(Sumber foto: https://terapimenulis.com/)
Oleh: Nabila Febriyanti
“Aku bukan nggak mau ngomong. Tapi aku tahu, kalau aku ngomong dalam keadaan marah, aku bisa nyakitin.”
— Azni Hardi
Azni tidak membanting pintu. Tidak mengangkat suara. Tidak menangis di depan orang. Tapi yang dilakukan Azni, diam. Ia memilih tidak membalas pesan, tidak menanggapi obrolan, bahkan tidak menatap wajah orang yang membuatnya kesal. Bukan karena tidak peduli. Justru sebaliknya, karena ia terlalu banyak yang dirasa dan tak tahu bagaimana harus mengungkapnya.
Fenomena “silent treatment”, atau membungkam dalam interaksi, menjadi sorotan dalam banyak studi psikologi komunikasi dan hubungan interpersonal. Meski terlihat tenang, diam bisa menyimpan badai. Di balik ketenangannya, tersimpan ketidaknyamanan, kekecewaan, dan kadang rasa sakit hati yang dalam.
Fakta Psikologis: Diam Bisa Menjadi Senjata Pasif
Menurut American Psychological Association (APA), silent treatment merupakan bentuk perilaku pasif-agresif yang sering digunakan sebagai mekanisme pertahanan diri. Orang yang melakukannya merasa kehilangan kontrol atas situasi atau emosinya, sehingga memilih “diam” sebagai cara paling aman atau paling menyakitkan.
Sebuah studi dari Journal of Social and Personal Relationships (2014) menyebutkan bahwa pasangan atau teman dekat yang sering menggunakan silent treatment cenderung memiliki tingkat kepuasan hubungan yang lebih rendah. Diam bukan hanya tak menyelesaikan konflik, tapi menunda bahkan memperkeruh masalah.
Azni: “Aku Diam Supaya Aku Nggak Menyakiti”
Dalam kehidupan sehari-hari, Azni bekerja sebagai Barista di sebuah Cafe di Jakarta. Ia dikenal ramah dan cekatan, tapi kepada orang terdekatnya, terutama pasangan dan sahabat. Azni pernah beberapa kali memilih untuk tidak bicara saat merasa terluka.
"Awalnya, aku pikir itu udah cara yang paling dewasa. Kalau aku ngomong pas emosi, takutnya malah makin runyam. Tapi ternyata diamku itu bikin orang lain juga bingung dan ngerasa diabaikan," ujar Azni.
Ia mengaku sadar bahwa silent treatment yang ia lakukan sering membuat konflik justru bertambah rumit. Orang lain tidak tahu apa salahnya, dan ia pun merasa semakin tidak mengerti. Di sela-sela kesibukannya meracik kopi di cafe, ia selalu meluangkan waktunya untuk mendengar suatu podcast tentang persoalan hidup dan cinta. Sejak itu, ia pelan-pelan belajar mengenali emosinya dan mencoba mengekspresikannya dengan cara yang lebih sehat.
Psikolog klinis Liza Marielly Djaprie menyebutkan bahwa banyak orang dewasa muda di Indonesia tumbuh dengan narasi "jangan lebay", "jangan cengeng", atau "kalau marah itu disimpan aja". Akibatnya, banyak yang kesulitan mengungkapkan perasaannya sendiri.
“Seringkali orang yang melakukan silent treatment bukan karena tidak bisa komunikasi, atau bukan punya isu dengan clarity, tapi karena dia sudah tidak tau komunikasi dengan pihak yang satu,” ujar Liza dalam unggahan sosial medianya.
Belajar Bicara dengan Emosi
Kecerdasan emosional (emotional intelligence) bukan hanya tentang bisa menahan marah. Tapi tentang mampu menyadari, memahami, dan mengelola emosi dengan cara yang membangun, bukan merusak. Dikutip dalam situs ALODOKTER, menyebutkan lima aspek penting kecerdasan emosional: kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial.
Bagi Azni, perjalanan mengenal emosinya tidak instan. Ia belajar bahwa berkata, "Aku butuh waktu dulu," jauh lebih baik daripada menghilang tanpa penjelasan.
Diam yang Sehat, Diam yang Menyakiti
Tidak semua diam itu buruk. Ada diam yang lahir dari refleksi, dari usaha menenangkan diri. Tapi jika diam dijadikan senjata untuk mengontrol orang lain, untuk membuat mereka merasa bersalah atau bingung, maka diam berubah menjadi bentuk kekerasan emosional yang halus.
“Silent treatment bukan solusi. Kalau memang perlu waktu, beri tahu. Kalau sedang marah, akui. Kalau merasa sakit hati, sampaikan. Emosi bukan untuk ditahan sampai meledak, tapi untuk dipahami dan disalurkan,” Ujar Liza.
Azni masih terus belajar mengerti dirinya sendiri. Tapi sekarang, dia paham kalau diam itu tidak selalu jadi pilihan paling bijak. Kadang, berbicara meski pelan dan sambil gemetar itu justru bisa bikin hati lebih tenang.
Kadang kita memilih diam karena takut salah ngomong atau bikin keadaan makin runyam. Tapi seperti yang dialami Azni, terlalu sering memendam justru membuat hubungan jadi semakin rumit. Kecerdasan emosional bukan soal menahan marah terus-menerus, tapi soal belajar mengerti perasaan sendiri dan berani menyampaikannya. Karena tidak semua masalah bisa selesai cuma dengan diam, kadang satu kalimat jujur bisa jauh lebih menenangkan. (*)








