(Sumber foto: https://id.pinterest.com/pin/432204895501632544/)
Oleh : Aisha Oktaviadini (Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta )
Gagal merupakan sebuah hal yang lumrah terjadi dalam hidup kita, tak terkecuali saya sendiri. Hal yang paling berat terjadi dalam hidup saya, yaitu gagal.
Apakah kamu berhasil menerima apa yang terjadi dalam hidupmu, seperti gagal? Setiap orang pernah merasakan hal itu, gagal bukan menjadi akhir perjalanan. Namun kita harus melanjutkan hidup untuk menjadi lebih baik lagi, tuhan selalu menggariskan sesuatu yang tidak terduga kepada kita dan terus untuk berusaha.
Saya sendiri yang mengalami hal tersebut, saat itu usia yang semakin bertambah dan ingin semuanya berjalan lurus kedepan. Namun, saat itu saya tidak memahami hal tersebut dan egois terhadap diri sendiri. Saya menganggap semua yang sudah dilakukan harus memiliki hasil yang maksimal, namun apa daya takdir Tuhan berkata lain.
Usaha serta doa selalu saya lakukan untuk mencapai hal itu, tetapi Tuhan berkata lain bahwa sesuatu yang saya impikan tersebut harus gagal. Saat itu, saya ingin sekali masuk diterima kampus impian. Semua siswa pasti ingin mendapatkan dengan segala cara, mulai dari belajar sendiri, hingga bimbingan bersama pakar yang ahli dibidangnya.
Hingga harus mengeluarkan uang demi masuk ke perguruan ternanama. Saat itu, saya hanya belajar sendiri melalui platform online sampai berlarut malam demi menggapai mimpi yang sudah saya tanamkan semenjak bangku SMA. Memasuki bulan dimana seluruh siswa mendaftarkan dirinya untuk masuk perguruan tinggi ternama, harapan serta doa yang tak hentinya dari para calon mahasiswa.
Setelah pendaftaran diselesaikan, rasanya sedih dan takut jika hasilnya tidak sesuai denga apa yang saya pikirkan. Dukungan dari teman-teman dan keluarga yang selalu ada disetiap langkah saya dalam mencapai itu. Selalu yakin dan percaya, bahwa setiap proses memiliki artinya sendiri. Tidak hanya sampai disitu, proses yang saya lakukan masih panjang dan masih ada harapan yang nantinya menjadi kenyataan.
Sebuah tantangan besar yang harus saya lakukan dengan pesaing dari seluruh Indonesia, mereka dengan latar belakang pendidikan dan kemampuan yang berbeda. Saya selalu menanamkan dalam diri saya, bahwa untuk mencapai apa yang kita impian tidak semudah membalikan telapak tangan. Mereka yang selalu berhasil itu harus rela mengorbankan waktunya.
Setiap hari selalu memikirkan masa depan yang terjadi pada diri saya, rasa takut dan kecewa sudah sepantasnya wajar terjadi dalam diri masing-masing. Namun, rasa takut tersebut justru menganggu aktivitas sehari- hari. Hingga saya harus berkonsultasi kepada professional untuk mengatasi masalah yang berlebihan pada diri saya.
Psikolog tersebut mengatakan bahwa kita harus menamkan pikiran yang positif. Bahwa kita bisa menggapai hal tersebut walaupun jalannya berbeda. Selalu meminta dukungan dari orang-orang terdekat dan bersyukur terhadap proses ini. Ketika saya berkonsultasi dengan psikolog tersebut, saya bisa berlajar bahwa semua yang kita lakukan harus dimulai dari pikiran positif.
Hari dimana saya harus melewati seleksi masuk perguruan tinggi pun dimulai, ketika saya menuju tempat ujian ada bapak- bapak yang bertanya kepada saya, “Neng ujian masuk ptn disini ya?” Saya pun menjawab pertanyaan yang diberikan, “Iya pak benar” bapak itu lantas mengatakan, “Semoga neng lancar ujiannya dan bisa diterima ya.” Rasanya mendengar percakapan itu ingin menangis.
Ternyata, masih banyak orang yang mendoakan saya sampai diruang ujian saya pun duduk sesuai dengan nomor pendaftaran yang sudah tertera. Jantung ini berdetak semakin kencang karena perasaan cemas terhadap soal yang diberikan, ketika mengakses link tersebut saya pun kaget. Ternyata, soal-soal tersebut cukup berbeda dari yang dipelajari.
Namun, hal itu tidak membuat saya putus asa. Saya pun tetap melanjutkan untuk mengisi soal-soal tersebut. Setelah proses itu selesai, saya pun keluar dari ruang ujian dengan perasaan yang cukup lega. Karena, sudah berhasil melewati tahapan ini dan memberikan self reward kepada diri saya. Sesampainya di rumah, saya langsung beristirahat, karena masih harus belajar untuk mempersiapakan ujian mandiri bila ini tidak diterima.
Saya mengakses setiap link yang ada di media sosial perguruan tinggi tersebut untuk bisa mencapai itu, biaya yang ditawarkan masing-masing perguruan tinggi pun berbeda saya mendaftarkan di lima perguruan tinggi impian dan jurusan yang saya inginkan sejak dulu. Saya bercita-cita untuk menjadi seorang jurnalis karena melihat role model saya, yaitu Najwa Shihab.
Sampai akhirnya di bulan Juni menjadi hal yang menakutkan bagi saya, karena itu merupakan pengumuman masuk perguruan tinggi. Saya pun membuka laptop dan mengakses link tersebut, dan hasil yang saya khawatirkan terjadi. Saya gagal masuk di perguruan tinggi impian saya. Rasanya sedih, kecewa dan kesal terhadap diri sendiri.
Terlintas dipikiran mengapa saya harus mendapatkan kegagalan ini? Apakah yang sudah dilakukan belum cukup untuk menggapai hal ini? Teman saya pun menanyakan hal tersebut dan ia berbicara, bahwa tidak apa-apa ini hanya permulaan awal, kesempatan kamu masih banyak Tuhan tidak pernah tidur dan mengetahui seberapa jauh kemampuan dan usahamu.
Perkataan yang selalu saya ingat dari teman saya, membuat diri ini akan selalu berusaha. Impian menjadi seorang jurnalis bukan berhenti sampai disana saja, semua jalur mandiri pun sudah didaftarkan hingga menunggu jadwal untuk tes kedua kalinya. Saya melihat pengumuman di media sosial banyaknya yang lolos di perguran tinggi impian mereka, rasanya masih sedih mengingat yang terjadi kemarin.
Saya pun mendapatkan jadwal ujian masuk mandiri di Universitas Indonesia, impian kampus banyak orang untuk bisa berkuliah disini. Saya pun akhirnya melaksanakan ujian tersebut dilaksanakan secara online, dengan kamera yang ada di website tersebut untuk memantau aktivitas, terdapat beberapa mata pelajaran yang diujikan.
Dalam ujian tersebut, banyaknya soal yang belum dipelajari dan saya pun berpikir belum memiliki kapabilitas yang baik untuk mendapatkan hal itu. Setelah menyelasaikan ujian itu, saya diberikan makanan dari sahabat saya dengan tulisan, “semangat untuk simaknya ya.” Rasanya itu menjadi sebuah penyemangat saya untuk melakukannya lagi.
Hal yang saya rasakan lagi terjadi, saya gagal masuk di perguruan tinggi impian itu, tetapi masih ada kesempatan terakhir untuk daftar ujian mandiri. Sya pun daftar ujian mandiri di Politeknik Negeri Jakarta, dengan mengambil program studi penerbitan (Junalistik). Prodi impian saya untuk bisa belajar lebih dalam lagi mengenai bidang jurnalistik.
Tepat dibulan Agustus menjadi suatu kebanggan saya untuk bisa masuk di perguruan tinggi dengan pilihan terakhir, sebelumnya saya juga tidak mengharapkan apapun karena masih dengan keadaan trauma akibat kegagalan yang saya lewati kemarin. Disana merasa bangga terhadap hasil usaha yang sudah dilakukan serta doa dan dukungan dari orang terdekat.
Saya belajar bahwa kegagalan yang sering kali dianggap negatif bisa membawa pelajaran hidup yang sangat berarti, kegagalan itu mengajarkan bahwa setiap individu memiliki kesampatan yang sudah digariskan oleh Tuhan. Walaupun usaha yang sudah dilakukan tapi takdir Tuhan berkata lain, kita sebagai manusia bisa apa? Maka teruslah belajar untuk memperbaiki itu.








