Mulut Kecil Kata Kasar Bukti Budi Pekerti Mulai Terabaikan

Sabtu, 17/05/2025 - 14:53
ilustrasi.

ilustrasi.

Oleh: Khaalish Azzah Luthfiyyah, mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta.

“Diam lu, bodoh!”

Ucapan itu keluar dari mulut seorang anak kelas 4 SD. Suaranya lantang, ekspresinya polos, tapi kata-katanya tajam. Ia melontarkannya ke temannya sendiri di tengah jam istirahat. Tak ada raut bersalah setelahnya, seolah kalimat itu sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari. Fenomena ini tak lagi mengejutkan. Banyak guru dan orang tua menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak kini fasih berkata kasar, bahkan lebih lancar daripada menyapa dengan sopan.

Di sebuah sekolah dasar negeri di Depok, seorang guru perempuan menahan napas. Ia melihat seorang murid memaki temannya hanya karena kalah saat bermain. Bukannya minta maaf, anak itu justru menantang balik ketika ditegur. “Bapak gue aja biasa ngomong gitu,” katanya ringan. Kalimat sederhana itu seperti cermin: anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar, bukan dari ceramah panjang yang tak memberi contoh nyata.

Budi pekerti perlahan menjadi pelajaran pinggiran. Ia ada dalam kurikulum, tapi sering tertinggal di praktik. Di rumah, anak-anak menonton konten penuh umpatan. Di sekolah, mereka kadang melihat orang dewasa memarahi tanpa adab. Lalu kita bertanya, mengapa anak-anak mudah berkata kasar? Jawabannya seringkali tak jauh-jauh dari orang tua, guru, dan lingkungan terdekat mereka.

Anak tidak tumbuh hanya dari buku teks. Mereka menyerap emosi, meniru nada bicara, dan mencontoh sikap orang dewasa. Jika di rumah kata “bodoh” digunakan saat marah, maka tak butuh waktu lama sampai anak menggunakannya pada temannya. Jika di sekolah ucapan keras dianggap biasa, maka kata kasar bukan lagi penyimpangan—melainkan norma baru.

Saat anak-anak terbiasa melontarkan caci maki, yang terluka bukan hanya telinga yang mendengar, tapi juga empati yang terkikis. Mereka mungkin tetap mendapat nilai bagus, tapi kehilangan kemampuan dasar sebagai manusia: menghargai orang lain. Ketika kata-kata tak lagi dijaga, hubungan antarmanusia jadi mudah rusak, bahkan sejak usia dini.

Pendidikan bukan hanya soal angka dan prestasi. Ia adalah proses menanamkan nilai, sikap, dan akhlak. Dan itu dimulai dari hal sederhana: tutur kata. Mengajari anak berbicara dengan santun bukan tugas sepele. Ia adalah bagian dari perjuangan membentuk generasi yang tak hanya cerdas, tapi juga beradab. Jika kita ingin anak-anak kita menjadi pribadi yang utuh, maka kita harus mulai dari mulut mereka—dari setiap kata yang mereka ucapkan.(*)

Tags

Berita Terkait