Tujuh Perguruan Silat Bersatu di Kartasura, Tradisi dan Kerukunan Jadi Sorotan

Sabtu, 10/10/2026 - 13:23
Tujuh Perguruan Silat Bersatu di Kartasura

Tujuh Perguruan Silat Bersatu di Kartasura

Klikwarta.com, Sukoharjo - Pencak silat tidak hanya berbicara tentang jurus dan kemampuan bela diri, tetapi juga tentang nilai persaudaraan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama. Pesan tersebut mengemuka dalam sarasehan bertajuk Silat Lintas Jaman pada rangkaian Ambal Warsa ke-346 Kartasura, Jumat malam (9/10/2026).

Bertempat di panggung utama Pagelaran Budaya Ambal Warsa, kawasan depan Benteng Kartasura, kegiatan ini mempertemukan perwakilan tujuh perguruan pencak silat untuk membahas sejarah, filosofi, serta tantangan pelestarian pencak silat di tengah perkembangan zaman.

Forum tersebut menjadi bagian dari Festival Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif Kartasura (FESTRA) 2026. Melalui pertemuan lintas perguruan, pencak silat ditempatkan bukan semata-mata sebagai seni bela diri, melainkan juga sebagai warisan budaya yang memiliki peran dalam pembentukan karakter generasi muda.

Menggali sejarah dan filosofi perguruan

Tujuh perguruan yang berpartisipasi meliputi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Kartasura, Perisai Diri Ranting Kartasura, Tapak Suci Putera Muhammadiyah Cabang Kartasura, PSH Pilangbango Damar Kurung Sumunar Kartasura, IKSPI Kera Sakti Ranting Kartasura, Pagar Nusa UIN Raden Mas Said Surakarta, dan Persaudaraan Rumpun Setia Hati (PRSH).

Sarasehan turut menghadirkan perwakilan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sukoharjo, Punjung, serta penanggap H. Bagus Sigit Setiawan, M.M. Jalannya diskusi dipandu oleh Arif dan Aswin.

Acara diawali dengan prosesi kirab bendera Merah Putih, dilanjutkan penyematan pataka berlambang tujuh perguruan dan penampilan gerakan pembuka dari masing-masing perguruan.

Setelah itu, para perwakilan mengikuti dialog yang membahas perjalanan organisasi, makna lambang perguruan, nilai-nilai yang diajarkan kepada anggota, serta cara mempertahankan tradisi pencak silat di tengah perubahan sosial dan teknologi.

Pembahasan juga mengarah pada tantangan pembinaan generasi muda. Perkembangan teknologi digital membuka ruang baru bagi penyebaran informasi dan pengenalan pencak silat, tetapi nilai-nilai luhur yang menyertainya tetap membutuhkan keteladanan serta pembinaan langsung.

.

Persaudaraan sebagai bagian dari pendidikan karakter

Salah satu pesan yang terlihat dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya membangun hubungan baik di antara perguruan yang memiliki identitas dan tradisi berbeda.

Interaksi antara IKSPI Kera Sakti Kartasura dan PSH Pilangbango Damar Kurung Sumunar menjadi salah satu contoh keakraban yang hadir di tengah acara. Perwakilan kedua perguruan tampak berkomunikasi dalam suasana santai dan diselingi humor.

Ketua IKSPI Kartasura, Tulus Joko W., mengapresiasi sikap yang ditunjukkan PSH Pilangbango. Ia berharap hubungan baik tersebut dapat terus terjaga dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.

“Kami terkesan dengan sikap yang ditunjukkan oleh PSH Pilangbango, santun dan unik. Saudara saya yang satu ini juga penuh humor. Semoga kami IKSPI dan PSH Pilangbango terus kompak bersatu untuk keamanan dan ketertiban Kartasura,” ujar Tulus.

Sementara itu, Ketua Cabang PSH Pilangbango Sukoharjo, Bobi Jatmiko, menilai kerukunan harus dibangun dari kesadaran setiap individu untuk menghormati orang lain dan menghindari sikap merasa paling unggul.

“IKSPI, saudara saya yang satu ini, sangat energik dan penuh humor, namun sangat terbuka dalam menyikapi perbedaan. Apalagi Ketua IKSPI Kartasura, meskipun konyol, tapi baik hati,” ungkap Bobi.

Pernyataan keduanya menggambarkan hubungan personal yang akrab di antara perwakilan dua perguruan. Dalam kehidupan organisasi, hubungan semacam ini dapat menjadi modal sosial untuk memperluas komunikasi dan membangun kerja sama lintas perguruan.

Meski demikian, kerukunan tidak cukup hanya ditunjukkan dalam satu kegiatan. Konsistensi sikap saling menghormati, komunikasi antarpengurus, dan pembinaan anggota tetap menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan baik di masyarakat.

Menjaga tradisi agar tetap relevan

Selain dialog, acara juga diselingi atraksi yang menampilkan teknik gerak khas dari masing-masing perguruan. Pertunjukan tersebut memperlihatkan keberagaman tradisi dan karakter gerakan dalam pencak silat.

Perpaduan sarasehan dan atraksi memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal pencak silat dari dua sisi, yakni sebagai seni pertunjukan dan sebagai tradisi yang memuat nilai pendidikan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan generasi muda tidak hanya mengenal pencak silat dari sisi teknik dan prestasi, tetapi juga memahami tanggung jawab yang menyertainya. Disiplin, pengendalian emosi, penghormatan kepada pelatih, dan sikap menghargai sesama merupakan nilai yang perlu berjalan bersama kemampuan bela diri.

Dalam konteks tersebut, pertemuan lintas perguruan dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat pemahaman bahwa perbedaan aliran maupun identitas organisasi tidak harus menghalangi kerja sama.

Rangkaian Ambal Warsa ke-346 Kartasura yang dikemas melalui FESTRA 2026 menjadi ruang perjumpaan seni, budaya, dan masyarakat. Kehadiran agenda *Silat Lintas Jaman* menambah dimensi kegiatan tersebut dengan menghadirkan tradisi pencak silat sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.

Pada akhirnya, keberlanjutan pencak silat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan jurus dan tradisi latihan, tetapi juga oleh keberhasilan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.

Dari Kartasura, pesan yang mengemuka adalah bahwa pelestarian budaya dan pembangunan kerukunan dapat berjalan bersama ketika perbedaan disikapi dengan saling menghormati dan tanggung jawab sosial.

(Kontributor : Widyo)

Berita Terkait