusnya menjadi ruang penuh warna, ide, dan kreativitas. Tapi keterlambatan telah memudarkan semangat itu. Dalam dua minggu terakhir saja, dari total 27 mahasiswa yang terdaftar, hanya kurang dari setengahnya yang benar-benar hadir tepat waktu. Sisanya? Datang berombongan lewat dari 30 menit, bahkan ada yang baru masuk ketika sudah pindah materi.
“Bukan soal keterlambatan semata,” ujar Pak Sulis saat ditemui usai mengajar. “Tapi soal sikap. Kalau dari hal kecil seperti waktu saja sudah longgar, bagaimana mereka nanti bisa bertanggung jawab di industri kreatif yang sangat disiplin?”
Budi pekerti seringkali dipersempit maknanya hanya sebagai sopan santun verbal, seperti mengucap salam atau permisi. Padahal, ia lebih dalam dari itu. Ia menyangkut kesadaran menghargai waktu, menghormati orang yang sedang mengajar, dan bertanggung jawab atas proses belajar yang sedang dijalani.
Aji, mahasiswa tingkat empat, dulunya salah satu yang sering terlambat. “Awalnya biasa saja, mikir dosen pasti paham lah,” katanya. Tapi satu kalimat Pak Sulis mengubah cara pandangnya: “Kamu kreatif, tapi tak disiplin. Dunia industri tidak sabar menunggu.” Sejak saat itu, Aji memilih mengubah kebiasaannya. Kini ia datang 15 menit lebih awal, bahkan membantu menyiapkan proyektor.
Kisah Aji bukan satu-satunya. Sejumlah mahasiswa mulai menyadari bahwa kepercayaan dosen dibangun dari hal-hal kecil. Kehadiran tepat waktu, mendengarkan dengan serius, bahkan sekadar mengangguk sebagai tanda paham, semuanya adalah bentuk budi pekerti dalam dunia akademik.
Beberapa dosen lain mulai menyesuaikan metode. Ada yang menetapkan sesi refleksi lima menit sebelum kelas berakhir, khusus membahas etika dan tanggung jawab. Ada juga yang menerapkan sistem absen berbasis waktu digital, di mana kehadiran mahasiswa yang telat otomatis tercatat dan memengaruhi penilaian partisipasi.
Langkah-langkah ini bukan untuk menghukum, melainkan untuk menanamkan nilai. Bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga membentuk sikap dan karakter.
Di era serba cepat ini, waktu adalah sumber daya yang tak tergantikan. Terlambat lima menit hari ini, mungkin berarti kehilangan peluang besar esok hari. Dan kampus adalah tempat terbaik untuk belajar menghargai setiap detiknya. Karena ketika dosen mulai mengajar dan mahasiswa belum datang, bukan hanya ilmu yang tertinggal, tetapi juga rasa hormat yang perlahan hilang.








