Diskusi Publik Pokja Wartawan Indrapura dengan tema Memperkuat Kolaborasi BUMD Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah dan UMKM Jawa Timur yang digelar di Ruang Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Jawa Timur, Selasa (30/6/2026)
Klikwarta.com, Jawa Timur - Penguatan kolaborasi antar Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) disebut sebagai faktor penting untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur.
Hal itu mengemuka dalam Diskusi Publik Pokja Wartawan Indrapura dengan tema Memperkuat Kolaborasi BUMD Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah dan UMKM Jawa Timur yang digelar di Ruang Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Jawa Timur, Selasa (30/6/2026).
Direktur Pemasaran Bank UMKM Jawa Timur, Agung Soeprihatmanto, memaparkan bahwa Bank UMKM Jatim konsisten menguatkan perannya sebagai bank yang memfokuskan pembiayaan pada sektor UMKM.
“Sampai saat ini perseroan memiliki modal sekitar Rp442 miliar. Pemegang saham terbesar adalah Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan porsi kepemilikan 85,20 persen,” jelasnya.
Agung menambahkan, Bank UMKM Jatim saat ini telah memiliki jaringan 32 kantor cabang, 132 kantor kas, dan lebih dari 1.100 karyawan. Selain memperluas jangkauan layanan keuangan yang inklusif, Bank UMKM juga menjalin kerja sama dengan sejumlah BUMD lain, pemerintah daerah, serta lembaga keuangan melalui skema penempatan dana, penyaluran kredit, hingga digitalisasi layanan.
“Kolaborasi bersama Jamkrida Jatim menjadi salah satu pilar penting untuk memperluas akses pembiayaan UMKM. Dengan begitu dapat terbentuk ekosistem pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan,” terangnya.
Di sisi lain, Assistant Vice President Investor Relations Bank Jatim, Derry Widya Ariyanta, menyampaikan bahwa Bank Jatim menargetkan posisi sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD) terbaik di Indonesia. Target tersebut akan ditempuh melalui transformasi berbasis lima pilar utama, yaitu penguatan tata kelola dan manajemen risiko, optimalisasi ekosistem bisnis, pengembangan SDM, transformasi digital, serta penguatan kelembagaan.
Ia juga mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang masih di atas rata-rata nasional membuktikan UMKM tetap menjadi penopang utama perekonomian daerah. Karena itu, sektor ini membutuhkan dukungan pembiayaan yang semakin besar.
“Sinergi antara Bank Jatim, Bank UMKM, dan Jamkrida Jatim merupakan bagian dari strategi memperkuat pembiayaan UMKM sekaligus mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” ucapnya.
Sejalan dengan itu, Direktur PT Jamkrida Jatim, Untung Heri Sukariyanto, menegaskan bahwa lembaga penjaminan memiliki fungsi strategis. Perannya membantu UMKM yang belum memiliki agunan cukup agar tetap bisa mengakses kredit dari perbankan.
Melalui skema penjaminan kredit, Jamkrida Jatim memberikan jaminan hingga maksimal 75 persen dari total nilai kredit sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Dengan skema ini, pelaku UMKM yang usahanya layak tetapi memiliki keterbatasan agunan masih bisa mendapatkan kesempatan pembiayaan,” ujarnya.
Pada forum tersebut, Jamkrida Jatim juga menyampaikan rencana peningkatan permodalan melalui penyertaan modal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Saat ini modal dasar perusahaan tercatat Rp600 miliar, sedangkan modal disetor dari pemprov baru sebesar Rp180 miliar.
“Jika mendapat tambahan penyertaan modal sebesar Rp100 miliar, kapasitas penjaminan Jamkrida Jatim diproyeksikan naik sampai Rp4 triliun. Potensinya bisa menjangkau sekitar 106.667 pelaku UMKM dan menyerap sekitar 320 ribu tenaga kerja,” jelasnya.
Selain untuk memperkuat struktur permodalan dan menjaga rasio penjaminan sesuai ketentuan OJK, penambahan modal itu juga membuka ruang ekspansi wilayah operasional Jamkrida Jatim hingga cakupan nasional.
“Penjaminan akan diprioritaskan pada sektor-sektor produktif, mencakup pertanian, industri, peternakan, perkebunan, serta perdagangan dan jasa. Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” pungkasnya. (**)








