Mesin Cetak Paving Bumdes Pojokwatu Senilai Ratusan Juta Dari Dana Desa 2021 Dibiarkan Rusak dan Mangkrak

Jumat, 01/04/2022 - 08:35
Mesin pencetak paving Bumdes Pojokwatu yang dibeli dari Dana Desa 2021 senilai Rp180 juta dibiarkan rusak dan mangkrak tidak diperbaiki.

Mesin pencetak paving Bumdes Pojokwatu yang dibeli dari Dana Desa 2021 senilai Rp180 juta dibiarkan rusak dan mangkrak tidak diperbaiki.

Blora, Klikwarta.com - Mesin pencetak paving yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Pojokwatu, kecamatan Sambong, kabupaten Blora, Jawa Tengah kondisinya dibiarkan rusak dan terbengkalai. Padahal mesin tersebut baru dibeli dari Dana Desa tahun 2021 senilai Rp 180 juta dan hanya sekali dipakai.

"Mesinnya terbengkalai. Saat itu diujicoba pertama kali berhasil mencetak sepuluh biji paving. Selanjutnya saat hendak mencetak yang kedua kalinya stik penyeimbang hidrolisnya patah karena gak kuat menahan beban," ujar Rustam warga desa Pojokwatu, Kamis (31/3/2022) kemarin.

A

Saat ini mesin tersebut hanya dibiarkan mangkrak tanpa ada perbaikan oleh pihak Bumdes Pojokwatu. Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak bisa  menggunakan mesin sehingga program pemberdayaan masyarakat desa Pojokwatu berhenti karena tidak ada kegiatan pembuatan paving.

Kasie Pembangunan kecamatan Sambong Slamet Riyanto mengklaim bahwa saat mesin rusak, kepala desa Pojokwatu, ketua Bumdes dan penjual mesin sudah dipanggil ke kecamatan.

"Saat itu kata penjualnya mengaku sudah bangkrut dan sudah tidak punya uang untuk menalangi perbaikan mesin itu," ujar Slamet, Kamis (31/3/2022).

Ketika ditanya garansi mesin dan jumlah anggaran untuk pembelian mesin, lanjut Slamet, pihaknya tidak banyak tahu.

"Saya gak tahu (garansi-red). Tapi belinya di Mas Kris warga desa kecamatan Sambong. Untuk anggaran pembelian mesin saya lupa dan harus membuka dulu datanya," ujar Slamet.

Sementara itu Suntoko ketua Bumdes Pojokwatu mengungkapkan, saat dirinya menjabat ketua Bumdes mengganti ketua Bumdes lama yang meninggal dunia, mesin itu sudah ada. 

"Jadi waktu diforum saya dipaksa menjadi ketua. Karena tidak ada yang mau menjadi ketua," ujar Suntoko.

Lebih lanjut Suntoko mengungkapkan, pihaknya belum tahu kelanjutannya terkait mesin tersebut karena harus musyawarah dulu dengan pemerintah desa.

"Kelanjutannya belum tahu. Karena baru ditrail sudah rusak. Dan jika dilanjutkan perlu penyertaan modal untuk maintenance. Sedangkan penjualnya tidak sanggup.
Kita rembugan dulu dengan pihak desa. Karena penjualnya sudah tidak sanggup memperbaiki," ujar Suntoko.

(Pewarta: Fajar)

Berita Terkait